oleh

Kisah Bambang Widiatmoko, Pencipta Alat Pendeteksi Tsunami lewat Cahaya

Paling Murah dari Buoy dan Aman dari Pencurian

Lewat tangan dinginnya, Bambang Widiatmiko membuat sebuah alat pendeteksi tsunami yang murah dan mudah dirakit. Alat ini akan mengirim sinyal deteksi lebih cepat lewat ketimbang buoy tsunami. Mitgasi pun bisa cepat dilakukan.

KHANIF LUTFI – Tangerang Selatan

Mimik wajah Bambang Widiatmoko terlihat serius. Tangannya terlihat mengotak-atik sesuatu di laboratorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Serpong, Kota Tangsel, Banten. Di depannya, ada sejumlah barang seperti kabel 12 mikron, lampu led dan kabel. Di sisi lain, ada juga perkakas seperti tang, obeng dan gunting. Ya, Pak Wid-begitu sapaan akrabnya- sedang merangkai simulator alat pendeteksi bencana.

Satu, dua kali rangkaiannya gagal. Mungkin sampai lima kali baru lampu led berhasil berkedip. Pak Wid mencoba menunjukkan alat simulator buatannya kepada wartawan Fajar Indonesia Network. Nama alat tersebut adalah Laser Tsunami Sensor atau LTS.

Sambil merapikan pakaiannya, Pria asli Boyolali, Jawa Tengah ini mulai menjelaskan alat tersebut. Sistem kerja alat ini layaknya pemancar. Alat ini mengirimkan cahaya melalui fiber optik ke laut. Dari dasar laut, pantulan cahayanya kemudian mengirimkan informasi data mengenai kondisi tekanan hidrostatik yang di bumi. Informasi ini pun diterima oleh pos pantau. “Negara yang sudah mengaplikasinya baru Jepang. Sedangkan ini, adalah jenis fiber brag grating (FBG),” terangnya, Kamis (4/1).

Dikatakannya, LTS tidak membutuhkan listrik dan alat komponen aktif lainnya. Alat ini juga aman dari pencurian karena berada di bawah laut. Jika nanti ada tekanan air yang tidak normal, lampu led yang diasumsikan sebagai sinyal bisa berubah-ubah.

Begitu juga misalkan ada gelombang bawah laut, terjadi getaran, sampai kapl yang melintas pasti membuat tekanan. “Hanya saja, lampu ped akan memberikan sinyal lain jika arus tsunami yang melintasinya,” terangnya.

Dari yang semula berkedip lambat, bisa berubah cepat. Atau bisa juga menyala terus menerus tanpa berkedip pertanda bahaya tsunami. Responnya sangat cepat. Seperti kecepatan cahaya. Sambil mencontohkan, ia tetap bercerita. Jika lampu penanda bahaya sudah keluar, pos pemantau tinggal memberikan sinyal untuk membunyikan sirine di sekitar pantai.

Jika ini diterapkan, mungkin masih ada waktu 10 sampai 15 menit untuk mengosongkan areal pantai, katanya. Saat ini ia juga tengah dipanggil BMKG untuk mempresentasikan alatnya tersebut.

Ada harapan, karya anak bangsa bisa diterapkan oleh negaranya. Ia juga berharap, semoga denga diterapkannya laser tsunami detector, korban jiwa bisa diminimalisir.

Disinggung jumlah biaya, menurutnya angkanya lebih murah ketimbang buoy. Sekitar Rp 7,5 miliar. Itu sudah termasuk panjang kabel FO Rp1,5 miliar dan LTS dapat mencapai Rp5 Miliar. “Biaya itu per tahun. Namun dapat berfungsi selama tiga tahun.

Sejarah pembuatan LTS ternyata punya kesan mendalam bagi Pak Wid. Setelah lulus dari Jepang pada 2006 silam, ia mulai bergabung dengan LIPI. Tapi dua tahun sebelum bergabung, ia sudah bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk bangsanya.

Tepatnya pada 2004, ketika Aceh dilanda tsunami, hatinya seakan teriris. Berada jauh di negeri orang membuatnya tak bisa berbuat banyak. Mitigasi yang kurang tanggap membuat jumlah korban yang sangat fantastis. “Disitu saya mulai bertekad. Saya harus buat sesuatu setelah selesai kuliah,” kata Pak Wid sambil merapikan posisi duduknya.

Sekira 2007, penelitiannya membuahkan hasil. Alat pendeteksi tsunami berbasis tekanan dan cahaya ia kuasai. Beberapa simulator juga dibuatnya. Ia mulai mengingat-ingat, bahkan sebelum pemerintah menggunakan buoy sebagai alat pendeteksi tsunami, alatnya pernah diajukan sebagai pembanding. Tapi sayang, pemerintah kurang berminat. (*/fin/tgr)

Rekomendasi Berita