oleh

Keturunan Pendiri Klaim Dibangun 1419 M

Islam dan Masjid Bersejarah di Pulau Sumatera (12)

Mengenai waktu pembangunan Masjid Tua Kayu Jao masih ada dua versi, namun demikian tidak perlu jadi perdebatan yang jelas Masjid Tua Kayu Jao, dibangun seni arsitek tiga negara. Berikut laporannya.

Dirangkum Oleh Solihin

DARI berbagai catatan mengenai pembangunan masjid yang sangat unik ini, dengan atap terbuat dari ijuk warna hitam, dinding dan lantai dari papan dibalut dengan warna hitam yang menambah kesakralan. Ada catatan Masjid Tuo Kayu Jao ini dibangun pada 1599 M, namun penjelasan dari penjaga sekaligus keturunan pendiri Masjid Tua Kayu Jao mengklaim dibangun pada 1419 M.

Masih simpang siur pembangunannya, sebab Masjid Tua Kayu Jao pernah dirombak. Namun demikian pengurus dan keturunan pendiri masjid Tua Kayu Jao menyerahkan kepada para ahli ini para sejarah yang nanti menyelidikinya.

Pembangunan masjid ini dilakukan para warga secara gotong royong, atas gagas Angku Imam yang bernama Musaur dan Angku Labai sekaligus sebagai Bilal.

Keberadaan Masjid Tuo Kayu Jao menjadi bukti bahwa sejarah Agama Islam di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Solok telah menyebar sejak abad ke-16.

Dari segi arsitektur, masjid ini juga mengalami asimilasi terhadap budaya Minangkabau, yakni Rumah Gadang. Atap masjid yang terbuat dari ijuk terdiri dari tiga tingkat. Antara tingkatan terdapat celah yang dibuat untuk pencahayaan.

Arsitektur lokal berupa ‘Rumah Gadang’ terlihat di bagian mihrab, yang memiliki atap dengan bentuk berbeda, yakni berbentuk gonjong.

Ini asimilasi simbol lokal dan Islam juga tampak dari masjid ini. Atap masjid disangga oleh 27 tiang, yang menandakan enam suku, yang masing-masing terdiri dari empat unsur pemerintahan ditambah dengan tiga unsur agama, yakni khatib, imam dan bilal.

Salah satu benda yang menjadi ikon di masjid ini adalah bedug atau tabuah dalam bahasa Minang. Bedug yang terletak di sebelah masjid, diperkirakan usianya juga sama dengan masjid itu sendiri. Bahkan, bedug ini masih difungsikan hingga kini sebagai penanda waktu masuk salat.
Selain ini keunikan masjid ini dari segi tonggaknya ada 24 tiang, melambangkan jumlah Ninik Mamak yang 24 orang.

Kemudian memiliki jendela sebanyak 13 pintu melambangkan rukun salat. Anak tangga memasuki masjid berjumlah 5 undakan, melambangkan Rukun Islam.

Masjid dibangun 3 tingkat atapnya yang melambangkan Imam, Khatib dan Bilal dan ada dua lantai melambangkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Beberapa bagian masjid sedikit direnovasi, tapi secara keseluruhan tidak mengalami perubahan secara berarti. Meski telah berusia 5 abad, Masjid Tuo Kayu Jao masih digunakan untuk aktivitas ibadah, mulai dari salat hingga pengkajian agama Islam.

Selain itu, pemerintah telah menetapkan masjid ini sebagai tujuan wisata sejarah dan syariah di Kabupaten Solok dan Provinsi Sumatera Barat.(bersambung)

Rekomendasi Berita