oleh

Kesenjangan Sosial Masyarakat Sumsel Terlihat Jelas

LINGGAU POS ONLINE, CIPUTAT – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) QITO, kembali menggelar diskusi publik dengan Mahasiswa asal Sumsel se Jabodetabek, dengan mengusung Grand tema “Mau Di Bawa Kemana Sumatra Selatan 2018. Diskusi tersebut dengan titik fokus, mengenai Kesenjangan Sosial Masyarakat Sumsel selama kepemimpinan Alex Noerdin.

Kegiatan Rutin LSM QITO tersebut berlangsung cukup meriah dengan didatangkannya Aktivis Muda yang berasal dari Sumsel. Adapun Narasumbernya ialah Rizky Ade Kurniawan selaku Koordinator Mahasiswa Musi Rawas Jabodetabek.

Berbicara terkait kesenjangan sosial pada masyarakat daerah sangatlah menarik, sebelumnya kita juga ketahui bahwa masyarakat daerah sebagian besarnya adalah petani hidup dengan hasil tani.

Dikepemimpinan Alex yang kurang meratanya pembangunan infrastruktur tentu mempengaruhi perekonomian masyarkat daerah. Masyarakat daerah yang notabenenya adalah petani sangat merasakan betul bagaimana harga jual hasil tani yang tidak pernah stabil karena terhambatnya transfomasi menuju kota.

“Faktor kesenjangan masyarakat daerah sebenarnya satu, yaitu dari tidak meratanya pembangunan infrastruktur. Seperti pembangunan jalan yang kurang diperhatikan oleh pemerintah, sering kali kita dapati masih banyaknya jalan kuning di daerah nah faktor inilah yang membuat macetnya perekonomian. Bagaimana tidak dengan jalan yang kurang memadai otomatis harga barang pokok tinggi, sedangkan pemasukan masyarkat berbanding terbalik”, ungkapnya saat di forum diskusi, di ngopi kuy cafe. Minggu, (10/12).

Berdasarkan data mereka, persentase penduduk miskin Sumsel tahun 2011 sebanyak 13,95, tahun 2012 sebanyak 13,48, 2013 sebanyak 14,06, tahun 2014 sebanyak 13,62 dan tahun 2015 sebanyak 14,25.

Jumlah penduduk miskin di Sumsel tahun 2011 – 2016 untuk Perkotaan, sebanyak 409.145 (2011), 388.652 (2012), 384.773 (2013), 367.121 (2014), 390.870 (2015) dan 374.527 (2016). Untuk Pedesaan sebanyak 665.662 (2011), 668.379(2012), 725.600(2013), 733.700(2014), 754.758(2015) dan 725.665(2016).

Angka kemisikinan masyarakat Sumsel terutama masyarakat yang berada didaerah berdasarkan data dari BPS setiap tahunnya semakin bertambah.

“Melihat presentase dari BPS, angka kemiskinan di sumsel setiap tahunnya bukan malah berkurang tapi malah bertambah, terkhusus di daerah-daerah pedesaan. Saya juga turut merasakan langsung, bagaimana kesenjangan sosial itu terlihat jelas. Diikuti dengan persentase penduduk miskin yang mencapai angka tertinggi di 5 tahun terakhir berdasarkan data BPS, Ini apa Faktornya? Bagaimana tindakan dari pemerintah untuk mengatasi ini, menurut saya perlu dipertanyakan kinerja pemerintah saat ini”, tambahnya. (Rls)

Komentar

Rekomendasi Berita