oleh

Kesal Delay 4 Jam

Pesawat Putar Balik ke Palembang

Sylvia Rossa (Penumpang Wings Air dari Palembang)
“Akhirnya, setelah 2,5 jam lebih delay, pukul 13.30 WIB kami berangkat. Nah, ketika mau landing di Kota Lubuklinggau, menurut informasi dari awak pesawat, cuaca buruk. Jadi pesawat putar balik ke Bandara SMB II Kota Palembang lagi…”

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Penumpang Maskapai Wings Air rute Bandara Silampari Lubuklinggau–Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sempat kesal, Jumat (15/12). Lantaran mengalami delay empat jam lebih. Seharusnya Wings Air IW 1129 take off dari Kota Lubuklinggau sejak pukul 10.35 WIB dan tiba di Kota Palembang pukul 12.00 WIB. Namun ternyata keberangkatan baru dilakukan sekitar pukul 16.00 WIB.

“Pukul 10.00 WIB saya sudah berangkat dari Masjid Agung As-Salam. Di tengah jalan ditelepon oleh teman di sana, jangan ke sini dulu (Bandara Silampari,red). Karena pesawat pukul 12.30 WIB baru berangkat dari Palembang ke Lubuklinggau. Lalu menjelang pukul 12.30 WIB, saya sudah di Bandara Silampari. Eh ada informasi lagi, katanya pukul 14.00 WIB pesawat baru berangkat dari Palembang. 5 Menit lagi landing. Ternyata nggak muncul-muncul juga,” jelas seorang calon penumpang Wings Air, H Ahmad Baidjuri Asir, saat dibincangi Linggau Pos, Jumat (17/12).

Jadi penundaan penerbangan ini, jelasnya, sampai 4 jam lebih.

“Ada sih dikasih snack dan air mineral. Kalau dari maskapai bilang cuacanya buruk ada petir begitu,” jelas Baidjuri.

Ada 60 lebih penumpang yang tertunda keberangkatannya kemarin. Meski begitu, kata Baidjuri, tidak ada yang mengamuk atau marah-marah.

“Nggak ada kok yang marah-marah. Ada juga sih yang menyentil masalah kompensasi sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2008. Namun kami tidak sejauh itu. Kalau harga tiket keberangkatan ini sekitar Rp 350.000,” jelasnya.

Setelah tertunda empat jam lebih, Baidjuri dan puluhan penumpang lainnya baru take off sekitar pukul 16.00 WIB dari Bandara Silampari, ke Kota Palembang.

“Saat di pesawat aman-aman. Alhamdulillah sampai Palembang sudah hampir Magrib,” jelasnya.

Lantaran delay pula, Sekda Kota Lubuklinggau H Rahman Sani membatalkan rencana rapat bersama BPK di Kota Palembang.

“Schedule rapat itu pukul 14.00 WIB bersama BPK di Palembang. Tapi ternyata pesawat berangkat pukul 16.00 WIB. Ya untuk apa saya tetap memaksakan diri terbang ke Palembang. Dan bersyukurnya, rapat di schedule ulang,” jelasnya.

Sementara Winasta, mengungkapkan hal serupa.

“Saya bawa anak. Bawaan lapar mungkin ya. Saking lama menunggu pesawat, jadi agak kesal juga. Tapi, ya sudahlah. Ikhlaskan saja,” terangnya.

Winasta berharap, kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
“Sebenarnya sudah dijelaskan juga oleh petugas bandara. Kalau cuaca buruk,” imbuhnya.

Sementara Sylvia Rossa, yang terbang dari Palembang ke Kota Lubuklinggau juga mengalami delay.

“Harusnya menurut jadwal kami take off pukul 10.00 WIB. Kebetulan saya ada janji juga dengan klien. Tapi terpaksa cancel dulu. Akhirnya, setelah 2,5 jam lebih delay, pukul 13.30 WIB kami berangkat. Nah, ketika mau landing di Kota Lubuklinggau, menurut informasi dari awak pesawat, cuaca buruk. Jadi pesawat putar balik ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Kota Palembang lagi. Sampai di sana, kami nggak turun dari pesawat. Tetap menunggu informasi sampai pesawat kembali take off,” jelas Sylvia Rossa.

Ia sempat berfikir untuk turun dan pulang ke Lubuklinggau dengan travel saja.

“Tapi alhamdulillah Wings Air take off lagi pukul 15.30 WIB. Saya sempat zikir panjang di atas,” jelasnya.

Menurut Sylvia, situasi kemarin benar-benar membuatnya kesal. Namun itu tak terlampiaskan dalam sikap yang buruk.

“Begini ya, kalau kita telat kan langsung ditinggal begitu saja. Tapi kalau pesawatnya yang telat, kita dikasih snack saja. Ya. Komplain sih enggak. Hanya sedikit kesel,” ungkap Sylvia yang sudah tiga kali menggunakan Wings Air ini.

Mengenai keluhan konsumen itu, Ketua Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia (YLKI) Kota Lubuklinggau, Dedi Irawan mengingatkan, penting untuk dianalisa terlebih dahulu penyebab delay itu apa.
“Kalau seandainya alasan delay-nya cuaca jelek, kalau dipaksakan akan terjadi kecelakaan atau hal-hal yang tidak diinginkan, maka itu bisa dipertimbangkan. Tapi kalau penyebab delay-nya tidak jelas, calon penumpang bisa menuntut kompensasi. Bahkan bisa menuntut kerugian atas kelalaian dari maskapai,” terangnya.

Menurut pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara dan Peraturan Menteri Perhubungan No. 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, penumpang berhak mendapatkan kompensasi dari maskapai bila penerbangan mereka terlambat alias delay.

Nah apa saja kompensasi yang seharusnya diterima oleh penumpang bila penerbangan mengalami keterlambatan dari jadwal yang seharusnya?

Berdasarkan Pasal 36 Permenhub No.25 Tahun 2008, pertama poin a keterlambatan lebih dari 30 menit sampai dengan 90 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman dan makanan ringan.

Kedua, poin b, keterlambatan lebih dari 90 menit sampai dengan 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan siang atau malam dan memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, apabila diminta oleh penumpang.

Poin c, keterlambatan lebih dari 180 menit, perusahaan angkutan udara niaga berjadwal wajib memberikan minuman, makanan ringan, makan slang atau malam dan apabila penumpang tersebut tidak dapat dipindahkan ke penerbangan berikutnya atau ke perusahaan angkutan udara niaga berjadwal lainnya, maka kepada penumpang tersebut wajib diberikan fasilitas akomodasi untuk dapat diangkut pada penerbangan hari berikutnya.

Sementara dalam Pasal 10 Permenhub No. 77 Tahun 2011 diatur pada poin a, keterlambatan lebih dari 4  jam diberikan ganti rugi sebesar Rp 300.000 per penumpang.

Pada poin b dijelaskan, diberikan ganti kerugian sebesar 50 % dari ketentuan huruf a apabila pengangkut menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat dengan tujuan penerbangan akhir penumpang (re-routing), dan pengangkut wajib menyediakan tiket penerbangan lanjutan atau menyediakan transportasi lain sampai ke tempat tujuan apabila tidak ada moda transportasi selain angkutan udara.

Sementara poin c, dalam hal dialihkan kepada penerbangan berikutnya atau penerbangan milik Badan Usaha Niaga Berjadwal lain, penumpang dibebaskan dari biaya tambahan, termasuk peningkatan kelas pelayanan (up grading class) atau apabila terjadi penurunan kelas atau sub kelas pelayanan, maka terhadap penumpang wajib diberikan sisa uang kelebihan dari tiket yang dibeli.

“Apalagi ada menurut informasi, terkadang schedule keberangkatan pukul 14.00 WIB, namun pesawat berangkat pukul 16.00 WIB. Maka ini bisa dilaporkan ke YLKI. Itu nggak boleh, sama saja dengan pembohongan publik. Dan penumpang bisa melakukan gugat. Pemerintah juga harus melakukan tindakan tegas,” jelasnya.

Sebagaimana pesan Undang-Undang (UU) No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pada pasal 8, pelaku usaha dilarang menawarkan barang/jasa yang tidak sesuai dengan apa yang diiklankan, dan apa yang jadi kesepakatan.

“Misalkan kita memasang schedule jam sekian, maka usahakan berangkat sesuai jadwal. Kecuali, karena cuaca,” imbuhnya.

Dengan tegas, Dedi menerangkan masih pada UU Perlindungan Konsumen, pada Pasal 62 jika pelaku usaha yang melanggar pasal 8, maka bisa dipidana 5 tahun atau denda Rp 2 miliar.

“Ya tergantung dari penumpang yang merasa keberatan,” imbuhnya.(05/Net)

Komentar

Rekomendasi Berita