oleh

Keren, SMKN 2 Lubuklinggau Produksi APD, Gubernur Sumsel Beri Apresiasi

LINGGAUPOS.CO.ID – Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 (Virus Corona). Ditengah kekhawatiran mereka akan minimnya Alat Pelindung Diri (APD), aksi kemanusiaan peserta didik SMKN 2 Lubuklinggau seakan jadi angin segar.

Tangan-tangan terampil siswa-siswi Jurusan Tata Busana sedang berjuang membuat APD jenis hazmat dan masker.

“Kami mulai produksi Sabtu (28/3/2020). Sebagian bahan baru sampai hari ini (kemarin, red). Untuk bahan, saya pesan khusus dari Jakarta, karena sulit didapat di Lubuklinggau,” jelas Kepala  SMKN 2 Lubuklinggau, Eriani, Senin (30/3/2020).

Kepala SMKN 2 Lubuklinggau Eriani

Pengerjaannya dilakukan 17 siswa kelas XI khusus membuat 4.000 masker medis. Dan 15 siswa kelas XII membuat hazmat dari bahan parasut 100 pieces (pcs) dan dari bahan spondbund 75 GSM 100 pcs.

Menurut Eriani, 200 hazmat itu pesanan dari Kabid SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

“Beliau minta dibuatkan 200 pcs hazmat. Maka yang kami kebut ini dulu. Kalau masker, 4.000 pcs itu pesanan PKK Kota Lubuklinggau,”  tutur Eriani.

Lalu, apakah mereka terima pesanan dari pihak lain, seperti rumah sakit dan layanan kesehatan?

Menurut Eriani, untuk saat ini pihaknya fokus menyiapkan pesanan Kabid Pembina SMK Disdik Provinsi Sumsel.

“Karena dari sisi bahan pun tidak tersedia di Lubuklinggau,” tuturnya.

Dalam proses produksi, setiap peserta didik yang akan memulai pembuatan diwajibkan mematuhi protokol Dinas Kesehatan.

Peserta didik Kelas XI Jurusan Tata Busana SMKN 2 Lubuklinggau membuat masker sebagai salah satu APD yang penting digunakan tenaga kesehatan dalam penanganan Covid-19.

Koordinator Proses Penjahitan, Keristina didampingi Wakil Koordinator, Sarini Abdullah menjelaskan proses pembuatan hazmat dan masker juga dibantu dewan guru. Seperti Ery Sulistiawati, Nur Ainun, Kartini, Dewi Murtika, Eti, Puspa, Yulianti, dan Dartini.

Menurut Keristina, sudah 6 pcs hazmat dikirim ke Pemprov Sumsel melalui Disdik Sumsel.

“Kami kan bernaung dibawah Disdik Sumsel. Maka, yang mengenalkan produk anak-anak kami adalah Kabid SMK. Awalnya kami produksi 6 pcs hazmat. Lalu kami kirim ke Disdik Sumsel. Dan hasilnya disetujui, barulah dipercaya membuat 200 pcs hazmat. Untuk dua pekan ini targetnya 47 pcs selesai,” jelas Keristina.

Para siswa yang membuat hazmat ini merupakan peserta didik kelas XII. Maka, kata dia, produksi hazmat ini pengganti Uji Kompetensi Keahlian (UKK) yang batal diadakan sesuai Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)  Nomor 4 Tahun 2020.

“Jadi, dari sini kelihatan keterampilan menjahit yang dikuasai anak-anak. Sistem kerjanya juga kami samakan dengan garmen. Jadi seluruh pola dipotong dan diukur dulu, baru dijahit. Kalau waktunya tidak cukup, nanti kami bawa ke rumah bahannya, jahit di rumah. Termasuk maskernya, kalau tidak selesai jahit di rumah. Per anak harus bisa produksi 200 masker,” jelas Keristina Silalahi.

Saat ini, khusus hazmat dibuat all size. Dengan harapan semua tenaga kesehatan bisa memakainya.

“Sampai saat ini banyak yang mau pesan ke kami. Memang perlengkapan lengkap, termasuk mesin jahitnya lengkap. Tapi bahannya yang kesulitan,” imbuhnya.

Salah seorang siswi yang ikut dalam pembuatan APD Hazmat, Ajeng Natasya Utami(17) menyebut ini pengalaman pertamanya membuat APD.

“Meski baru pertama kali membuat hazmat, tapi ini kan busana industri, jadi kami sudah belajar sebelumnya. Jadi sama sekali tidak kesulitan membuatnya,” terang Adjeng sambil menunjukkan satu hazmat perdana buatannya, kemarin.

Pengalaman ini bahkan akan jadi inspirasinya untuk jadi penjahit profesional.

“Nanti kalau saya sudah mahir, ingin juga produksi hazmat begini,” tutur gadis yang kesehariannya menekuni aktivitas menjahit dengan mesin peninggalan sang Nenek itu.

Siswi Kelas XII Tata Busana 1 ini juga mengaku bangga bisa berkontribusi untuk Sumsel, menyediakan hazmat dan masker untuk tenaga kesehatan yang berjuang menangani pasien Covid-19.

Bahkan, Gubernur Provinsi Sumsel H  Herman Deru berterima kasih atas  kepedulian masyarakat yang begitu tinggi. Terlebih pelajar yang mencetuskan inovasi untuk menyediakan dan memproduksi APD sendiri di tengah kelangkaan yang terjadi di Indonesia.

Hal itu disampaikan Herman Deru saat menerima bantuan hazmat, hand sanitizer, masker, bilik sanitizer, wastafel cuci tangan yang diproduksi pelajar SMK di Sumsel di Halaman Kantor Gubernur Sumsel Senin (30/3/2020) pagi.

“Pagi hari ini, saya betul-betul merasa bangga karya anak-anak kita ternyata sangat luar biasa. dengan hasil yang memuaskan baik hazmat, body sanitizer juga westafel, bilik sterilisasi dan hand sanitizer APD dan banyak lagi, ini luar biasa inovatif ternyata anak kita tidak kalah bersaing dengan SMK-SMK lainnya,” tuturnya

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Dra, Lesty Nuraini menambahkan, Provinsi Sumsel tidak ketinggalan ditengah kelangkaan masker para pelajar membuat masker sekaligus membuat alat pelindung diri yang cover all .

“Mudah-mudahan dengan adanya inovasi ini, tidak ada lagi istilahnya kosongnya APD Provinsi Sumsel, jangan sampai apd saja kosong karena dipesan di distributor memang banyak yang kosong. Nah sekarang ini kita dapat terbantu, ini dari seluruh Sumsel sudah kita data sudah kita ajukan ke Kementerian Kesehatan. Yang mengatasi masalah ini sudah yang tingkat paling tinggi karena seluruh Indonesia memiliki permasalahan yang sama terkait kelangkaan APD,” tambahnya.(*)

Rekomendasi Berita