oleh

Keranjang Rotan Masih Sulit Dipasarkan

LINGGAUPOS.CO.ID – Banyak sekali manfaat dari tanaman rotan, salah satunya bisa dijadikan bahan membuat kursi, meja, keranjang dan lain sebagainya. Di Empat Lawang ternyata banyak tanaman berduri ini dimanfaatkan warga sekitar, dijadikan kerajinan tangan berupa keranjang.

Sebagian warga di Desa Lubuk Gelanggang, Kecamatan Tebing Tinggi banyak yang berprofesi sebagai petani karet. Namun lantaran harga karet yang semakin hari semakin terpuruk ditambah dampak dari pandemi Covid-19 membuat warga memutar otak supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Jadi pengrajin rotan salah satu tindakan yang dilakukan warga setempat. Sebab bahan rotan banyak ditemukan di hutan perbukitan di kawasan desa tersebut. Sekitar satu hingga tiga jam perjalanan kaki menuju hutan, rotan-rotan sudah bisa didapatkan warga.

Sugimin (50) warga setempat mengatakan dirinya baru enam bulan menekuni kerajinan tangan dari bahan rotan. Sebelumnya dia bekerja sebagai petani karet, namun karena dampak harga getah karet murah, dirinya beralih profesi sebagai pengrajin rotan, khusus membuat keranjang.

“Harga karet sekarang murah, tidak cukup untuk membeli beras. Harus ada pekerjaan lain supaya kebutuhan hidup sehari-hari terpenuhi,” ujar warga Dusun 2, Desa Lubuk Gelanggang ini saat sibuk membuat keranjang dari rotan di bawah rumahnya, Senin (22/3/2021).

Ia belajar menjadi pengrajin rotan secara otodidak (belajar sendiri), tidak belajar dengan orang yang lebih dulu bergelut dengan rotan. Saat itu sekitar enam bulan lalu, ia hendak mancing ikan di Sungai Musi, di pinggiran sungai ia melihat keranjang bekas yang dibuang pemiliknya tergeletak di pinggir sungai.

“Keranjang itu saya ambil dan saya kepikiran untuk membuat keranjang, karena bahan rotan tidak sulit didapatkan. Keranjang itu saya bongkar supaya tahu bagaimana cara membentuknya menjadi keranjang. Jadi bahan belajar saya,” kenang bapak empat anak ini.

Lama-kelamaan ia pun tahu cara membuat keranjang dan mulai menekuni kerajinan tangan satu ini. Untuk mendapatkan rotan, ia harus menempuh perjalanan kaki sekitar satu jam menuju hutan Peraduan Tinggi, kawasan Desa Lubuk Gelanggang. Rotan yang didapatkan sekali pergi sekitar 40 batang.

Selanjutnya rotan yang sudah dibuang duri-durinya itu di bawa ke rumah dan dibilah (dipotong kecil-kecil) dengan panjang sekitar 1,2 meter. Lalu dijemur hingga tiga sampai lima hari tergantung cuaca atau hingga rotan berwarna kekuningan. Setelah itu baru dianyam dibuat menjadi keranjang yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil kebun.

“Satu keranjang menghabiskan 66 bilah rotan. Selain itu bahan lain yang digunakan yakni akar-akar untuk pengikat, papan untuk alas, bambu dan beberapa paku,” kata suami dari Kartiwi ini.

Satu buah keranjang mampu diselesaikannya dua hari tanpa ada bantuan dari orang lain atau karyawan. Setelah satu minggu keranjang yang dihasilkan sekitar enam buah dan langsung dipasarkan di sekitar desa hingga desa tetangga.

“Seminggu sekali dijual, jualnya jalan kaki keliling desa tetangga yakni Desa Batu Pance, Terusan Lama, Terusan Baru. Kalau ke pasar rugi ongkos karena jauh dan harus pakai kendaraan. Orang yang beli juga tidak tentu, kadang mereka menawar lagi dan kadang tidak semua barang habis terjual,” bebernya.

Namun demikian, dengan hasil tersebut dirinya masih bisa menghidupi keluarganya. Selain itu rotan yang masih muda atau umbut rotan bisa dijual untuk dijadikan sayur, lima umbut rotan dijual Rp2.500 bisa untuk tambahan.

Dirinya berharap kerajinan tangan seperti yang ditekuninya ini bisa dilakukan terus menerus dan diperhatikan pemerintah sehingga dirinya dan warga lainnya ada pekerjaan lain selain berkebun. Sekarang ini dirinya masih kesulitan memasarkan keranjang tersebut.

“Menjualkannya ini yang sulit dan juga belum ada pengepulnya. Kalau ada pengepulnya enak, kami yang membuat keranjang nanti bisa langsung dijual atau dititipkan dulu ke pengepul,” harapnya. (*)