oleh

Kemarau Masih Lama, Hujan Baru akan Turun November

LINGGAU POS ONLINE – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memprediksi kemarau ekstrem masih akan melanda Sumsel sampai dua bulan ke depan. Hujan baru akan turun di Sumsel, November 2019.

Hal itu diungkapkan Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, BMKG Provinsi Sumsel, Bambang Beny Setiaji kepada Linggau Pos, Kamis (12/9/2019).

Menurut Bambang, di Sumsel ini justru lebih cepat turun hujan dibanding daerah lain. Karena ada daerah yang baru turun hujan pasca November 2019.

“Jika dua bulan lagi, maka yang patut diwaspadai adalah bahaya kebakaran dan juga kekeringan yang akan melanda seluruh wilayah Sumsel,” imbuhnya.

Agustus dan September ini merupakan bulan dengan kelembaban paling kering dan rata-rata curah hujan paling rendah selama 30 tahun terakhir.

“Sehingga potensi kebakaran lebih tinggi,” kata Bambang.

Potensi kebakaran hutan dan pemukiman sama tingginya,karena panas ekstrem, dan mayoritas rumah warga yang terbuat dari papan juga lebih kering dan mudah tersulut api.

“Kami memberikan peringatan dini waspada potensi kebakaran lahan atau hutan,” imbaunya.

Terpisah, sepanjang 2019 BPBD Kabupaten Musi Rawas (Mura) memantau ada 88 titik hotspot. Sebaran terbanyak ada di Kecamatan Muara Lakitan dengan total 31 sebaran, kemudian diikuti kecamatan BTS Ulu, 21 sebaran dan Kecamatan Selangit 10 sebaran.

Kepala BPBD Mura, Paisol mengungkapkan berdasarkan rekapan hasil groundcheck BPBD Kabupaten Musi Rawas Januari hingga Agustus 2019 berjumlah kurang lebih 25,7 Hektare (Ha). Di mana Kecamatan BTS Ulu Cecar menjadi kecamatan yang paling luas dengan luas 9 Ha, diikuti Muara Lakitan 5 Ha dan Selangit 4,5 Ha. Berdasarkan hasil groundcheck yang dilaksanakan, titik hotspot tidak selalu berasal dari kebakaran.

Kemudian, belum ditemukan adanya perusahaan perkebunan yang melakukan pembakaran lahan.

Dugaan sementara, pembakaran lahan dilakukan oleh warga masyarakat untuk perkebunan, dan itu skalanya kecil dan tidak menimbulkan kabut asap.

Pihaknya menghimbau agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, hutan, ilalang atau semak belukar. Karena sesuai dengan maklumat bersama Gubernur, Kapolda dan Pangdam II/SWJ, pembakaran hutan dan lainnya ini merupakan tindak kejahatan karena menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan hidup, gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh asap, gangguan terhadap kesehatan masyarakat dan tentunya citra bangsa Indonesia.

Terhadap pelaku pembakaran hutan dan lainnya akan dikenakan pasal berlapis karena telah melakukan tindak pidana, dengan ancaman, pasal 187 KUHP apabila dengan sengaja menimbulkan kebakaran sanksi pidana kurungan 12 (dua belas) tahun. Ada juga Pasal 188 KUHP, Pasal 78 Ayat 3 dan 4 Undang-Undang (UU) RI No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Pasal 98, 99 dan 108 UU RI No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, serta pasal 108 UU RI No.39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

Ini merupakan posko Satgas Siaga Karhutla Kabupaten Mura Tahun 2019, meliputi Posko Induk MLM yang berada di Kodim 0406 Mura, Posko Induk Mura di Kantor BPBD Kabupaten Mura, dan juga terdapat di 5 desa di 5 Kecamatan, diantaranya di Desa Harapan Makmur Kecamatan Muara Lakitan, Desa Mekar Sari di Kecamatan Megang sakti, Desa Binjai di Kecamatan Muara Kelingi, di Desa Pelawe Kecamatan BTS Ulu Cecar dan Desa Taba Gindo di Kecamatan Selangit. (dlt/aku)

Rekomendasi Berita