oleh

Keluarga Pasien Keluhkan Parkir RSSA

LINGGAU POS ONLINE, AIR KUTI – Sistem pembayaran parkir di Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA) Kota Lubuklinggau dikeluhkan. Terutama oleh keluarga yang merawat pasien.

Seperti dialami Nanda (30). Warga Kecamatan Lubuklinggau Timur I itu terkejut, ketika petugas parkir meminta bayaran Rp 10.000 untuk setiap 8 jam parkir.

“Anggota keluarga saya ada yang dirawat inap. Makanya saya yang ngurusin. Kalau di rumah sakit lain, keluarga pasien yang menunggui di RS biasanya free (gratis) atau kalaupun bayar maksimal Rp 5.000 asal masih membawa bukti parkir resmi. Ini kami dikenakan Rp 10.000 per 8 jam. Jadi dalam 24 jam, Rp 30.000,” terang Nanda.

Sehingga, dalam tiga hari lebih ia berada di rumah sakit, mengeluarkan uang Rp 90.000 untuk urusan parkir saja.

“Selain masalah bayarannya. Ini bukti pembayaran kami tidak terkomputerisasi. Terima manual saja begitu. Di dalam kuitansi pembayaran juga tidak ada cap siapa penanggung jawab pengelolaan parkirnya,” terang Nanda.

Ia semakin dibuat bingung, karena dalam karcis parkir itu pula disebutkan, petugas tidak bertanggung jawab jika terjadi kehilangan atau kerusakan kendaraan milik keluarga pasien yang diparkir.

“Kami mohon manajemen RSSA membenahi ini,” pintanya.

Direktur RSSA, dr Mast Idris Utsman E menjelaskan, pihaknya belum mengetahui masalah tersebut.

“Wah, saya malah belum tahu itu. Terima kasih sudah diberi tahu. Nanti saya cek ke lapangan dulu, soal parkir ini,” terang dr Mast Idris saat dikonfirmasi Linggau Pos, Senin (14/5).

Ia menjelaskan, manajemen parkir di RSSA dikelola pihak ketiga.

“Parkir RSSA itu dikelola pihak ketiga,” tegasnya sembari berjanji akan menindaklanjuti keluhan pasien itu.

Tanto, salah seorang petugas parkir saat diwawancara Linggau Pos itu kemarin (14/5), mengatakan sudah hampir dua tahun ini pihaknya putus kontrak dengan pihak PT Winds, yang sebelumnya mengelola sistem parkir di RSSA. Sehingga saat ini oleh seorang koordinator, diberlakukan sistem target.

Setiap shif diakuinya, ada target masing-masing. Untuk shif pagi ditargetkan Rp 560 ribu, dengan waktu jaga dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Shif sore ditargetkan Rp 200 ribu, dengan waktu jaga pukul 15.00 – pukul 23.00 WIB. Terakhir, untuk shif malam ditargetkan Rp 100 ribu, dengan waktu jaga pukul 11.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB. Masing-masing shif diakuinya, memiliki koordinator masing-masing. Sistem target ini, sudah diberlakukan sejak Desember 2017.

“Sejak sistem ini diberlakukan, kita juga tidak lagi menggunakan sistem gaji. Dulu kami digaji Rp 1,3 juta per bulan, namun sekarang hanya mengandalkan sisa setoran itu,” tegasnya.

Faktanya, hampir empat bulan ini diakuinya, target tersebut tidak tercapai. Bahkan Tanto hanya menerima gaji Rp 200 ribu per bulan. Apalagi pihaknya harus setor ke pihak RSSA.

“Biasanya shif sore yang suka melebihi tarif parkir yang ditetapkan. Misalkan tarif motor Rp 2 ribu, karena sudah parkir selama tiga jam, dinaikan menjadi Rp 3 ribu. Itu semata untuk mencapai target. Namun untuk kebijakan pada malam hari satu malam Rp 10 ribu sudah sejak awal diberlakukan. Hanya saja, tidak semua pasien mengetahui kebijakan ini,” jelasnya.

Sementara itu anggota Komisi III DPRD Kota Lubuklinggau, Hambali Lukman saat dimintai tanggapan menegaskan ketika memang dikeluhkan mengenai tarif parkir, pihak rumah sakit dan pihak swasta segera mencarikan solusi.

“Intinya, jangan sampai memberatkan terutama untuk keluarga pasien. Apapun ceritanya, apa karena dilakukan sistem target, atau apa kita berharap segera menjadi perhatian. Jangan sampai ada kebijakan yang akhirnya memberatkan keluarga pasien atau pengunjung. Pihak rumah sakit harus ikut carikan solusi karena ini menyangkut pasien,” tegasnya.

Ketika keluhan ini tetap ada, ia akan segera berkoordinasi dengan Ketua Komisi.

“Kita akan segera berkoordinasi dengan pihak Badan Keuangan Daerah (BKD), bagaimana sistem pajak parkir di RSSA. Bila perlu kita Inspeksi Mendadak (Sidak), lihat di lapangan,” lanjutnya. (02/13)

Rekomendasi Berita