oleh

Kelola Gadung Sebagai Makanan Pokok

MUSI RAWAS – Akibat rendahnya harga getah karet di wilayah Kabupaten Musi Rawas (Mura) dan sekitarnya, membuat warga Desa Muara Nilau Kecamatan Selangit mengonsumsi tanaman ubi gadung. Karena ubi gadung ini sejenis umbi-umbian yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan pangan.

Namun, perlu kehati-hatian dalam mengolah ubi ini. Jika tidak bisa mengolah secara baik, maka keracunan akan mengancam. Racun yang terkandung di dalam ubi gadung mampu membuat seseorang yang memakannya menjadi mual dan pusing.

Selain itu, teknik pengolahannya juga memiliki cara unik untuk mengenali gadung yang beracun atau tidak. Caranya adalah dengan melihat arah lilitan batang gadung yang menjalar. Jika batang gadung melilit ke kanan berarti gadung tersebut tidak beracun. Sebaliknya, jika ke kiri, maka gadung tersebut beracun.

Sifat dasar ubi gadung yang beracun tidak serta merta menjadikan ancaman baginya. Keadaan ini justru menciptakan bahan makanannya untuk menggantikan nasi.

Sis (45) warga Desa Muara Nilau pembuat kerupuk ubi gadung mengatakan ia hampir tiga tahun mengonsumsi ubi gadung ini sebagai bahan pangan sehari-hari. Karena harga jual karet saat ini tidak sebanding dengan harga sembako.

“Kalau mengandalkan getah karet kita tidak makan, kita manfaatkan dari alam ini. Dan dari dulu ubi gadung ini dimakan orang sebagai pengganti nasi,” kata Sis saat ditemui di rumahnya, Senin (28/1).

Menurutnya, di desa tersebut ia tidak sendirian mengonsumsi ubi gadung, karena merata masyarakat mengonsumsi ubi itu. Dan bisa dibuat berbagai macam olahan, seperti keripik, tepung, pempek dan lainnya.

Baya (55) warga setempat juga mengatakan, ubi gadung masih menjadi primadona olahan yang dihasilkan oleh tangan terampil para ibu tani. Sebenarnya, ubi gadung dapat dipanen pada umur dua tahun setelah ditanam. Meski masa panen dilakukan sekali dalam dua tahun, namun ketika panen satu tanaman gadung mampu menghasilkan satu kuintal umbi.

Sedangkan, ide untuk mengolah gadung menjadi keripik muncul dari para ibu tani desa tersebut. Karena setelah melihat potensi harga karet semakin menurun.

“Alhamdulillah sampai saat ini belum ada yang keracunan, jika harga karet ini mahal. Kami juga tidak mau konsumsi ubi ini,” kata Baya.

Ia berharap, harga karet ini naik karena petani di Kecamatan Selangit rata-rata sebagai petani karet. (dlt)

Rekomendasi Berita