oleh

Keji, Sigit Akui Perkosa Anak Tirinya Hingga Hamil Enam Bulan

LINGGAU POS ONLINE, MEGANG SAKTI – Sungguh bejat dilakukan Sigit Purnomo (36). Ayah tiri ini diduga memerkosa anak tirinya berinisial TA (13).

Setelah perbuatan bejatnya terungkap, warga Dusun III, Desa Jajaran Baru, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas (Mura) ini menyerahkan diri ke Mapolsek Megang Sakti.

Sebelumnya dilakukan koordinasi anggota Polsek Megang Sakti dengan warga sekitar pukul 23.00 WIB, Kamis (7/12).

Informasi dihimpun, diduga kejadian persetubuhan itu bermula saat TA pulang ke rumah dan masuk ke dalam kamarnya. Kemudian Sigit yang merupakan ayah tiri TA melihat anaknya sedang berbaring di tempat tidur.

Diduga Sigit Purnomo gelap mata. Melihat TA yang sedang berbaring di tempat tidur, tanpa pikir panjang diduga Sigit memerkosa anak tirinya. Tersangka juga mengancam TA tidak boleh membawa motor, jika menolak melakukan persetubuhan. Lalu TA pasrah karena takut.

Diduga perbuatan tersebut dilakukan tersangka sampai sembilan kali. Sehingga korban hamil hingga enam bulan. Akibat kejadian itu, TA didampingi ibunya SR (33) melaporkan kejadian yang dialaminya ke Mapolsek Megang Sakti.

Kapolres Musi Rawas, AKBP Bayu Dewantoro melalui Kapolsek Megang Sakti, Iptu Romi dikonfirmasi membenarkan laporan dugaan persetubuhan yang dilakukan Sigit Purnomo kepada anak tirinya TA.

“Saat ini tersangka sudah kita tahan di Mapolsek Muara Beliti,” kata Romi, Jumat (8/12).

Kapolsek menjelaskan, tersangka diserahkan oleh warga, sebelumnya dilakukan musyawarah agar menghindari hal tidak diinginkan.

“Saat ditahan dan dilakukan interogasi tersangka mengakui perbuatannya,” jelas kapolsek.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Musi Rawas, Ngimaduddin mengutus tiga anggotanya untuk mendampingi TA.

“Saya belum bisa memberi statement sekarang. Namun, kami turut prihatin dengan situasi ini,” jelasnya.

Psikolog Irwan Tony menjelaskan, kondisi, dampak, dan tantangan yang dihadapi tiap korban pemerkosaan berbeda satu sama lain. Merasa takut, cemas, panik, syok, atau bersalah adalah hal yang wajar.

“Luka yang mereka (korban,red) rasakan dapat menetap dan berdampak hingga seumur hidup. Banyak korban yang merasa kehilangan kepercayaan diri dan kendali atas hidup mereka sendiri. Hal ini juga dapat membuat mereka kesulitan mengungkapkan yang terjadi pada diri mereka, meski cerita mereka sangat dibutuhkan untuk menindak pelaku,” beber Psikolog yang bertugas di RSUD Sr Sobirin itu.

Ia memaparkan, berbagai perasaan yang campur aduk dan situasi rumit tersebut akan membawa dampak bagi kesehatan dan psikologis mereka.

Trauma yang terjadi bisa sampai depresi, Posttraumatic Stress Disorder (PTSD), disosiasi, hipoaktivisme seksual hingga vaginismus. (16/05)

Komentar

Rekomendasi Berita