oleh

Kejari Tetapkan Tiga Tersangka Baru

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Proyek pembangunan Akademi Komunitas Negeri (AKN) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), kembali ‘menelan korban’. Rabu (10/10), Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau menetapkan tiga orang tersangka baru. Dengan demikian sudah lima orang yang ditetapkan dalam dugaan Korupsi Pembangunan AKN Muratara dengan pagu anggaran Rp8,5 miliar.

Ketiga tersangka yang baru ditetapkan, dua diantara adalah ASN yakni, FD sebagai pengguna anggaran, kemudian FS sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Tersangka lainnya, FI selaku kontraktor proyek dari PT Binduriang Karya Mandiri (BKM).

Kepala Kejari (Kajari) Lubuklinggau, Hj Zairida SH, M.Hum menjelaskan, ditetapkannya tiga tersangka ini hasil pemeriksaan dua tersangka sebelumnya, yakni Brio Alkhoir dan Subhan.

Menurut Zairida, selain melakukan pemeriksaan terhadap dua tersangka itu, penyidik Kejari Lubuklinggau telah melakukan pemeriksaan terhadap 35 orang saksi. Mulai dari penjabat rendahan hingga orang nomor satu di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muratara.

“Kami sudah memanggil 35 saksi yang diduga mengetahui proyek tersebut. Untuk tindak lanjutnya, ketiga tersangka akan dipanggil minggu depan, atas penetapan tersangka yang sudah dilakukan,” kata Hj Zairida.

Bahkan, dengan dilakukannya pemeriksaan kepada tiga tersangka ini. Menurutnya tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lainnya. Tergantung dari hasil pemeriksaan terhadap ketiga tersangka, yang memang sebelumnya sudah diperiksa sebagai saksi.

Selain penetapan tersangka, Kejari Lubuklinggau juga mendapatkan pengembalian uang Rp882 juta. Rincian pengembalian uang negara itu diantaranya dari konsultan sebagai perencanaan kegiatan sekitar Rp 47,42 juta. Kegiatan pengawasan sekitar Rp150 juta. Serta pelaksanaan kegiatan sekitar Rp 634,42 juta.

Selanjutnya, Jaksa juga menyita tiga buku tanah seluas 9 hektare, dan memblokir rekening milik Brio di Bank Mandiri sebesar Rp 1,2 miliar.

“Kami sudah melihat langsung proyek AKN, hasilnya sangat tidak layak dan tidak sesuai dengan anggaran pembangunan yang sudah ditetapkan,” jelas Kajari.

Terpisah Inspektur Muratara, Romsul Panani menanggapi atas penetapan dua oknum ASN Pemkab Muratara yang ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Negeri Lubuklinggau (Kejari), menjelaskan sanksi diberikan Alat Penegak Hukum (APH).

“Kalau untuk sanksi kepada oknum, itu langsung dari APH,” kata Romsul Panani, Rabu (10/10).

Sementara dalam hal penindakan, selaku Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), Romsul Panani menjelaskan, Kasus Gedung Akademi Komunitas Negeri (AKN) tidak masuk pemeriksaan APIP. Tapi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Kami lain lembaga, jadi yang lebih tahu masalah proses dan sanksi APH,” jawab dia.(aku/asd)

***Tersangka Brio Jadi Marbot

KEJAKSAAN Negeri (Kejari) Lubuklinggau, dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Akademi Komunitas Negeri (AKN) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), sebelumnya sudah menahan dua orang tersangka.

Kedua tersangka adalah Subhan dan Brio, yang keduanya mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Lubuklinggau. Keduanya ditahan di sel blok G Tipikor, dengan tiga tahanan lainnya.

“Ukuran sel tersebut, kurang lebih 8 x 7 meter, saat ini diisi bersama tiga tahanan lain, dengan demikian jumlah seluruhnya menjadi lima orang,” kata Kepala Lapas Kelas II A Lubuklinggau, Imam Purwanto melalui Kasibinadik, Surandi didampingi Petugas Keamanan, Arief kepada Linggau Pos, Rabu (10/10).

Ditambahnya oleh Arief, bahwa aktivitas kesehariannya, Subhan dan Brio sama dengan para tahanan lain. Tiap pagi mengikuti apel, dan jika memang waktunya berangin, akan dikeluarkan.

“Khusus untuk Brio, aktif di Masjid, bahkan saat ini beliau menjadi marbot masjid,” tambah Arief

Sementara, untuk yang mengunjungi saat ini, adalah orang tuanya yang paling sering.

“Untuk kesehatan, alhamdulillah sehat, namun secara psikologis diduga terganggu karena ditahan,” tutup Arief.(cw1)

Rekomendasi Berita