oleh

Katarak Bisa Sebabkan Kebutaan

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Dalam satu bulan, lebih kurang 30 pasien katarak dioperasi. Hal itu terjadi selama 2017 dan 2018 ini. Hal ini disampaikan dokter spesialis mata Rumah Sakit (RS) AR Bunda Kota Lubuklinggau, dr Hatta, Sp.M kepada Linggau Pos, Jumat (12/10).

Dr Hatta, Sp.M mengatakan, katarak salah satu jenis penyakit mata, di mana lensa yang jelas menjadi keruh hingga menyebabkan penurunan penglihatan.

Katarak juga salah jenis penyakit mata yang paling banyak menyebabkan penderitanya kehilangan penglihatan.

“Rata-rata penderitanya berusia 50 tahun lebih. Namun, akibat kecelakaanpun bisa menyebabkan katarak. Bahkan katarak juga bisa diidap bayi dan anak-anak. Memang kebanyakan orang diatas 50 tahun,” jelas dia.

Menurut dr Hatta, katarak pada usia tua disebabkan ketidakseimbangan cairan yang keluar masuk (sirkulasi) lensa.

Lensa mata yang menjadi keruh, sehingga cahaya tidak dapat menembusnya, bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total.

Dalam perkembangannya katarak yang terkait dengan usia penderita dapat menyebabkan pengerasan lensa, menyebabkan penderita menderita miopi, berwarna kuning menjadi coklat/putih secara bertahap dan keburaman lensa dapat mengurangi persepsi akan warna biru.

“Katarak biasanya berlangsung perlahan-lahan menyebabkan kehilangan penglihatan dan berpotensi membutakan jika katarak terlalu tebal dalam rentang waktu 6 bulan-1 tahun. Kondisi ini biasanya memengaruhi kedua mata, tetapi hampir selalu satu mata dipengaruhi lebih awal dari yang lain,” jelas dr Hatta.

Gejala awal penyakit katarak yakni berkabut, seperti berasap dan tak bisa fokus, juga silau.

“Gejala ini terjadi karena terjadi perubahan pada struktur lensa mata. Jadi ketika sudah merasakan ini, langsung dioperasi. Jangan menunggu matang. Kalau menunggu matang, katarak mengeras dan penggantung lensanya sudah kendur. Kalau melihat lampu saja tidak bisa lagi, ini potensi buta. Kalau buta tidak bisa disembuhkan lagi. Maka, ketika mata terganggu langsung ke dokter mata,” saran dr Hatta.

Pasien katarak harus operasi, karena jika katarak itu matang dan tetap dibiarkan akan bahaya. Saat katarak mencair terjadi glukoma, efeknya akan nyeri hebat mual muntah hingga kematian saraf mata. Kalau sudah kondisi begini, wajib operasi pada katarak mature (matang). Jika tidak maka berpotensi buta permanen.

Menurut dia, jika tak ada kelainan retina, penderita katarak bisa melihat kembali 100 persen usai operasi. Operasi itu, terang dia umumnya memakai laser.

“Biaya operasi itu kalau pasien BPJS Kesehatan ditanggung BPJS. Asal operasinya di rumah sakit,” jelas dia.

Eye Care Everywhere. Perawatan mata ada di mana-mana. Seruan inilah yang diusung World Health Organization (WHO) dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2018 pada 11 Oktober 2018 lalu. Hari Penglihatan Sedunia ditetapkan setiap tahun jatuh pada Kamis atau Minggu kedua Oktober.

Melalui seruan ini, WHO dan International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) mengajak seluruh orang di dunia memeriksakan kesehatan mata di mana saja untuk mencegah gangguan penglihatan.

”Kebanyakan kebutaan dan gangguan penglihatan dapat dicegah dan ditangani jika dideteksi dini. Mari lakukan tes mata sekarang juga,” ajakan dari WHO, dikutip dari situs resmi World Sight Day.

Hari Penglihatan Sedunia ini jatuh pada Kamis di pekan kedua Oktober setiap tahunnya. Momen ini dijadikan gerakan untuk mengampanyekan kesehatan mata di seluruh dunia.

Sejak diinisiasi oleh WHO dan IAPB pada tahun 2000, Hari Penglihatan Sedunia dihelat dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang gangguan penglihatan dan kebutaan. Ketika itu, WHO dan IAPB membuat visi jangka panjang yakni Visi 2020: Hak untuk Penglihatan.

WHO dan IAPB mendorong seluruh negara di dunia untuk memastikan semua orang bisa mendapatkan akses untuk perawatan mata yang baik.

Data dari IAPB menunjukkan 1,2 miliar orang tidak memiliki akses untuk mendapatkan kacamata. Sekitar tiga dari empat atau 75 persen gangguan penglihatan sebenarnya bisa dicegah.

Sebanyak 36 juta orang di dunia mengalami kebutaan dan 217 juta orang memiliki gangguan penglihatan jarang sedang atau berat. Sebanyak 89 persen orang dengan penglihatan terganggu tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sejumlah 55 persen orang dengan gangguan penglihatan sedang atau parah adalah wanita. (lik/cnn)

Rekomendasi Berita