oleh

Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah Mengkhawatirkan

LINGGAU POS ONLINE – Kasus kekerasan seksual di lingkungan sekolah sepanjang 2019 dinilai sudah sangat mengkhawatirkan. Parahnya lagi, korban kekerasan seksual tidak hanya didominasi perempuan, melainkan juga menimpa siswa laki-laki.

Berdasarkan catatan KPAI pada paruh semester pertama 2019, terdapat 13 kasus kekerasan seksual di sekolah. Yang terbanyak terjadi pada jenjang sekolah dasar (SD) dengan 9 kasus dan sisanya usia sekolah menengah pertama (SMP).

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan bahwa saat ini level kekerasan seksual di lingkungan sekolah sudah sangat meningkat dan yang agak mengerikan, korban kekerasan seksual terjadi pada anak laki-laki.

“Untuk kekerasan seksual, ini anak laki-laki maupun anak perempuan memiliki kerentanan yang sama. Ternyata banyak anak laki-laki yang mengalami kekerasan seksual oleh guru dan kepala sekolah,” kata Retno, Selasa (10/12/2019).

Terlebih mengkhawatirkan lagi, kata Retno, kekerasan seksual tak sedikit melibatkan oknum guru yang seyogyanya menjadi contoh. Menyusul, adegan kekerasan seksual yang memeragakan adegan film dewasa juga terjadi di beberapa kasus.

“Yang juga cukup mengerikan adalah kejadiannya ada guru yang mengajak threesome siswanya sendiri dengan pacarnya,” ungkapnya.

Menurut Retno, pendidikan seksual sedari dini sudah sangat mendesak. Disayangkan lagi, siswa terkadang tabu untuk membicarakan hal-hal sensitif berbau seks yang tak disadari, bahwa mereka menjadi korban dari ketidaktahuan mereka tentang seks.

“Kita tidak pernah mengira ada 18 anak yang diminta melakukan masturbasi oleh guru BK (Bimbingan Konseling) dengan dalih dia sedang melakukan disertasi dan butuh sampel,” tuturnya.

Retno menambahkan, kekerasan seksual di sekolahnya biasanya terjadi di ruang kelas, laboratorium, ruang UKS, hingga kebun di belakang sekolah. “Anak-anak sejak dini harus diajarkan mana bagian tubuh yang tidak boleh dipegang pada orang lain,” kata dia.

Selain itu, lanjut Retno, anak harus berani berbicara apa yang terjadi pada dirinya jika mengalami perbuatan yang tidak senonoh. Selama ini, kekerasan seksual yang terjadi berulang disebabkan korban enggan untuk berbicara.

“Begitu juga orangtua hendaknya memperhatikan perubahan yang terjadi pada anak. Orangtua jangan melepaskan sepenuhnya pendidikan anak di sekolah,” ucapnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Perlindungan Anak Generasi, Ena Nurjanah, mengingatkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), perlu kerja keras untuk kembali menggalakkan sosialisasi mengenai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 82 Tahun 2015, tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

Menurutnya, hanya segelintir sekolah dan guru yang belum mengetahui tentang Permendikbud tersebut. Padahal, payung hukum itu dinilai bisa mengurangi terjadinya kekerasan dan kejahatan di lingkungan pendidikan.

“Paling tidak bisa mengurangi. Jika Permendikbud tersebut digalakkan, tentu bisa dipahami banyak pihak sebagai upaya pencegahan kejahatan seksual. Itu karena dalam beberapa kesempatan, guru bahkan dinas belum mengetahui tentang Permendikbud yang dikeluarkan empat tahun lalu itu. Jadi, upaya-upaya pencegahan tetap harus dilakukan,” tuturnya.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Sukiman mengimbau semua orang tua untuk tidak serta-merta melepas pengawasan terhadap anaknya di sekolah. Hal itu demi menekan tingkat kekerasan seksual dan fisik terhadap anak-anak di lingkungan sekolah.

“Kami mengajak warga ikut berperan aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Jadi jangan anak-anak dilepas begitu saja,” kata Sukiman.

Menurut Sukiman, demi menekan tingkat kekerasan seksual dan fisik terhadap anak-anak di lingkungan sekolah, perlu ada kolaborasi dengan sekolah, sehingga pengawasan bisa terjadi dari kedua belah pihak.

“Makanya apabila terjadi kekerasan, itu orang tua bisa cepat mengetahui,” ujarnya.(*)

Sumber: Fajar Indonesia Network (FIN)

Rekomendasi Berita