oleh

Kasus Gigitan HPR Meningkat

CURUP – 2018 kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) mengalami peningkatan. 2016 lalu, kasus HPR pada manusia ada 117 kasus, kemudian bertambah 2017 ada 177 dan tahun 2018 kemarin sebanyak 288 kasus.

Kepala Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Curup, Drh Firi Asdianto menjelaskan, terjadinya peningkatan kasus gigitan HPR di Kabupaten Rejang Lebong tersebut kemungkinan disebabkan karena adanya kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus gigitan HPR terjadi di lingkungannya untuk mendapatkan langkah-langkah dalam penanganan kasus gigitan HPR ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Ini salah satu dengan adanya kader-kader yang ada di lapangan termasuk adanya rabies center, sehingga jika ada kasus gigitan di tengah masyarakat,” ungkap Firi.

Sementara itu, untuk 2019 ini kasus gigitan HPR yang dilaporkan baru dua kasus.

Dari kasus gigitan HPR baik jenis anjing, kucing, kera dan sejenisnya sejauh ini belum ada yang positif pada manusia yang terkena gigitan.

“Dengan melaporkan kasus gigitan akan mempercepat penanganan dalam mengantisipasi tertularnya rabies pada manusia,” jelasnya.

Firi juga menjelaskan, dalam penanganan mengantisipasi terinfeksinya manusia pada rabies salah satunya melalui gigitan HPR, ada dua cara yang harus dilakukan petugas di lapangan.

“Kalau HPR yang menggigit lari, tidak ada pemiliknya, kemudian dibunuh sebelum dilakukan pemeriksaan itu wajib di lakukan suntik VAR,” katanya.

Namun, jika HPR yang menggigit jelas pemiliknya, masih hidup maka HPR yang bersangkutan akan diperiksa apakah terinfeksi rabies atau tidak. Namun korban yang terkena gigitan disuntik VAR terlebih dahulu sambil menunggu jeda waktu 14 hari untuk mengetahui kondisi hewan yang diperiksa.

“Ada jeda 14 hari hewan itu apakah terkena rabies atau tidak, tapi si korban harus tetap disuntik, jika nanti dalam 14 hari hewan bersangkutan tidak terinfeksi si korban tidak perlu lagi di suntik VAR lanjutan karena tidak ada rabiesnya,” tambah Firi.

Dibagian lain, Firi juga menyampaikan, Vaksinator atau petugas vaksin baik dari petugas kesehatan maupun petugas Puskeswan memang harus disuntik VAR mengantisipasi terkenanya rabies saat melakukan pemeriksaan ataupun penyuntikan terhadap HPR yang dilakukan.

Sebab, petugas sangat rentan terkena rabies karena bersentukan langsung dengan HPR terutama petugas yang ada di lapangan.

“Bisa jadi saat petugas yang melakukan vaksinasi terhadap HPR terkena cakaran, terkena gigitan atau terkena jilatan karena tidak sengaja termasuk jarum suntik, karena mereka bersentuhan langsung dengan HPR, jadi memang berisiko sehingga harus di VAR untuk memberi kekebalan,” tambahnya. (sam)

Rekomendasi Berita