oleh

Karyanya Terbit dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi 7

 Karya Pelajar MAN 1 Lolos Seleksi Nasional

Tiga pelajar MAN 1 Model Lubuklinggau kembali mengharumkan nama madrasah di kancah nasional. Kali ini dibidang karya sastra puisi. Apakah prestasi tersebut?

Laporan Qori Musdalifah – Lubuklinggau

TIGA pelajar MAN 1 Model Lubuklinggau berhasil lolos seleksi bersama 271 pelajar se-Indonesia dalam partisipasinya mengirim Puisi Menolak Korupsi (PMK).

Mereka adalah Ghaitsa Hamada Roudhatul Jannah (kelas XI IPS 1), Aisa Silmi Alfia (kelas XI IPA) dan M Afif Ar Rasyid (kelas XII IPS).

Tiga puisi bertema Negeri Tanpa Korupsi dari pelajar MAN 1 ini tercantum di dalam buku Antologi Puisi Menolak Korupsi 7 yang diterbitkan secara Nasional.

Dikatakan Koordinator Pusat PMK 7 Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel), Dr Rusmana Dewi atau biasa disapa akrab RD Kedum ini, bahwa tiga pelajar MAN 1 ini lolos lewat seleksi ketat (kurasi) secara Nasional.

Dari 867 pelajar seluruh Indonesia yang mengirim Puisi Menolak Korupsi ke Koordinator PMK, yang lolos kurasi ada 271 pelajar yang diantaranya tiga siswa MAN 1 Model Lubuklinggau.

Kepala MAN 1 Model Lubuklinggau, Taslim sangat bangga dan mengapresiasi kepada ketiga pelajarnya yang puisinya berhasil terpilih untuk dicantumkan dalam buku level nasional yang berjudul Puisi Menolak Korupsi tersebut.

“Ini salah satu efek keberhasilan dari kegiatan literasi yang rutin dilaksanakan MAN 1 Model Lubuklinggau setiap tahun. Yakni pembuatan puisi yang diwajibkan kepada siswa kelas XI. Kegiatan literasi kita ini sukses menstimulus anak-anak dalam mengembangkan kemampuan serta menciptakan sebuah karya. Sehingga akhirnya di posisi saat ini, tiga karya anak MAN 1 berhasil lolos seleksi dalam kegiatan tingkat Nasional ini,” jelasnya.

Taslim juga mengatakan, MAN 1 pada dasarnya juga memiliki kegiatan ekstrakulikuler Forum Lingkar Pena (FLP) sebagai wadah bagi siswa-siswi yang hobi mengasah kemampuan dalam menulis. Baik itu puisi ataupun karya sastra lainnya.

Dan tiga pelajar ini adalah orang-orang yang terpilih dari MAN 1 dan telah membuktikan bahwa mereka mampu bersaing dengan pelajar-pelajar lainnya di seluruh Indonesia. Di mana karyanya dijadikan salah satu materi dalam buku nasional tersebut.

“Kita yakini bahwa apa yang dikaryakan tersebut mungkin belum sampai satu lembar, tapi itu merupakan karya mandiri anak-anak yang patut kita apresiasi. Saya berharap anak-anak tidak cepat berpuas diri, terus asah kemampuan, giat lagi belajar, dan jika sekarang hanya sebuah karya yang turut dibukukan se-Nasional semoga kedepannya bisa melahirkan buku-buku Nasional karya mandiri, baik berupa cerpen, novel ataupun buku-buku ilmu pengetahuan. Dan semoga kedepannya siswa maupun alumni MAN 1 bisa menjadi penulis ternama di Kota Lubuklinggau bahkan nasional,” harapnya.

Sementara itu, RD Kedum memaparkan bahwa penerbitan buku Puisi Menolak Korupsi 7 (PMK 7) khusus untuk pelajar SMP/SMA sederajat, yang digagas oleh Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) koordinator Gerakan yaitu sastrawan Sosiawan Leak berasal dari Solo. Agar mudah berkoordinasi maka Secara Nasional, ditunjuklah laskar-laskar (anggota gerakan) PMK untuk mengoordinir wilayah masing-masing.

“Saya RD Kedum, ditunjuk sebagai koordinator wilayah Sumatera Selatan yang bertugas memberikan informasi kepada pelajar SMP/SMP wilayah Sumsel. Mengumpulkan puisi mereka lalu dikirim ke pada tiga orang kurator yang bertugas menyeleksi puisi-puisi pelajar ini,” ungkapnya.

PMK 7 ini merupakan kelanjutan antologi-antologi puisi sebelumnya. Ada antologi PMK 1 hingga PMK 6. Gagasan munculnya ide PMK 7 khusus pelajar ini tiada lain sebagai wujud mendidik masyarakat utamanya generasi muda dengan karya. Tema PMK 7 sederhana saja, “Negeri Bersih Tanpa Korupsi”, dengan harapan kedepan, pemuda menyadari apa yang harus mereka bangun untuk negeri tercinta. Selain bebas dari penjajah, maka harus bebas pula dari para koruptornya.

“Dari 56 pelajar se-Sumsel, kurang lebih 125 puisi yang dikirim hanya 11 pelajar yang puisinya lolos kurasi. Dari 11 pelajar tersebut, 3 diantaranya siswa MAN I Model. Ini sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Motivasi dan pendampingan pihak sekolah (Kepala Sekolah dan Guru) turut serta mengantarkan anak-anak mereka ke tingkat Nasional. Dan sebagai koordinator wilayah, saya akan berusaha berkoordinasi dengan guru-guru mereka agar memotivasi anak-anak untuk menulis puisi bertema Negeri Bersih Tanpa Korupsi Alhamdulillah, ibu Suriani, S.Pd. banyak berperan membimbing literasi anak-anak yang lolos ini,” katanya.

Lanjutnya, penerbitan Antologi PMK 7 “Negeri Tanpa korupsi” bersifat independen, yang menjunjung tinggi kebersamaan. Semua biaya penerbitan, maupun pendistribusian ke seluruh Indonesia dibiayai oleh Kas Gerakan PMK, donatur, dan para laskar, jadi pelajar tidak dipungut biaya sama sekali.

“Ke depan secara Nasional selain me-launching PMK 7, PMK mengadakan road show ke daerah-daerah sembari menggandeng KPK guna menyuarakan Anti dan Menolak Korupsi lewat berbagai aktivitas; Membaca puisi Menolak Korupsi oleh laskar2 PMK, seminar pendidikan anti korupsi, musikalikasi Anti Korupsi, teater, menulis puisi dan lain-lain. Kegiatan raod show biasanya tidak saja melibatkan seniman, penyair, budayawan, sastrawan saja. Namun juga masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintahan dan lain-lain,” tukasnya.

RD Kedum berharap dengan lolosnya PMK 7 ini, siswa MAN 1 Model semakin giat lagi menulis, dan semoga menjadi motivasi pelajar se-Kota Lubuklinggau, berprestasi lewat menulis puisi.

“Jangan enggan menggali potensi dalam diri. Berekspresi dan berprestasilah. Menulis puisi hanya sebagian kecil potensi diri yang bisa digali. Maka, budayakanlah untuk menulis,” tutupnya. (*)

Rekomendasi Berita