oleh

Kapolres : Jangan Sekali-kali Upload Konten Negatif

LUBUKLINGGAU – Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono memberikan wejangan kepada ratusan pelajar tingkat SMP/MTS, SMA/SMK/MA terkait dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Jangan adik-adik sekali untuk meng-upload konten negatif di Media Sosial,” pesan Dwi dalam memberikan materi pada acara pelatihan dasar jurnalistik yang digelar Harian Silampari bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Lubuklinggau di Ballroom Cozy Hotel, Sabtu (27/7).

Dwi juga menjelaskan tentang hoaks. Ia menegaskan bahwa hoaks yakni berita bohong atau palsu atau tidak pernah tapi dibuat-buat seolah-olah benar. Dan hal tersebut diatur dalam UU ITE.

Ia juga meminta pelajar membatasi penggunaan internet. Jika tidak, dikhawatirkan akan kebablasan.

“Jangan sekali-sekali kalian ikutan judi online, sekali masuk kalian akan ketagihan,” tegasnya lagi.

Lebih lanjut Dwi mengingatkan pelajar untuk tidak menyebarkan konten kekerasan.

“Terkait dengan kekerasan seperti orang dipukuli dan disebarkan di Medsos. Ataupun fitnah, pencemaran nama baik seperti menghina, menjelekkan di Medsos,” ungkapnya.

Sementara itu CEO Linggau Pos Group, Solihin mengatakan diera digitalisasi ini semua orang bisa menjadi wartawan. Dan adanya kegiatan pelatihan ini, paling tidak pelajar tahu etika untuk menyampaikan tulisan.

“Kalau menyampaikan berita hoaks itu ada sanksi hukumnya,” kata Solihin.

Dijelaskannya, dalam menyampaikan berita jangan pernah hoaks.

“Kalau menyampaikan berita hoaks, itu ada sanksi hukumnya. Kemudian ada etika yang harus kita ikuti. Dalam menulis paling tidak itu mengenal 5W plus 1 H. Terpenuhinya unsur itu informasi yang kita sampaikan itu bisa dipertanggungjawabkan. Itu ada sumber yang resmi,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lubuklinggau, Dr H Tamri mengingatkan pelajar untuk tidak melakukan duplikasi. Sebab pendapat apa yang dipakai, jika bukan pendapat kamu, itu dinamakan duplikat.

“Sebab itu dalam penulisan kita harus riil untuk jurnalistik, dia harus punya sumber,” bebernya.

Kata Tamri, dirinya sangat mendukung penuh adanya kegiatan pelatihan dasar jurnalistik.

“Sangat membantu pelajar dalam pendidikan kedepan,” katanya.

Ketua Panitia, Elpan Juniardi mengungkapkan pelatihan dasar jurnalistik diikuti 140 peserta. Tujuannya menciptakan generasi milenial BISA.

“Agar pelajar memahami dasar-dasar jurnalistik dan tidak terpancing dengan berita hoaks,” imbuhnya. (rls/rrf)

Rekomendasi Berita