oleh

Jumedi : Dia Berhenti Langsung Aku Tikam

LUBUKLINGGAU – Terdakwa Jumedi alias Medi warga Jalan Pelita Kelurahan Pelita Jaya, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, mengakui membunuh Putonaki alias Ujang Putih.

Demikian terungkap dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Kamis (20/12) dengan agendanya mendengarkan keterangan terdakwa.

Sidang yang dipimpin Hakim Hendri Agustian SH,MH didampingi Hakim Anggota Ferdinaldo SH,MH dan Tatap Situngkir SH dengan Panitera Pengganti (PP), Harmen SH.

Sidang dikawal ketat oleh petugas Satuan Sabhara Polres Lubuklinggau dibantu Polsek Lubuklinggau Barat.

Dalam sidang, terdakwa mengatakan bahwa awal permasalahan kenapa ia tega membunuh Ujang Putih, lantaran masalah uang sewa lapak.

Kronologisnya, terdakwa ingin berjualan di daerah dekat Masjid Agung As-Salam Kota Lubuklinggau, harus membayar sewa lapak sebesar Rp900 ribu.

“Saya baru bayar Rp500 ribu, sedangkan sisanya nanti nunggu ada,” katanya.

Lanjutnya, tapi baru dua hari berjualan ditagih oleh anak buah Ujang Putih.

“Karena aku idak ado duit, jadi aku belum biso bayar. Tapi anak buah Ujang Putih ini makso untuk bayar berapa adonyo, terus aku kasih Rp100 ribu,” kata Medi.

Namun, lanjut Medi, anak buah Ujang Putih ini malah menekan minta lagi. Sehingga terjadilah perkelahian, hingga perut Medi ditusuk.

“Dan aku dirawat selama empat hari,” katanya.

Selanjutnya sambung Medi, satu minggu kemudian ia berjualan kembali seperti biasa, tepatnya Minggu, 22 Juli 2018. Ujang Putih melintas mengendarai sepeda motor, kemudian berhenti.

“Pas dio berhenti dan turun dari motor, langsung aku tikam berkali-kali hingga tidak terhitung, saat itu aku kelam, dan aku meraso nyesal akhiryo aku nyerahi diri,” sambung Medi.

Setelah mendengarkan keterangan terdakwa, majelis hakim menunda sidang hingga Kamis 5 Januari 2019.

Berdasarkan surat dakwaan JPU, membeberkan perbuatan terdakwa ini bermula Minggu 22 juli 2019 sekitar pukul 17.00 WIB, terdakwa sedang berjualan Mie Ayam di lapaknya di Jalan Garuda Hitam depan lapangan Kurma Kelurahan Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II.

Saat itu melintaslah korban dengan mengendarai sepeda motor melewati lapak jualan terdakwa dengan berkata ”oe Medi”. Dan dijawab oleh terdakwa, ”Mampir dulu mang”. Mendengar panggilan terdakwa korban pun berhenti dan turun dari sepeda motornya mendekati terdakwa.

Melihat korban turun dari sepeda motornya, terdakwa mendekati korban dan berkata ”ini nah luko aku belum kering”. Lalu karena terdakwa yang masih menyimpan sakit hati kepada korban mengeluarkan sebilah pisau dari pinggangnya, dan langsung mengayunkan pisau tersebut ke bagian dada sebelah kiri korban terjatuh di tengah jalan.

Tak puas sampai di situ, terdakwa kembali menusuk tubuh korban berkali-kali kebagian perut dan dada korban, korban sempat menangkis tikaman terdakwa.

Namun terdakwa tetap menusuk kebagian punggung korban. Lalu korban menendang terdakwa dengan kaki kirinya hingga tubuh korban terbaring di jalan dengan berlumuran darah.

Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut, langsung berkumpul, melihat masyarakat berkumpul, terdakwa pun langsung kabur.

Akibat perbuatan terdakwa, korban mengalami luka tusuk bagian dada, perut, punggung tak hanya itu, korban juga mengalami luka pada bagian tangan kanan dan kiri, hingga menyebabkan korban tewas.

Oleh JPU, Jumedi alias Medi didakwa melanggar Pasal 340 KUHP atau 338 KUHP dengan ancaman seumur hidup.(cw1)

Rekomendasi Berita