oleh

Jiwa Ksatria Arema Atas Hukuman Komdis PSSI

JAKARTA – Manajemen Arema FC berjiwa ksatria menanggapi sanksi yang diberikan kepada timnya oleh Komite Disiplin (Komdis) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Sanksi yang dimaksud adalah larangan menggelar laga kandang dengan penonton hingga akhir musim ini.

Ya, menurut laporan yang diterima Fajar Indonesia Network (FIN) dari rilis resmi Arema, tim berjuluk Singo Edan itu dengan lapang dada menerima keputusan yang diberikan oleh Komdis PSSI tersebut.

Bahkan, menurut CEO Arema FC, Iwan Budianto, pihaknya siap timnya menerima hukuman 10 tahun tanpa penonton jika hal tersebut bisa memberikan perubahan dan kemajuan terhadap sepak bola di Tanah Air.

“Jangankan dihukum sampai akhir musim, sejujurnya Arema ikhlas jika harus dihukum 10 tahun tanpa penonton serta sanksi lainnya, asalkan (sanksi itu) mampu membawa revolusi perubahan perilaku positif bagi suporter Indonesia. Kita siap menjadi martir perubahan kebaikan dalam sepakbola kita,” ungkap Iwan Budianto dalam siaran pers yang diterima FIN, Jumat (12/10) kemarin.

Iwan menegaskan bahwa Arema menjunjung tinggi integritas sepakbola itu sendiri. Menurutnya, setiap upaya penegakan regulasi menurutnya harus dihormati dan dipatuhi, meski sanksi berat sebagai konsekuensinya. Oleh sebab itu, Iwan mengaku pihaknya tidak akan mengajukan banding terhadap sanksi yang diterima oleh timnya itu.

“Kita akan menjalani hukuman ini dengan tegak kepala dan menjadi sanksi ini sebagai cambuk untuk perubahan kita semua agar patuh terhadap penegakan regulasi,” tutur Iwan.

“Jadi, kita tidak akan mengajukan banding. Namun akan berada di barisan terdepan untuk membangun kesadaran para suporter utamanya Aremania agar berubah untuk bisa menjadi lebih baik,” tambahnya.

Oleh sebab itu, pria asal Malang tersebut berharap hukuman ini bisa menjadi momentum perubahan prilaku positif bagi semuanya pihak, tak terkecuali klub, panitia penyelenggara pertandingan, serta suporter dalam hal ini Aremania.

“Jadikan perenungan massal. Dan jadikan momentum untuk berubah dalam sikap dan berperilaku yang baik dalam mendukung tim kebanggaan kita,” jelasnya.

Selain itu, pria yang akrab disapa IB itu juga meminta semua pihak untuk tetap merespon positif atas keputusan Komdis PSSI tersebut. Ia juga mengajak Aremania untuk merenung dan introspeksi diri serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

“Hentikan perdebatan. Tapi kita perlu bangkit bersatu untuk berubah lebih baik. Jika perlu kita harus lebih sering bertemu berdiskusi berbicara dari hati ke hati agar kejadian serupa tidak terjadi dan tidak diulang-ulang lagi pada masa yang akan datang,” harap IB.

Sanksi Arema Rugikan Banyak Pihak

Meski demikian, Iwan tidak memungkiri, hukuman yang diterima pihaknya tersebut cukup berat untuk kelangsungan hidup timnya. Terlebih dikatakannya, hukuman itu juga merugikan banyak pihak.

“Jadi, tidak hanya klub yang kehilangan dukungan dari Aremania di saat posisi Arema berada di posisi (klasemen) yang mengkhawatirkan. Klub juga kehilangan pendapatan dan tentu akan berpengaruh terhadap operasional kelangsungan hidupnya. Tidak hanya pemain dan official, tapi nasib karyawan juga akan terdampak,” beber Iwan.

Selain klub, menurutnya sanksi itu juga berdampak kepada pelaku usaha kecil seperti pedagang kaki lima (PKL) yang biasa mendapatkan penghasilan saat pertandingan Arema, serta kontribusi penerimaan pajak daerah yang biasa disumbangkan klub untuk Pemerintah Kabupaten Malang.

Bahkan dikatakannya, pihaknya juga akan melakukan negosiasi ulang dengan pihak sponsor mengenai kontrak kerja sama sponsorship yang selama ini sudah terjalin.

“Dampak yang lain tentu menjadi keresahan warga Malang Raya di mana Arema selama ini menjadi salah satu hiburan yang banyak diminati masyarakat Malang Raya, bahkan juga menjadi image bersama yang dimanfaatkan sebagai brand usaha kecil masyarakat. Jelas, dengan sanksi ini akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas dan pendapatan mereka.” tutur Iwan.

Terakhir, pria yang juga pengurus PSSI itu menyampaikan permohonan maaf atas segala perilaku negatif dan kejadian yang menimbulkan kerugian psikis maupun materi tersebut.

“Kedepan harus kita songsong harapan baru yang lebih baik. Kami yakin, kedepan Aremania akan bisa berubah menjadi suporter yang disegani dihargai dihormati dan berprestasi,” tukasnya.

Seperti diberitkan FIN sebelumnya, PSSI melalui Komdis memberikan hukuman tegas kepada peserta kompetisi Liga 1 Indonesia, Arema dengan sanksi larangan menggelar laga kandang dengan penonton hingga akhir musim ini.

Hukuman itu diberikan, terkait pelanggaran kode disiplin pada pertandingan Liga 1 Indonesia antara Arema FC menghadapi Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, 6 Oktober 2018 lalu.

Komdis menilai, beberapa pelanggaran telah dilakukan oleh suporter tim berjuluk Singo Edan itu, diantaranya pengeroyokan yang dilakukan suporter Arema FC terhadap suporter Persebaya Surabaya dan intimidasi yang dilakukan oleh suporter Arema FC dengan cara mendekati pemain Persebaya Surabaya.

Selain itu, Komdis juga menghukum dua suporter Arema FC, Yuli Sumpil dan Fandy. Keduanya dianggap memprovokasi penonton lain dengan cara turun ke lapangan. Untuk itu, keduanya dihukum tidak boleh masuk stadion di wilayah Republik Indonesia seumur hidup.(fin)

Rekomendasi Berita