oleh

Jangan Takut Menjadi ‘Orang Besar’

Pelatihan Feature dan Lipsus Divisi II Sumeks Group

Jajaran Pemimpin Redaksi, Wakil Pimpinan Redaksi, dan Redaktur Pelaksana Koran Divisi II Sumeks Group kembali bertemu. Mereka memperdalam ilmu penulisan feature juga Liputan Khusus (Lipsus). Ada diskusi menarik pada momen berharga itu.

Laporan Sulis, Palembang

KAMIS (9/11) pukul 08.00 WIB, Direktur Operasional Sumeks Group Sumbagsel, H Muslimin sudah siap memberikan ‘suntikan’ semangat. Sembari menunggu kelengkapan peserta dari 17 media divisi II, ia memaparkan dengan santai beberapa strategi untuk memenangkan persaingan di tengah gempuran media online.

“Kita tidak perlu takut dengan situasi saat ini. Okelah, Medsos lebih cepat. Bahkan foto setiap kejadian juga ada. Dan untuk dapat informasinya cukup klik saja tak perlu biaya. Sedangkan media cetak, kalau mau baca harus beli dulu. Satu-satunya kelebihan media cetak saat ini adalah akurasi berita dan dapat dipertanggungjawabkan. Maka itulah yang harus kita utamakan,” jelas Muslimin.

Pria yang dikenal sukses memimpin Bengkulu Ekspres Group itu mengungkapkan, menurut informasi yang didapatnya, ke depan media online pun akan dibuat regulasi pertanggungjawabannya. Sehingga membuat mereka (media online,red) pun dituntut bertanggung jawab. Kalau regulasi itu sudah dibuat, kata Muslimin, apalagi kelebihan kita (media cetak)?

“Itu baru tantangan ekstern. Nah, tantangan intern-nya kita harus meningkatkan kualitas tulisan dan menguatkan keuletan jadi wartawan handal. Oleh karena itu kita berkumpul di sini,” jelasnya.

Lalu dia membuka acara yang dihelat di Meeting Room Graha Pena Sumatera Ekspres tersebut.

Pelatihan yang akan dilaksanakan hingga Sabtu (11/11) itu menghadirkan pemateri awal Pimpinan Redaksi Sumatera Ekspres, Hj Nurseri.

Mengenakan jilbab dipadu kemeja biru, Nurseri membuka materinya dengan kalimat penyemangat.

“Kita harus jadi yang terunggul di daerah kita. Saat ini, informasi yang digali dari bawah yang paling ditunggu pembaca. Ketika kita mampu menggali sisi lain, dan mengutamakan nilai lebih dari sebuah berita maka kita akan menang,” paparnya.

Nurseri memisalkan, sebuah kecelakaan terjadi. Media sosial sudah ‘mengebom’ dengan straight news dan foto.

Sisi lainnya, seperti keluarga, tunangan, kampus, atau tempat kerja korban Lakalantas itu yang harus kita gali.

“Jangan lupa, pastikan database kita lengkap. Angka Lakalantas sepanjang tahun atau dalam satu bulan. Jangan lupa sisipkan edukasi untuk pembaca agar terhindar dari Lakalantas,” saran Nurseri.

Ia meyakini, setiap kejadian itu menarik jika digali maksimal. Oleh karena itu, butuh tim satu visi untuk mengelola sebuah halaman.

“Jadi kuatkan visi dalam tim. Kita harus kerja bareng. Dan perkuat dan perdalam informasi lokal. Itu kuncinya,” tegas Nurseri.

Dalam kesempatan sama, peserta yang terdiri dari 24 orang ini juga mendapat masukan-masukan positif tentang dunia fotografi dari Fotografer Handal Sumeks, Kris Samiaji.

Pria yang akrab dipanggil Mas Kris itu memberikan saran-saran teknis mengambil foto juga memasangnya dalam komposisi layout.

Ia juga sempat menampilkan lima foto yang masuk nominasi penilaian Suparno Awards Triwulan III 2017, salah satunya karya Aspin Dodi, Wartawan Linggau Pos.

Keberanian, kemampuan memilih timing, dan strategi pengambilan foto dijabarkan dengan gamblang oleh Mas Kris. Ia berharap dengan menularkan ilmu itu, bisa meningkatkan kualitas pengambilan gambar juga teknik peletakan foto pada layout di media Divisi II Sumeks Group.

Terakhir, usai Salat Zuhur dan makan siang bersama, Ketua Yayasan Sumatera Ekspres, H Subki Sarnawi menyampaikan motivasi tentang ‘Seni Kepemimpinan’.

Subki mengaskan, sekalipun media online begitu mudah diakses masyarakat, media cetak khususnya Sumeks Group tak perlu khawatir.

“Iya benar. Memang hampir semua bisnis saat ini kurang menguntungkan. Tapi kita harus tetap bersemangat. Yakinlah, koran akan tetap hidup. Tapi mau jadi besar atau kecil tergantung kitanya. Kalau kita mau ‘sedikit’ lebih bekerja keras dan memiliki nilai lebih dibanding lain, kita bisa. Jangan takut jadi ‘orang besar’,” jelas Subki.

Ia juga mengingatkan, agar para jurnalis ini tak mudah puas dan merasa maksimal.

“Jangan sampai kita bercermin di air keruh. Atau merasa cukup karena yang lain juga kerja sampai si situ saja. Kita harus lebih. Harus semangat. Yang harus kita ingat, koran kalau tidak berkualitas jadi bungkus cabai. Jadi jangan sampai itu terjadi,” tandasnya.

Di akhir materinya, Subki menegaskan sekalipun harus beli koran dengan harga tinggi, konsumen tidak mempermasalahkan itu.

“Asal isi beritanya beda, berbobot, informatif dan bisa jadi acuan masyarakat,” imbuhnya.(*)

Komentar

Rekomendasi Berita