oleh

Jangan Salah Mendidik Anak Saat Golden Age

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Kepemimpinan dan Motivasi Terhadap Kinerja Guru PAUD Kota Lubuklinggau sedang diteliti oleh Astuti Karya Dewi. Kandidat doktor ini menyoroti kompetensi guru PAUD yang mendidik anak-anak golden age (0-5 tahun) saat ini.

“Proses penyeleksian guru PAUD itu penting. Karena merekalah yang setiap harinya, akan menjumpai anak-anak golden age. Sikap, cara bicara dan kecerdasan guru PAUD sangat mempengaruhi anak didiknya. Sebab notabene anak usia 0-5 tahun itu peniru. Sehingga gurunya pun harus bisa jadi teladan. Semaksimal mungkin, pimpinan PAUD, Himpaudi, IGRA maupun IGTK memastikan bahwa guru-guru yang mengajar di PAUD itu berkompeten,” jelas Astuti Karya Dewi, Rabu (6/12).

Karena menurut ibu yang akrab dipanggil Dewi ini, golden eyes menjadi proses pembentukan karakter pendidikan dan watak anak. Karena momen ini, saatnya anak bermain serta menemukan jati diri.

“Saat ini, tidak jarang PAUD asal comot dalam merekrut guru. Oleh karena itu, kami berharap teknis rekrutmen guru juga penting diperhatikan. Sebab, saat ini tidak jarang anak-anak lebih mementingkan perintah guru. Karena guru itu sosok idolanya,” jelas Dewi.

Walaupun, mereka (guru,red) mungkin tidak melalui pendidikan formal, seringlah diadakan pelatihan, pengetahuan terbaru, kebijakan terbaru, sehingga ke depan pendidik PAUD ini menghasilkan anak-anak yang cerdas.

“Karena apa yang didapatkan anak-anak sekarang, dimanfaatkan untuk anak di masa depan. Agar anak-anak bisa memilah mana yang baik dan benar,” jelasnya lagi.

Ia juga berharap, hasil penelitiannya ini bisa memberikan sumbangsi untuk Himpaudi, IGTK, maupun IGRA dalam membangun SDM guru yang benar-benar kompeten.

Ibu yang pernah memimpin Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Lubuklinggau ini melakukan penelitian itu, mengingat masih ada PAUD di Lubuklinggau merekrut ibu-ibu rumah tangga.

“Memang ini tidak dilarang. Namun setidaknya Pimpinan PAUD harus bisa memberdayakan guru yang menguasai ilmu, agar ketika mentransfer ilmu tidak keluar dari aturan yang ada.
Karena anak yang paling rawan saat dia usia dini. Agar tetap kuat hingga dewasa. Jika sampai pondasinya keropos, akan sulit menemukan karakter baik di masa remaja hingga dewasanya kelak,” imbuhnya.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita