oleh

Jangan Politisasi Sistem Hitung Cepat

JAKARTA – Proses penghitungan cepat dalam Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi salah satu hal yang cukup krusial. Bahkan sering kali dipolitisasi termasuk sejumlah lembaga survei di mana keakuratan selalu membuat opini publik menjadi rancuh.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman memastikan, jika aplikasi Situng ini akurat. Bahkan, dirinya mengklaim jika hasil penghitungan menggunakan SItung harusnya sama dengan penghitungan metode manual.

“Akurat seharusnya sama. Karena metode menggunakan scan C1,” kata Arief di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/1).

Di tempat sama, Komisioner KPU Ilham Saputra memaparkan, jika Situng adalah aplikasi yang bisa langsung diketahui oleh masyarakat. Tujuannya untuk transparansi dalam pemilu serempak pada April mendatang.

Tentu saja, ini adalah pengulangan yang pernah digunakan pada Pemilu 2014. Data ini akan menjadi akurat jike sistem berjalan dengan baik. Entah orangnya, infrastutrukturnya, ataupun softwarenya, kata Ilham.

Lebih lanjut Ilham menjelaskan, tidak banyak inovasi baru. Bedanya, jika pada 2014 pemilihan presiden dan legislative di bedakan waktunya. Sedangkan pada 2019 dilaksanakan secara berbarengan. Pihaknya juga telah meminta masukan dari semua elemen. Baik tim sukses 01 dan 02, partai politik peserta pemilu, BPPT, Badan Cyber, dan akademisi dari ITB.

Terkait penggunaan server, Ilham menjelaskan, jika pihaknya juga bekerja sama dengan tim cyber dari pihak kepolisian. Hal ini untuk mengantisipasi dan menghindari hack dari pihak tidak bertanggung jawab.

“Sistem informasi Situng ini adalah sistem informasi yang kemudian memungkinkan formulir C1 dari TPS, langsung discan via kecamatan. Yang akan discan kembali di kabupaten/kota. Kemudian hasil dari scan tersebut dapat diakses oleh masyarakat dan parpol dan Paslon Capres-cawapres pemilu 2019 yang akan datang,” paparnya.

Ia juga memastikan akan melaksanakan uji coba aplikasi Situng pada akhir Januari mendatang. Pihaknya juga akan mengundang seluruh peserta pemilu. Diharapkan, seluruh peserta pemilu mengetahui cara kerja aplikasi Situng.

Sebelumnya, Pendiri Network For Democracy dan Electoral Integrity(Netgrit), Hadar Nafis Gumay pun turut mempertanyakan kesiapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menerapkan aplikasi sistem hitung cepat (Situng). Bukan tanpa alasan, segala kemungkinan dapat menjadi persoalan bilamana terjadi kesalahan dalam praktiknya.

“Karena tidak ada hubungan antara hitung cepat dan hitung resmi, tentu hal ini harus diperhatikan betul. Saksi di setiap Tempat Pemungutan Suara juga harus mengetahui umlah keseuruhan baik perolehan suara dan ditandatangani,” kata Gumay di Jakarta, Jumat (18/1).

Mantan Komisioner KPU ini pun juga mempertanyakan, bagaimana gambaran aplikasi tersebut dan seperti apa spesifikasinya.

“Apakah akan muncul gambarnya saja atau entri datanya saja termasuk tabulasi secara keseluruhan dengan cepat,” tukasnya.(khf/fin)

Rekomendasi Berita