oleh

Jangan Membangun, Makan saja Susah

KEMISKINAN masih terus menghantui kehidupan warga Indonesia. Kemerdekaan yang dicita-citakan, buat menyejahterakan kehidupan Rakyat Indonesia sepertinya hingga kini belum terealisasi.

Alhasil, masih bisa ditemui masyarakat yang kondisi kehidupannya masih ‘mengenaskan’. Salah satunya dialami Repat (60) dan Sri Suryati (59) warga Desa G1 Mataram Kecamatan Tugumulyo menempati gubuk bambu berukuran 5×11 meter beratapkan seng yang sebagian sudah ambruk dan berlantaikan tanah.

Kedua lansia ini harus tidur di dapur yang menyatu dengan seluruh isi rumah yang jauh dikatakan layak huni. Gubuk tersebut adalah milik warga sekitar yang mengizinkan lansia ini menghuninya sejak 2008 tahun lalu.

“Jika hujan, bagian atap bocor, jika panas sinar matahari tembus langsung ke dalam gubuk,” kata Repat kepada koran ini, Sabtu (12/1).

Jangankan untuk bangun gubuk, untuk makan sehari-hari juga susah untuk kebutuhan hidupnya.

Repat bersama istrinya hanya mengandalkan hasil jerih payahnya yang bekerja secara serabutan di sawah warga sekitar dengan penghasilan tidak menentu, bahkan terkadang pulang tidak membawa uang.

“Kalau untuk makan, hasil kerja serabutan baru bisa beli beras untuk dimasak,” ucapnya.

Diketahui, nenek dua pasang ini aslinya dari Pulau Jawa dan memiliki empat orang anak yang sudah menikah dan tinggal di Jawa.

Dede (30) tetangga Repat mengatakan Repat dan istrinya itu memang masuk kategori dari kalangan kurang mampu di desanya. Pihaknya sudah menyampaikan kepada pemerintah desa, soal kondisi Repat namun hingga kini belum ada tanggapan.

Kondisi gubuknya cukup memprihatinkan dan sangat butuh bantuan dermawan. Apalagi pemerintah untuk membedah rumahnya.

“Ya, kita harap ada belas kasihan dari pemerintah. Walaupun bukan asli di sini tetapi sudah lama mantap di sini,” kata Dede.

Terpisah, Rahmat, Sekdes G1 Mataram membenarkan bahwa ke dua lansia itu berada di wilayahnya, dan memang keduanya sangat memperhatikan dan sangat tidak mampu.

Menurutnya, mengenai program bedah rumah Pemdes bukan tidak mau mengasi. Karena, sesuai peraturan dari pemerintah bedah rumah itu untuk warga yang memiliki tanah sendiri.

“Sedangkan mereka mendirikan rumah itu milik orang lain, itulah alasan kami kenapa tidak memberikan bedah rumah. Tentunya kita akan memperhatikan,” kata Rahmat.

Mendengar kabar ini, Wakil Bupati Mura, Hj Suwarti memastikan Pemerintah Kabupaten Mura memberikan perhatian penuh pada warga miskin di wilayahnya.

“Ketua RT, lurah maupun kades harus peka pada masalah sosial ini. Jangan sampai ada warganya sulit mau makan, tapi nggak dapat bantuan apapun,” pinta Wabup.

Ia berkeyakinan, kepedulian warga sekitar untuk melaporkan kasus kemiskinan pada pemerintah desa dan kecamatan akan membantu warga miskin bangkit dari kehidupannya menjadi lebih baik.

“Banyak bantuan yang bisa kita berikan. Kalau rehab rumah, memang ada prosedurnya. Tapi kalau kesehatan, untuk makan, kan memang sudah ada programnya. Jadi jangan sampai warga miskin tidak mendapatkan itu,” pesan dia. (dlt/lik)

Rekomendasi Berita