oleh

Jangan Kuper, Wartawan Harus Banyak Jejaring

Pelatihan Penulisan Feature dan Lipsus

Era online, tak membuat gentar para pelaku bisnis media cetak. Strategi apa yang perlu dimiliki pebisnis koran agar produknya tetap dinanti pembaca?

Laporan Sulis, Palembang

MEDIA cetak harus bisa membuktikan diri dengan keunggulannya. Untuk bisa bersaing dengan media online, para jurnalis koran harian perlu memperpadat isi berita dengan konten investigasi.

Saran ini disampaikan General Manager Sumatera Ekspres, H Mahmud, saat mengisi Pelatihan Feature dan Liputan Khusus (Lipsus) hari terakhir di Meeting Room Lantai 2 Graha Pena Sumatera Ekspres Palembang, Sabtu (11/11).

Memang, kata H Mahmud, tak mudah membuat berita investigasi.

“Karena elemen berita investigasi itu, pertama mengungkap kejahatan publik. Kasus yang didalami ini sistematis dan berita yang tersaji semaksimal mungkin menjawab semua pertanyaan yang muncul di masyarakat,” terangnya.

Ia kembali mengingatkan, jangan sebatas itu. Namun, tim investigasi juga harus memberikan porsi yang sama dalam hal menjawab atau membela terhadap tudingan kasus yang disangkakan.

“Pastikan publik memahami berita investigasi yang kalian buat. Dan yakinlah, ketika berita itu bisa tersaji dengan lengkap, media bisa jadi penengah, pencerah, kontrol dan menjalankan lima fungsinya secara utuh dalam satu kesatuan berita investigasi tadi, publik akan menjadikan media anda acuan. Maka yuk, jangan takut, jangan cengeng, belajar mengungkap kejahatan publik,” ajak bapak yang akrab dipanggil Cak Mahmud itu.

Usai memberi paparan bagaimana teknis investigasi termasuk tentang penyamaran untuk mendapatkan data, Cak Mahmud mengecek masing-masing tema investigasi yang ditawarkan 24 jurnalis dari 17 Media Divisi II Sumeks Group.

Pelan-pelan secara telaten, ia memproyeksi kepada setiap wartawan.

Upaya yang dilakukannya ini, diharapkan bisa jadi contoh bagi Pemimpin Redaksi dan Redaktur Pelaksana yang hadir tentang bagaimana menggali sumber berita investigasi. Lebih kurang 120 menit materi yang dikemas dengan diskusi ringan itu berjalan. Cak Mahmud mengakhiri materinya dengan dua pesan inti.

“Pertama, wartawan nggak akan berhasil menginvestigasi tanpa punya sikap skeptis. Kedua, jangan Kurang Pergaulan (Kuper). Wartawan harus banyak jejaring,” tandasnya.

Sabtu kemarin, peserta juga dipertemukan dengan Dr M Mansyur, Pakar Bahasa Indonesia dari Universitas PGRI Palembang.

Dan pada akhirnya, momen yang amat ditunggu-tunggu, CEO Jawa Pos Group H Suparno kembali hadir untuk mengoreksi berita feature karya 24 jurnalis hasil peliputan Jumat (10/11) lalu.

Sekalipun hasilnya belum sesuai dengan apa yang diharapkan, Suparno berpesan agar wartawan yang hadir tak mudah berpuas diri. Ia berharap setiap saat dimanfaatkan untuk mempertajam insting jurnalis.

“Karena apapun yang ditangkap oleh panca inderamu itu jadi modal untuk menulis berita. Maka kita harus peka,” jelasnya.

Beliau juga menyempatkan diri untuk menunjukkan bagaimana teknis membuat feature yang mengangkat sisi unik Cindra. Seorang bujang Sekayu yang ingin menikahi dua wanita sekaligus di Musi Banyuasin (Muba).

Acara pelatihan yang diselenggarakan Sumatera Ekspres itu ternyata cukup berkesan dan mengena. Akhir pertemuan kemarin, Suparno memberi kabar gembira.

Tiga terbaik penulis feature Divisi II Sumbagsel berdasar penilaian H Suparno pada Triwulan I 2018 mendatang, akan diberikan reward khusus jalan-jalan ke Singapura.

“Semoga ini bisa jadi motivasi,” tuturnya.

Kegiatan tersebut pada akhirnya ditutup oleh Ketua Yayasan Sumatera Ekspres, H Subki Sarnawi dan Manager Operasional Sumeks Group, H Muslimin.

“Beruntunglah kalian jadi generasi yang berkesempatan belajar dengan Pak Parno (H Suparno Wonokromo). Kami minta ilmu tadi bisa dibagi dan bermanfaat untuk kemajuan teknik penulisan berita kalian di daerah masing-masing,” jelasnya. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita