oleh

Jangan Jadi Korban ‘Adonan’ Sekelompok Orang

Pendapat Terkait Aksi Demo yang Kerap Terjadi

Adanya unjuk rasa yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, cukup disayangkan. Pasalnya diduga aksi tersebut, bisa jadi dilakukan demi kepentingan pribadi.

Laporan Aspin Dodi, Rupit

PEMERHATI Budaya dan Sosial masyarakat, Ferry Irawan AM menjelaskan, maraknya aksi yang selalu mengatasnamakan rakyat (masyarakat) hendaknya harus dicarikan akar masalah dan titik nol untuk memulai sebuah penilaian terhadap setiap aksi yang ada.
Agar jangan sampai menjadi korban ‘adonan’ sekelompok orang yang mempunyai maksud memuaskan keinginannya sendiri.

“Kasihan masyarakat luas yang tak tahu apa-apa dan selalu diatasnamakan. Ini namanya menjual nama untuk nama,” ucapnya.

Terkait aksi oleh kelompok yang menyebut Aliansi Masyarakat Musi Rawas Utara (Amara) di halaman Kantor Pemkab Muratara kemudian berlanjut ke DPRD dan meminta rapat pimpinan guna memakzulkan Bupati dengan penilaian yang tidak dengan penilaian jujur serta menggunakan data-data akurat.

Menurutnya, jika ingin membuat penilaian harus membuat runutan dimulai dari awal kinerja dan membuat rekam jejak secara profesional.

“Seperti dalam pengamatan bahwa kelompok Amara membuat pernyataan mereka di DPRD waktu demo kemarin (Senin, 21/11), mengatakan atas nama masyarakat Muratara tokoh masyarakat se-Muratara. Masyarakat dan tokoh yang mana? Tokoh masyarakat yang menokohkan diri atau yang ditokohkan sendiri? Bupati tidak tegas? Begitu juga Menurunnya PAD,” sebutnya.

Lebih lanjut, sesuai fakta yang ada bahwa investor masuk di Kabupaten Muratara dengan investasi kurang lebih Rp 3,1 triliun yang bakal menyerap tenaga kerja 10 ribu orang dari masyarakat Muratara.

Begitu juga akan adanya pengiriman ratusan santri untuk menjadi tahfiz quran masa depan dan adanya program ‘memanusiakan manusia’ suku anak dalam agar keluar dari keterbelakangan, pembangunan yang terus dikebut.

“Takkan pernah dapat memaksa karakteristik seseorang. Adakalanya kita berhadapan dengan pemimpin low frofile dan di sisi lain high profile, Jadi, mari kita memberlakukan diri sebagai kontrol sosial dan sebagai pengkritik yang arif,” ajak Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Mafaza Lubuklinggau ini.(*)

Komentar

Rekomendasi Berita