oleh

Jadwalkan Beri Uang Jajan ke 14 Cucu

Sukarman, Tukang Sol Sepatu Keliling

Tukang sol sepatu adalah pekerjaan yang selama ini dianggap rendah. Namun tidak bagi Sukarman, tukang sol sepatu keliling. Meskipun dalam sehari hanya dua atau tiga orang yang membutuhkan jasanya, itu pun dengan upah Rp 15.000. Namun tetap dijalani kakek ini dengan ikhlas.

Laporan Daulat, Pasar Pemiri

Meskipun sudah berusia 60 tahun, Sukarman tetap semangat menjalani pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu keliling. Hal ini dilakukannya, demi menghidupi anak dan cucunya.

“Sudah lebih dari 10 tahun saya bekerja sebagai tukang sol, namun sewaktu muda saya bekerja di pabrik tekstil yang ada di Kota Lahat,” ungkap Sukarman kepada wartawan Linggau Pos, Selasa (28/11).

Meski penghasilannya tidak seberapa, ia mengaku uangnya cukup untuk pulang setiap bulan ke daerah asalnya di dusun Tanjung Raya Kecamatan Tanjung Tebat Kota Lahat.

Sukarman memiliki lima orang anak dan 14 cucu dan ia harus tetap membantu anak-anaknya untuk membiayai keluarganya.

“Setiap bulan saya selalu jadwalkan untuk pulang karena ingin menengok dan memberi uang jajan kepada 14 cucu saya,” ungkap Sukarman sambil tersenyum.

Sambil mendorong sepedanya, Sukarman mengaku bersyukur memiliki 14 cucu karena menurutnya mereka semua adalah kekayaan nyata yang diberikan oleh Tuhan.

“Ia selalu percaya jika selalu bersyukur, manusia tidak akan pernah merasakan kekurangan,” tuturnya.

Harga yang dibanderol untuk menggunakan jasa sol sepatu Sukarman hanya berkisar Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu saja.

“Untuk sol sandal biayanya hanya Rp 10 ribu,dan sepatu hanya Rp 15 sampai Rp 25 ribu, tergantung kesulitannya,”ungkapnya

Dari pukul 08.00-16.00 WIB, setiap hari ia berkeliling di Kota Lubuklinggau,tempatnya tidak menentu, terkadang di Pasar Inpres, sekolahan,pasar satelit, dan lain-lain.

“Saya berkeliling tidak menentu, dan dari pagi sampai sore,biasanya setiap hari pendapatan saya Rp 50-70 ribu,” ucapnya.

Untuk tempat tinggal, ia menyewa kontrakan di Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, seorang diri. Karena istrinya sudah meninggal, sementara anak dan cucunya tinggal di Kota Lahat.

“Di Kota Lubuklinggau ini hanya merantau. Saya aslinya orang Lahat, dan anak cucu saya ada di Lahat. Tinggal di Kota Lubuklinggau, sudah 15 tahun,” jelasnya.(*)

Komentar

Rekomendasi Berita