oleh

Irawan : PT SAS Tak Buang Limbah ke Sungai

MUSI RAWAS – Humas PT Selatan Agung Sejahtera (SAS), Irawan menegaskan matinya ikan yang terjadi di Sungai Kelingi Desa Mandi Aur bukan akibat limbah dari PT SAS. Sebab, perusahaan pengolahan sawit yang berada di Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri itu saat ini masih menjalani sanksi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura).

Sehingga membuat penampungan limbah produksi sendiri, sembari menunggu izin pembuangan diberikan pemerintah.

“Kami tidak membuang limbah ke Sungai Kelingi, karena masih menjalani sanksi yang diberikan pemerintah, akibat kebocoran limbah beberapa bulan lalu. Jadi, kalaupun ada limbah pabrik yang mencemari aliran Sungai Kelingi, jelas bukan limbah dari PT SAS,” kata Irawan di Graha Pena Linggau, Senin (21/1).

Menurut Irawan, setidaknya ada empat perusahaan yang berada di hulu Sungai Kelingi. Jadi, kalaupun ada pencemaran aliran Sungai Kelingi yang diakibatkan limbah pabrik, dipastikan bukan dari PT SAS, tapi dari perusahaan lain.

“Perlu diingat, kami patuh hukum. PT SAS beroperasi bukan untuk merugikan masyarakat, tapi untuk menyejahterakan masyarakat. Kami juga bekerja sesuai prosedur, ketika ada sanksi kami patuhi sanksi tersebut,” jelasnya.

Bahkan, bila Pemkab Mura akan kembali melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke PT SAS, siap diperiksa sesuai prosedur. Karena, memang PT SAS sudah membuat penampungan limbah sendiri, dan penampungan tersebut lebih dari cukup untuk menampung limbah produksi PT SAS.

“Penampungan kami lebih dari cukup, jadi untuk apa buang ke sungai,” tegasnya.

Sebelumnya, masyarakat Desa Mandi Aur, Kecamatan Muara Kelingi menyesalkan banyaknya ikan mati di Sungai Kelingi tempat masyarakat Mandi, Cuci, Kakus (MCK). Hal itu terjadi, diduga akibat adanya perusahaan yang membuang limbah ke sungai.

Temuan ikan mati di sepanjang bantaran sungai ini disaksikan warga mulai pukul 08.00 WIB, Sabtu (19/1). Saat masyarakat hendak mandi ke sungai dan melihat banyak ikan mati dan mabuk. Seperti ikan, baung, patin, seluang, tapa dan lainnya.

Setelah itu, masyarakat banyak yang mengambil ikan yang mengambang di sungai tersebut. (aku)

Rekomendasi Berita