oleh

Inovatif Ditengah Krisis

TAK sedikit pelaku usaha kuliner mengeluhkan kondisi ekonomi saat ini. Penjualan menurun, minat beli melemah. Lantas, akankah kita ‘menerima’ saja kondisi itu? Tidak. Bukan itu keputusan terbaik yang harus kita ambil.
Untuk lebih surfive dengan situasi saat ini, kita perlu mencontoh kiat para pengelola usaha untuk bisa menang dalam menghadapi persaingan. Untuk itu, ada baiknya simak perbincangan kami dengan Manager Rumah Makan Pagi Sore, Adnan Zuhri. Ditengah kesibukannya yang seabrek, bapak yang sudah mengenyam asam garam bisnis kuliner itu membagi kiat-kiatnya.

Apa kabar pak?
Baik mbak. Ada yang bisa kami bantu?

Wah, jelang akhir tahun sudah menyiapkan menu khusus pak?
Tentu sudah. Ini sedang kami siapkan leafletnya. Salah satu menu yang akan kami launching itu tomyam. Ini memang kuliner khas Malaysia. Namun rasanya nanti akan kami sesuaikan dengan ‘lidah’ orang Sumatera.

Kenapa memilih menu baru Tomyam pak?
Karena selama ini, kalau kita tawarkan ke pelanggan. Mereka welcome. Sebagian besar suka tomyam seafood. Kemungkinan kami juga akan menyiapkan itu. Namun ke depan akan jadi menu yang tersedia setiap hari.
Terutama untuk santapan dinner. Karena tomyam kan tersaji saat hangat (seperti pindang,red). Jadi sangat lezat ketika disajikan ketika malam. Rasanya juga dikenal lebih spicy (pedas).
Selain itu, rencana kami akan sajikan juga menu baru daging masak merah dan ayam masak merah. Ini juga spicy.

Kalau saat ini, menu yang paling banyak dicari konsumen apa pak?
Soup daging. Ini menu andalan kita. Kadang konsumen jauh yang pernah makan ke sini, lalu kembali lagi ke Pagi Sore, maunya nyeruput sup daging. Memang meramunya, ada bumbu khusus.

Saat ini kan banyak pelaku bisnis kuliner di Lubuklinggau. Bagaimana Pagi Sore menjaga kualitas, sehingga konsumen tetap setia ke sini?
Ya selain layanan, kami pastikan kualitas bahan makanan dan rasanya terjamin. Setiap pagi sebelum tersaji, kami taster dulu setiap menu yang ada. Dua taster kami, satunya orang Padang dan satu lagi warga Lubuklinggau. Jadi dengan tetap konsisten pada kualitas masakan padang, namun tetap menyesuaikan juga dengan lidah masyarakat Lubuklinggau dan sekitarnya.

Untuk menyajikan lebih dari 20 menu setiap hari, berapa koki yang dilibatkan pak?
Ada enam koki. Untuk Tradisional food empat orang, dan dua lagi masak menu nusantara. Dua koki ini juga akan difokuskan masak tomyam.

Inovasi dari fasialitas mungkin pak?
Pagi Sore ini akan memperluas halaman lagi, Rencananya akan dibuat pemondokan. Dengan koki yang standby di halaman. Sehingga konsumen bisa lihat bagaimana proses memasak yang dilakukan koki kami.

Kalau bapak melihat persaingan, strategi yang bisa menarik minat konsumen?
Berinovasi untuk variasi menu. Jadi kita jangan terpaku pada menu Padangm saja. Karena rata-rata rumah makan Padang di sini sudah lengkap menyajikan menu masakan Padang.

Sekalipun dalam kondisi sulit. Masih ada rencana ekspansi pasar pak?
Ya, bos kami kan lagi buka Pagi Sore di Palembang. Kalau ekspansi belum. Tapi memang sebelumnya ada beberapa mobil yang standby di RS Siti Aisyah dan Pasar Inpres. Sekarang yang RS Siti Aisyah kami tarik dulu, karena dinilai kurang efisien.
Selain itu, kami pererat kerja sama dengan PO SAN Travel juga. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita