oleh

Ini Vonis Terhadap Tri Vikki yang Patahkan Tangan Anak Kandung

LINGGAUPOS.CO.ID – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau memvonis dua tahun penjara terhadap Terdakwa Tri Vikki (24).

Vonis dibacakan Ketua Majelis Hakim Ferdinaldo H Bonodikum, Kamis (1/4/2021) dibantu Hakim Anggota, Lina Safitri dan Yopy Wijaya dengan Panitera Pengganti (PP), Rahmat Wahyudi. Saat mendengarkan vonis itu, terdakwa didampingi penasehat hukum dari Posbakum PN Lubuklinggau Riki.

Vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebab sebelumnya, JPU Kejari Lubuklinggau, Rodianah menuntut terdakwa dengan tiga tahun penjara.

Warga Desa Noman Lama, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) itu disidangkan atas kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)  yang dilakukannya terhadap anak kandung inisial PA (2) hingga mengalami patah tangan.

“Berdasarkan fakta-fakta di persidangan, terdakwa secara sah melanggar tindak pidana KDRT sesuai dengan Pasal 44 Ayat 1 KUHPidana, dengan itu terdakwa kami  vonis dua tahun enam bulan penjara,” tegas Ketua Majelis Hakim, Ferdinaldo H Bonodikum  dalam persidangan.

Ferdinaldo H Bonodikum menegaskan, hal yang memberatkan Terdakwa Tri Vikki, bahwa terdakwa menyakiti anak kandungnya sendiri, perbuatannya meresahkan masyarakat, dan yang meringankan, terdakwa jujur dan sopan dalam persidangan.

Ferdinaldo H Bonodikum lalu bertanya kepada terdakwa dan JPU atas vonis tersebut. Terdakwa dan JPU menyatakan pikir-pikir.

Maka, Ketua Majelis Hakim memberikan waktu pikir-pikir selama tujuh hari jam kerja, lalu sidang ditutup.

Sekedar mengingatkan, KDRT itu terjadi Minggu, 22 November 2020 sekira pukul 07.00 WIB di rumah terdakwa, Desa Noman Lama.

Kejadian kekerasan yang dilakukan terdakwa terjadi dalam kamar. Istri terdakwa Mirabella melihat sendiri, ketika sedang memasak, tiba-tiba  korban menangis di ruang tengah atau depan pintu kamar. Saat itu terdakwa sedang tidur. Tiba-tiba, karena dengan anak menangis, tiba-tiba terdakwa bangun, emosi, dan membawa korban ke dalam kamar dengan marah-marah.

Sambil berkata pada korban “Diamlah jangan lagi nangis”.

Melihat kejadian tersebut saksi langsung menghampiri terdakwa berniat mengambil korban untuk ditenangkan. Namun tidak diperbolehkan oleh terdakwa dan menyuruh saksi keluar.

Setelah keluar, ibu korban mengintip dari tabir kamar korban tidak henti menangis. Kemudian terdakwa kesal melihat korban tak kunjung diam lalu terdakwa menarik tangan kiri korban dengan keras dan kemudian mengangkat badan korban, lalu membantingnya ke tempat tidur. Karena masih menangis juga terdakwa memukul anaknya tepat di tangan kiri korban satu kali menggunakan tangan terdakwa.

Usai dipukul, tiba-tiba korban keluar sendiri dari kamar, menghampiri ibunya  di ruang tengah. Ibu korban  lalu menggendong korban. Namun korban menunjukkan tangan kirinya yang sakit. Saksi merasa curiga dan memeriksa ternyata dilihat tangan korban lebam akibat dipukul.

Kemudian saksi mendatangi terdakwa, sambil bertanya “Apakah kamu memukulnya?”

“ Ya!” jawab terdakwa.

Lalu saksi membawa korban keluar, tapi langsung ditarik masuk ke dalam kamar. Sampai akhirnya saksi dan korban dikunci dari luar. Dengan meminta tolong sambil berteriak sekeras-kerasnya sambil memecahkan kaca kamar, akhirnya ibu dan anak ini berhasil keluar.

Lalu warga sekitar ramai membantu saksi dan korban. Setelah keluar dari rumah, saksi langsung mengurut tangan korban ke tukang urut. Kata tukang urut, anaknya mengalami patah tangan di lengan sebelah kiri. Untuk memastikannya, Mirabella membawa putrinya ke RSUD Rupit untuk dirontgen. Petugas medis membenarkan anak Mirabella mengalami patah tangan.

Setelah dari rumah sakit, ternyata terdakwa sudah ada di Polres Muratara karena sudah dilaporkan warga, kemudian Mirabella dipanggil untuk memberikan laporan. (*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita