oleh

Ini Saya

Bagian 4

“Anak-anak, di kelas kita ada juara sekolah. Ainin maju kedepan” guru berusia 40 tahun ke atas itu tersenyum sambil melihat Ainin yang masih bingung tak percaya.

Ainin berjalan dengan ragu ke depan kelasnya, ia tersenyum kikuk ke ayah Guru yang bernama Wati.

“Selamat ya Ainin, pertahankan prestasi kamu” pesan buk Wati ke Ainin. Lalu memberikan sebuat piagam serta hadiah berbungkus sampul coklat.

“Makasih buk” kata Ainin dengan senyum yang terus mengembang.

Setelah menerima piagam dan Hadiah serta dengan tepuk tangan teman sekelasnya Ainin kembali ke tempat duduknya.

“Wahh Nin aku bangga punya teman kayak kamu” kata Sheila, teman satu bangku Ainin masih ambil menepuk tangannya ricuh.

“Udah nggak usah ngalay, lebih bangga lagi kalo kamu sendiri yang dapat penghargaannya” kata Ainin sambil menarik bangkunya untuk mendudukinya.

“Kamu ngeledek Nin? Kamu tau kan kalo bidang Akademi aku anjlok” kata Sheila dengan wajah yang dibuat kesal.

“Eh maaf-maaf aku nggak maksut kok” ujar Ainin dengan wajah bersalahnya.

“Hahaha, wajah kamu lucu Nin. Udah aku ngerti kok” Sheila menutup mulutnya menahan tawa saat melihat ekspresi bersalah Ainin.

Kriinggg…

Bel istirahat berbunyi, semua siswa dan siswi menyambutnya dengan senang karena perut yang minta diisi juga menjadi faktornya.

Begitu juga dengan Sheila yang sibuk menarik Ainin ke kantin. Padahal sudah jelas Ainin mengatakan dia tak mau makan di kantin karena tidak lapar.

“Udah nggak usah bohong Nin, aku denger sendiri ya perut kamu bunyi minta makan. Nggak usah bohong ayo aku traktir bakso mang ujang” celoteh Sheila masih sambil menarik tangan Ainin.

“Aku nggak ke enakan sama kamu Sheila, kamu udah sering traktir aku. Hari ini aku yang traktir kamu ya” kata Ainin.

Sheila menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Ainin. “kamu kan lagi ngumpulin uang buat beli kursi roda ibu kamu Nin, udah nggak usah.. Uang aku aja nggak lagi butuh apa-apa aku”
“Aku juga dapat uang dari sekolah karena udah berprestasi Shei, jadi uang aku sekarang udah lebih dari cukup untuk beli kursi roda ibu aku” kata Ainin sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.

“Eh serius ? Jadi kapan kamu beli kursi roda untuk ibu kamu Nin? ” tanya Sheila.

“Pulang sekolah nanti Shei, aku udah nggak sabar buat ngajak ibuk keliling taman dekat rumah, ibuk pasti seneng banget” kata Ainin.

“Aku temanin ya ? Kita naik motor aku aja, sekalian aku mau ketemu ibu kamu. Udah lama kan aku nggak ke rumah kamu” ujar Sheila.

“Nggak ngerepotin ? ”

“Enggak kok, ya udah ayo kita makan dulu” ajak Sheila.

Ainin dan Sheila duduk di meja panjang kanyin yang berhadapan langsung dengan lapangan basket sekolah mereka. Ainin hanya memerhatikan Sheila yang sedari tadi sibuk memesankan bakso mereka ke mang ujang, pedangang bakso sekolah.

Ainin heran dengan Sheila, keluarganya terpandang dan cantik. Tetapi mau berteman dengan Ainin yang hanya berjuangan sendiri untuk sekolah dan bekerja demi ibu dan masa depannya.
“Ngapa sih liat-liat, ada yang aneh gitu sama muka ku? “tanya Sheila heran karena Ainin memperhatikan Sheila sedari tadi.

“Cuman heran aja, kamu mau temanan sama aku” jujur Ainin.

“Apa sih yang di heranin, temanan itu kayak sholat. Harus tulus” kata Sheila.

Tak lama kemudian pesanan mereka sampai.

“Dah ayo kita makan, kamu harus punya tenaga banyak Nin. Kita kan kamu keliling cari kursi roda terbaik untuk ibuk kamu” ujar Sheila lalu tersenyum.

“Iya iya”

“Jadi gimana Nin?” tanta Sheila ke Ainin yang sedang memperhatikan dua kursi roda yang sama harganya namun beda warnanya saja.

Mereka sekarang berada di sebuah toko yang menyediakan Alat-alat rumah sakit. Tentunya dengan Sheila yang mengantarkan Ainin menggunakan motornya.

“Menurut kamu bagusan hitam atau merah marun?” tanya Ainin.

“Ya ampun Ainin itu cuma pegangannya aja yang beda warna” kata Sheila.
“Iya ya, hehehe. Ya udah yang hitam aja deh. Mbak tolong bungkus yang hitam ya” kata Ainin kepada si mbak penjaga toko.

Ainin mengeluarkan uangnya dari kantong rok abu-abu nya. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak namun uang itu bercampur dengan dua puluh ribu, lima ribu serta seribuan.

“Kamu nggak buat buku tabungan aja Nin? ” usul Sheila.

“Maunya abis beliin kursi roda boat ibuk baru aku mau buat buku tabungan. Makasih mbak” kata Ainin setelah ia membayarnya Ainin sudah memegang kursi roda yang dilapisi plastik bening itu, wajahnya tak luntur dari senyuman manis mengingat bagaimana ibunya senang saat di ajak jalan-jalannya nanti.

“Ayo, kamu pasti nggak sabarkan liat ekspresi ibu kamu” kata Sheila.

“Ayo”

20 menit kemudian Ainin dan Sheila sufah sampai di kontrakan yang menjadi tempat Ainin dan ibunya tinggal.

“Assalamualaikum ibuk, Ainin pulang” salam Ainin sambil membuka pintu rumahnya.

“Buk, Ainin udah bisa beliin ibuk” kata kata yang ingin Ainin lontarkan terhenti, matanya terbelalak melihat yang ada didepannya.

Brakkk

Kursi roda yang Ainin pegang terjatuh begitu saja saat ia sudah membuka pintu rumahnya.

“IBUKK! ”

Ainin berteriak syok saat melihat ibunya terkapar tak berdaya di pertengahan pintu kamar ibunya. (S4)
Bersambung……………………..

Rekomendasi Berita