oleh

Ini Penyebab Harga Karet Jeblok

JAKARTA – Harga karet di sejumlah wilayah Indonesia hingga saat ini masih bertahan dikisaran Rp 5.000-Rp 6.000 per kilo gram (kg). Selain karena pengaruh pasar internasional, anjloknya harga karet juga karena belum ada tanda-tanda keseriusan kebijakan dari hulu hingga hilir.

Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Moenardji Soedargo membenarkan bahwa tingginya tingkat persediaan karet di Cina membuat harga karet turun.

Namun,  sebenarnya yang terjadi tidaklah demikian. Sebab, berdasarkan penelusuran Gapkindo yang telah bekerja sama dengan forum kerja sama multilateral tiga negara,  yaitu Indonesia, Thailand dan Malaysia.

“Kami mengidentifikasi bahwa pasar telah disalahpandangkan bahwa ada stok yang besar di Shanghai. Waktu itu dikatakan 550 sekian ribu ton. Tapi usut punya usut,  bahwa sebetulnya karet yang di Shanghai bukan kategori untuk pabrik ban, tapi kategori lebih mahal,” kata Moenardji, kepada FIN,  Rabu (26/9).

Padahal,  kata Moenardji,  sebanyak 80 persen karet alam dipakai untuk industri ban. Sementara, karet yang ada di Shanghai biasanya untuk sol sepatu.

“Cuma stoknya di sana banyak. Tapi Shanghai Futures Exchange ini adalah bursa domestik. Tapi karena saking gedenya,  jadi patokan di dunia.  Ini yang kadang ngawur, “ terangnya.

Karet sendiri selain Indonesia, lanjut Moenarji, China juga memproduksinya.  Namun,  mereka dipacu untuk memproduksi karet dengan kualitas tinggi dan bukan diperuntukkan untuk pabrik ban. Selain itu,  karet produksi China ini teregister di China Future Exchange.

“Sehingga dibaca di dunia,  lha ini karet banyak di dunia,” ujarnya.

Moenardji pun menghimbau para pelaku usaha karet di dalam negeri agar tidak mengumbar komitmen. Sebab, dengan komitmen kontrak berjangka panjang dan agresif malah akan menjadi menekan lebih lanjut pada harga pasar.

“Kita imbau atur strategi pola penjualannya untuk jangan mengikatkan diri terlalu jauh dalam kontrak jangka panjang,” imbuhnya.

Menurut Moenardji,  penjualan ke China sebenarnya tak masalah. Ia juga berharap,  bahwa kelebihan stok di China tidak menjadi momok yang menakutkan bagi pelaku usaha sektor perkebunan karet.

“Diversifikasi pasar itu selalu. Yang namanya pedagang itu di mana ada pasar selalu disosok, “ ucapnya.

Berdasarkan data pada tahun 2017, pasar China menyalib pasar Amerika Serikat. Pada tahun lalu saja,  ekspor karet Indonesia 3,1 juta ton.

“Ke China kurang lebih 700 ribu ton, Amerika mengambil pasar Indonesia 600 ribu. Ini saya angka kira-kira lah, “ pungkasnya.(fin)

Rekomendasi Berita