oleh

Ingin Terbebas dari Hutang dan Riba

Temu Kangen MTR Sumsel

Temu Kangen Masyarakat Tanpa Riba (MTR) menyisakan catatan hikmah tersendiri, Sabtu (5/1). Terutama memotivasi orang agar lepas dari transaksi non syari.

Laporan Qori Musdalifah – Linggau Pos

KOORDINATOR Wilayah (Korwil) MTR Sumatera Selatan (Sumsel), Budi Priyanto sempat dibincangi di tengah momen kekeluargaan di Kolam Pemancingan Desa O Mangunharjo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Sabtu (5/1).

Budi mengaku sudah bertitle “LC” alias Lunas Cicilan yang didapat dari Komunitas MTR tersebut.

Ia menjelaskan komunitas MTR merupakan bagian dari komunitas Kampung Syarea World (KSW), sebuah komunitas yang awalnya merupakan komunitas bagi para developers, landlords, dan business dalam bidang real estate dan property.

KSW berkomitmen mengembangkan bisnis syariah tanpa riba, tanpa hutang, dan tanpa akad-akad batil.

“Komunitas ini sudah ada di seluruh Indonesia, yang di dalamnya berkumpul orang-orang yang ingin lepas dari hutang dan orang-orang yang ingin terbebas dari riba. Dan ada juga orang-orang yang tidak punya hutang, orang-orang yang masih memiliki hutang dan masih dalam lingkup riba. Komunitas ini sudah berkembang hingga ke seluruh lapisan masyarakat, kini siapa saja bisa masuk menjadi member MTR, bahkan mahasiswa sekalipun,” jelasnya.

Saat ini, jumlah anggota MTR di seluruh Indonesia berkisar 5.000-an orang, khusus di Komunitas MTR Sumsel berkisar 200-an orang.

Dijelaskan Budi, yang didampingi Sekjen Sofwan Hadi dan Humas H Anshor Abdullah, bahwa MTR ini berusaha untuk selalu menghindari unsur-unsur akad yang dilarang oleh hukum syari.

MTR berusaha untuk membangun komunitas yang solid dan selalu berkomunikasi dengan anggota-anggotanya yaitu dengan cara membentuk grup dalam aplikasi WhatsApp di tiap kota. Pengurus atau adminnya akan disebut volunteers.

WAG tersebut adalah sarana anggota untuk memperoleh informasi terkait dengan event-event MTR skala nasional atau event lainnya. Anggota juga bisa bertanya tentang persoalan muamalah dan persoalan lain dalam kehidupan sehari-hari dan membahasnya dari sudut pandang Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS.Al-Baqarah:208). Ayat tersebut adalah visi yang diusung oleh MTR dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT untuk menegakkan Islam secara kaffah (menyeluruh). Misinya adalah menyeru, membimbing dan menyelamatkan umat dari fitnah riba dalam berbagai bentuknya serta mengupayakan optimalisasi potensi umat dengan sinergi yang syari.

Setiap WAG MTR juga memiliki rules of the game yang unik, diantaranya sesama anggota agar saling ta’aruf atau kenal mengenal, tidak hanya di dunia maya, namun berlanjut dalam kehidupan nyata salah satunya dengan cara datang dan hadir dalam event (Kopdar) MTR.

Membiasakan diri menjadi bagian dari tata kehidupan yang Islami, menjadi pribadi yang bertakwa dan ber-amar ma’ruf nahi munkar dan masih banyak lagi.

“Di komunitas ini, kita sama-sama berjuang melunasi hutang, selain itu kita juga meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT,” katanya.

Selain interaksi di dalam grup WAG, MTR memiliki beberapa kegiatan untuk melayani umat antara lain mengadakan Kajian Fikih Muamalah setiap bulan, ada kegiatan DOTS (Dakwah On The Spot), yaitu berupa tebar brosur informasi mengenai event-event tertentu MTR atau edukasi bahaya utang dan riba, dan juga ada acara temu atau Kopdar warga MTR.

“Setiap anggota atau warga MTR bisa hadir dan menyampaikan berbagai permasalahan hidup terutama yang berkaitan dengan hutang dan riba. Tak ketinggalan, mengadakan event skala nasional biasanya berupa seminar, training, dan workshop. Seperti pada 19 Januari ini MTR Sumsel di Kota Lubuklinggau akan mengadakan yang kedua kalinya Temu Pengusaha dan Masyarakat Tanpa Riba (TPMTR) di Ballroom Hotel Burza Lubuklinggau. Pada TPMTR ini akan dibahas bahaya riba dan juga peningkatan keimanan anggota,” paparnya.

Jadi, lanjut Anshor, jika warga Kota Lubuklinggau, siapapun itu, yang ingin bergabung dengan komunitas MTR caranya gampang, hanya dengan datang pada acara TPMTR di Ballroom Hotel Burza Lubuklinggau pada 19 Januari 2019 mendatang.

Hadirnya MTR ini, masyarakat juga makin paham dan sudah membuktikan akan ngerinya ketika terjerat riba. Banyak sekali yang merasa menyesal dan kapok untuk melakukan transaksi yang dilarang oleh agama tersebut.

MTR juga mampu melahirkan para pengusaha-pengusaha yang sukses. Bisnis para anggota MTR ini sangat beragam. Mulai dari bisnis kuliner, teknologi informasi, sampai bisnis kerajinan dan fashion.

Para pengusaha sukses ini membangun bisnis mereka sedari awal dan rata-rata mempunyai pengalaman tersangkut dengan transaksi riba. MTR membantu mereka untuk terus bisa survive dan berusaha lepas dari jeratan riba. Saling support dan memberikan dukungan kepada satu sama lainnya

Umat Islam sudah banyak beralih kepada transaksi dan muamalah yang sesuai dengan hukum Islam. Walau belum sepenuhnya optimal dan sempurna pelaksanaannya, keberadaan MTR cukup mempunyai pengaruh yang besar dalam perjuangan mengopinikan dan menerapkan ekonomi syariah.

“Namun, dengan tetap tekun berdakwah dan terus menerus memberikan edukasi dan opini tentang transaksi riba dan muamalah batil lainnya, bisa dipastikan makin meluasnya MTR ini, dan akhirnya mampu mewujudkan dan menjadikan perekonomian Indonesia makin stabil, mandiri, dan berkah, serta menyejahterakan rakyatnya. Harapannya, dengan adanya komunitas MTR, umat makin banyak yang sadar dan memiliki ilmu tentang bahaya riba bagi kehidupan di dunia dan akhirat hingga tumbuh kesadaran untuk kembali kepada aturan Allah SWT secara totalitas,” harapnya.

Seperti Ana Herlina, salah seorang anggota MTR Sumsel yang bergabung dengan MTR sejak awal 2018 ini mengatakan sangat merasakan betul manfaat gabung di komunitas ini.

“Awal masalah saya adalah hutang kartu kredit, yang membuat hidup saya terus gelisah. Sejak tahu MTR ini, saya tidak ragu dan nggak mikir lagi untuk langsung gabung menjadi warga MTR. Banyak yang sudah diberikan MTR kepada hidup saya, salah satunya mengenai akidah pemahaman keislaman, hingga strategi-strategi menghadapi masalah keuangan saya yang alhamdulillah terselesaikan dengan baik,”ceritanya.

Lain halnya dengan Widi, salah seorang mantan pegawai Bank ternama di Indonesia. Walaupun ia sempat mengalami gejolak batin yang cukup lama, tapi akhirnya dirinya benar-benar bergabung dengan MTR dan benar-benar meninggalkan profesi menjanjikan yang digelutinya selama 16 tahun tersebut.

“16 tahun menjadi pegawai bank ternama tidak menjamin ketenangan hidup, padahal gaji, tunjangan yang didapatkan begitu besar. Tetapi tetap saja semua itu kurang, segala investasi yang saya geluti selalu gagal, belum lagi hal seperti ini berdampak pada keharmonisan keluarga. Mulai dari situ saya mencoba mencari kebenaran dan mencari tahu mengenai riba. Saya orangnya kritis, jadi awalnya belum terima dengan hal riba tersebut, tapi lama kelamaan, dan semakin memperdalam, saya akhirnya bergabung dengan MTR pada Februari 2018, dan pada waktu itu belum sepenuhnya meninggalkan pekerjaan saya, hingga pada Juli 2018 saya benar-benar lepas dari pekerjaan saya tersebut dan mulai mengikuti kegiatan-kegiatan MTR,” ungkapnya.

Dan Widi bersyukur, semenjak ikut dan bergabung di dalam komunitas MTR, kehidupan pribadinya semakin aman, nyaman dan tenang. Bahkan sekarang dirinya sudah menjadi agen susu Supergood dengan penjualan terbaik nomor 1 se-Indonesia. (*)

Rekomendasi Berita