oleh

Ingin Direhab, Tapi Terkendala Kewenangan

LUBUKLINGGAU – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputera Dewa mengadakan Seminar Sehari, Selasa (30/7). Seminar dengan tema Sejarah Perjuangan Subkoss Tahun 1945-1950 yang bertempat di Aula Museum Subkoss Garuda Sriwijaya.

Seminar yang dibuka Sekda Lubuklinggau, H.A Rahman Sani menghadirkan narasumber Sejarawan H Suwandi Syam, Kepala Bidang Permuseuman Subkos, Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Sosial STKIP Lubuklinggau Ira Miyarni Sustianingsih, Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau, Andriana Sofiarini dan Sarkowi.

Eva Kusumawati, selaku staf UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan yang membawahi Museum Subkoss mengatakan seminar sehari ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan budaya.

“Jadi saat ini kebudayaan khususnya museum itu kurang diperhatikan, nah dengan adanya seminar ini salah satu upaya juga untuk optimalisasi fungsi museum sebagai tempat penelitian dan edukasi kultural yang dapat digunakan oleh masyarakat dan penggiat sejarah,” jelasnya Eva.

Beberapa peserta yang hadir dalam seminar ini merupakan para penggiat sejarah, mulai dari dosen STKIP, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara (Muratara), Dinas Pariwisata Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Muratara, para guru SMP, SMA atau SMK sederajat, tokoh adat, komunitas, sejarawan, dan generasi muda Lubuklinggau, Musi Rawas dan Muratara.

Diterangkan Eva, seminar sehari ini akan membawakan beberapa materi mengenai Sejarah Museum Subkoss seperti pemanfaatan museum sebagai sumber sejarah oleh Ira Miyarni, mengenai museum sebagai destinasi sejarah oleh Andriana Sofiarini serta peran generasi milenial terhadap Museum Subkoss oleh Sarkowi.

H Rahman Sani, menilai kegiatan seperti ini perlu dilaksanakan untuk mengingat sejarah.

“Iya khususnya Perjuangan Subkoss, karena kita tahu dulu Lubuklinggau juga menjadi tempat perjuangan melawan Belanda,” jelasnya, Selasa (30/7).

Menurut Rahman Sani, keberadaan Subkoss ini merupakan suatu yang perlu disyukuri karena dapat menjadi objek wisata sejarah dan saat ini beberapa kegiatan baik bersifat lokal dan nasional. Ia juga menambahkan bahwa dikarenakan Subkoss merupakan yayasan tingkat provinsi, hal ini menyebabkan susahnya koordinasi terutama untuk renovasi dan rehabilitasi.

“Sebetulnya Pemkot Lubuklinggau ingin merehab tapi terkendala dengan kewenangan provinsi dan anggaran. Tapi walau bagaimanapun Pemerintah Lubuklinggau memiliki perhatian penuh karena beberapa kegiatan telah diarahkan ke Museum Subkoss dan salah satu kegiatan seperti pramuka, yakni mengunjungi objek salah satunya adalah museum,” terangnya.

Dengan diadakannya seminar sehari tersebut diharapkan masyarakat tidak meninggalkan sejarah dan nantinya Lubuklinggau dapat menjadi kota tujuan baik destinasi wisata ataupun lainnya, tidak hanya sekedar kota transit saja. (cw5)

Rekomendasi Berita