oleh

Ingin Berobat Tidak Ada Biaya

Lima Bulan Tinggal di Pos Terminal

Sudarjo (96) kakek asal Desa SP 9 Kecamatan BTS Ulu Kabupaten Musi Rawas, sejak Agustus 2017 lalu terpaksa tinggal di Pos Terminal A Simpang Periuk, Kelurahan Simpang Periuk Kecamatan Lubuklinggau Selatan II. Apa alasannya ?

Laporan Daulat, Simpang Periuk

Kehidupan Sudarjo yang terpaksa tinggal di Pos Terminal Simpang Periuk, di posting oleh salah satu akun Instagram. Hal ini membuat saya tertarik, untuk menemui langsung sang kakek di tempat tinggalnya sementara. Saya pun penasaran, apa yang menyebabkan kakek berusia 96 tahun ini tinggal di Pos Terminal tersebut.

Tiba di terminal pukul 11.00 WIB, saya bertemu langsung dengan kakek Sudarjo. Ia pun memperkenalkan diri, kalau ia merupakan petani asal Banten, yang sudah menetap di Desa SP 9 Kecamatan BTS Ulu Kabupaten Musi Rawas sejak tahun 2005. Berpenghasilan kecil dan ingin sukses, yang membuatnya merantau kesana.

Ia sendiri mengaku hidup sebatang kara di Desa SP 9 Kecamatan BTS Ulu Kabupaten Musi Rawas. Istrinya sudah lama meninggal, sementara dari enam anaknya, tiga diantaranya menetap di Banten, dua anaknya di Malaysia dan Brunei Darusalam untuk merantau. Sayangnya hingga saat ini, belum tahu kabarnya.

“Saya ke Lubuklinggau ingin berobat,” ungkapnya saat disinggung, apa yang membuatnya datang ke Lubuklinggau.

Saat itu ia melanjutkan, dirinya datang ke Lubuklinggau dengan menggunakan angkot. Tujuannya ingin berobat, karena matanya yang sebelah kiri tidak bisa melihat sama sekali. Sayangnya belum sempat berobat, ia sudah ditolak oleh pihak rumah sakit lantaran tidak ada satu identitas pun yang ia bawa.

“Selain tidak punya uang, saya tidak punya KTP, KK atau BPJS. Karena tidak ada keluarga sama sekali, makanya saya terpaksa tinggal di Pos Terminal ini. Saya juga sudah bertekad tidak akan pulang, sebelum memeriksakan mata saya ke dokter,” ungkapnya kembali.

Selama belum bisa memeriksakan diri ke dokter, Sudarjo hidup mengandalkan dari belas kasihan masyarakat. Terkadang ada yang memberikan minuman, nasi atau makanan ringan bahkan beberapa uang. Namun tidak setiap hari, karena terkadang ia pun mengaku tidak bisa makan lantaran tidak ada yang memberinya makanan atau uang.

“Karena belum bisa berobat ke Rumah Sakit, saya diajak orang yang tidak dikenal untuk berobat kampung di Kecamatan Tugumulyo. Saya pun sudah menjalankan pengobatan alternatif ini, sudah sejak dua bulan yang lalu. Orang yang saya lupa namanya ini, yang rutin membawa saya berobat ke sana. Kalau penyakit saya sudah sembuh, saya akan pulang lagi ke asal saya Desa SP 9,” tegasnya. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita