oleh

Indonesia Terus Dibanjiri Gula Impor, Sampai Kapan Begini?

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) sepertinya sudah tidak mampu lagi untuk meningkatkan produksi gula. Atau jangan-jangan ada maksud lainnya, yang ujung-ujungnya kembali impor. Jika ini terus dibiarkan tidak akan ada lagi yang akan menanam tebu.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari hingga November 2018, impor gula sebanyak 4,6 juta ton. Angka itu meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2017, mencapai 4,48 juta ton.

Pihak Kementan mengemukakan alasan produksi tebu menurun salah satunya terjadinya penyusutan areal perkebunan tebu pada tahun 2019 menjadi 413 hektare dari 425 ribu hekatre pada tahun lalu.

Kini upaya yang dilakukan Kementan untuk meningkatkan produksi adalah melalui bantuan pendanaan dari swasta, selain menggunakan anggaran negara. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan rasio produksi dari tebu menjadi gula melalui revitalisasi pabrik.

Dengan upaya itu, Kementan optimis target produksi tebu gula nasional tahun 2019 mencapai 2,5 juta ton. Angka tersebut naik 19% dibanding capaian produksi tahun 2018 yang hanya 2,1 juta ton.

“Setelah melalui hitung-hitungan. Kami realistis (2,5 juta ton) bisa mencapai target produksi,” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Bambang, di Jakarta, belum lama ini.

Pemerhati Pertanian jebolan ITB, Juli Yulianto mengatakan, swasembada gula yang didengung-dengungkan pemerintah. Bukan hanya pemerintah saat ini tapi sejak pemerintahan sebelumnya, hanya sekadar lisan saja tanpa ada hasil. Menurut dia ada banyak faktor. Hal Inilah yang menyebabkan gula sulit untuk bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Catatan Juli, faktor-faktor tersebut yaitu pertama, kondisi pertanaman tebu di dalam negeri yang sebagian besar milik petani, kini kian tergerus beralih fungsi menjadi tanaman lain. Penyebabnya, lagi lagi soal harga gula yang didapatkan petani. Karena harga gula di tingkat petani kurang memberikan insentif untuk pendapatan, banyak petani tebu kini mengalihkan lahannya untuk usaha tani lainnya.

Kedua, kondisi pabrik gula di dalam negeri yang sebagian besar telah berumur uzur membuat produktivitasnya rendah. Pemerintah pernah memprogramkan revitalisasi pabrik gula di Jawa, tapi hingga kini progresnya tidak pernah kelihatan dampaknya. Bahkan karena terus merugi dan kekurangan bahan baku tebu, beberapa pabrik gula ditutup.

Ketiga, program pemerintah mendirikan pabrik gula baru berbahan baku tebu petani juga tidak kelihatan progress-nya. Baik pabrik gula di Jawa maupun luar Jawa. Dengan kondisi itu akan sulit meningkatkan produksi gula di dalam negeri. Sayangnya lagi, justru yang berkembang justru berdirinya pabrik gula rafinasi berbahan baku gula impor (raw sugar).

“Industri gula rafinasi tersebut akhirnya mengambil keuntungan karena dari pemerintah memberikan jatah kuota impor raw sugar. Sayangnya lagi, kebijakan pemerintah melarang peredaran gula rafinasi ke pasar umum (gula rafinasi hanya untuk industri) ternyata tak berjalan,” papar kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (18/1).

Lanjut dia, dari penelusuran di lapangan peredaran gula rafinasi di pasar tetap ada. Petani yang dulu bersuara keras menentang peredaran gula rafinasi ke pasar umum, sekarang juga tak lagi terdengar.

“Hal ini terjadi mungkin karena memang produksi gula di dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga peredaran gula rafinasi ke pasar konsumsi mendapat lampu hijau,” ujar dia.

Nah, menurut dia, jika melihat angka impor gula sebanyak 4,8 juta ton, bisa jadi terdiri dari gula rafinasi itu sendiri yang diberikan kepada industri makanan dan minuman yang pemerintah izinkan mengimpor langsung untuk kebutuhan industri.

“Selain itu impor gula mentah yang diberikan kepada industri gula yang mengolah menjadi gula konsumsi dan rafinasi,” katanya.

Lantas apa yang harus dibenahi pemerintah untuk meningkatkan produksi gula di dalam negeri? . Dia menjelaskan banyak persoalan harus dilakukan pemerintah karena bukan hanya persoalan on farm (budidaya) tapi juga off farm, termasuk industri gula dalam negeri berbahan baku tebu petani.

“Sekarang ini untuk mencari lahan baru untuk penanaman tebu juga tak mudah, karena bersaing dengan tanaman lain. Industri gula, terutama milik PT Perkebunan Nusantara II (PTPN). Kondisi ini berbeda dengan pabrik gula milik swasta seperti di Lampung, mereka mengelola lahan sendiri dalam bentuk hak guna usaha (HGU). Dengan demikian pasokan bahan baku terjaga,” jelas dia.

“Jadi PRnya, bagaimana memperbaiki pabrik gula dalam negeri yang umumnya milik PTPN dan juga bagaimana agar pasokan bahan baku untuk pabrik gula itu terjaga. Nah, kalau itu bisa dilakukan paling tidak untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi yang besarnya sekitar 2,6 juta ton bisa terpenuhi,” sambung dia.

Sementara menurut Pengamat Pertanian Dwi Andreas Santosa, mengemukakan ada tiga persoalan kenapa produksi gula di Tanah Air tidak meningkat alias stagnan, yaitu minimnya pabrik gula tanpa kebun. Setiap tahun hanya menggiling tebu 5 juta ton. Lalu, penurunan luas areal tebu yang relatif tinggi terutama di pulau Jawa. Kemudian, harga jual petani yang terbilang rendah Rp9.900. Sementara pemerintah melelang tebu sebesar Rp10.500.

“Sehingga banyak petani yang meninggalkan menjadi petani tebu,” ujar dia kepada FIN, kemarin.

Sikap pesimistis diungkapkan Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen. Menurut dia, sangat tidak mungkin produksi gula akan meningkat karena lahan pertanian yang kian menyusut, dan banyak petani yang mulai meninggalkan menggarap gula.

“Biaya produksi petani tebu Rp10.500 sampai 10.800, tapi dijual ke Bulog masa Rp9.700. Jadi pendapatan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Ini penyebab petani tidak tertarik menanam tebu,” katanya.(din/fin)

Rekomendasi Berita