oleh

Ikan Khas Sungai Mulai Berkurang

Akibat Ilegal Fishing Saat Musim Kemarau

LINGGAU POS ONLINE, LUBUK PANDAN – Marak warga yang mencari ikan di arus Sungai Lakitan Desa Lubuk Pandan, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas (Mura). Diduga mereka lakukan dengan cara menyetrum.

Akibatnya habitat ikan asli daerah tersebut seperti Dalum, Daseh dan Baung mulai berkurang. Warga mulai kesulitan berburu ikan akan dijual ataupun menjadi lauk makan sehari-hari. Biasanya per hari warga yang beraktivitas mencari ikan dengan cara memancing bisa mendapatkan puluhan ikan. Saat ini warga harus bersusah payah dengan cara menyelam di aliran sungai. Ditambah dengan melengkapi perbekalan memburu seperti anak panah.

“Kedalaman sungai hanya 2 meter karena saat ini ikan sangat sulit didapat warga. Hingga harus mencari dengan menambah peralatan. Penyebabnya masih ada oknum tidak bertanggung jawab mencari ikan dengan cara menyetrum yang membuat ikan kecil ikut mati,” jelas Anto (31) kepada Linggau Pos dikonfirmasi, Jumat (20/7).

Warga Desa Lubuk Pandan, Kecamatan Muara Lakitan menyatakan proses penangkapan ikan menggunakan setrum listrik tak hanya berdampak terhadap ekosistem perairan di sungai itu. Tapi, kata dia, memengaruhi lingkungan di sekitarnya.

“Di Mura masih banyak sebaran-sebaran anak sungai dan dihuni banyak ragam jenis ikan. Nah, kalau diburu terus menerus dengan cara disetrum, lama kelamaan habitatnya habis, lingkungan juga rusak,” ucap bapak tiga orang anak ini.

Selain itu, kebanyakan warga melakukan perburuan ikan banyak dilakukan pada siang dan malam hari. Kendati warga sekitar mengaku keberadaan ikan khas di sungai itu mulai berkurang serta langka akibat adanya perburuan menggunakan setrum listrik.

“Ikan Dalum itu mirip ikan Baung tapi warna dagingnya kuning. Lalu ikan Daseh secara keseluruhan hampir mirip juga, jenis ikan-ikan itu mulai langka,” ungkap Anto mengingatkan sebaiknya warga ingin mencari ikan dengan cara memanah. Bukan dengan cara disetrum. Karena dengan memanah tidak bahaya dilakukan, apalagi saat kemarau air Sungai Lakitan dalam keadaan jernih.

Secara terpisah, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Mura, Bambang Heriadi melalui Kabid Pemberdayaan Usaha Kecil Pembudidayaan Ikan, Ervan Malik mengatakan ilegal fishing kerap sekali terjadi saat musim kemarau.

Ia minta kesadaran masyarakat sama-sama menjaga ekosistem ikan. Jika warga melihat ada orang lagi menyetrum, segera laporkan ke pihak terkait.

“Memang tidak bisa dipungkiri, kalau menyetrum ikan ini masih kerap terjadi di beberapa titik wilayah di Mura. Terlebih di daerah terpencil yang jauh dari pantauan,” kata Ervan Malik.

Menurut Ervan Malik, hal tersebut lantaran masih minimnya pemahaman masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem hayati. Sebab, menangkap ikan menggunakan sentrum akan membunuh bibit-bibit ikan yang masih kecil.

“Kalau ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin anak cucu kita tidak akan lagi bisa menikmati jenis ikan tertentu, karena kepunahan dan kelangkaannya,” ucapnya.

Pihaknya, sambung dia, gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat mencegah ilegal fishing ini terjadi.

“Mari kita sama-sama menjaga ekosistem hayati kita, jangan sampai penerus kita hanya akan tahu namanya saja, tanpa melihat,” imbaunya. (04)

Rekomendasi Berita