oleh

Ibu Dedek Ingin Aldo Dihukum Mati

LINGGGAUPOS.CO.ID- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau kembali menyidangkan terdakwa kasus pembunuhan Abdie Haqim Perdana alias Dedek (15), Rabu (31/3).

Para terdakwa itu yakni, Aldo Gustiawan alias Aldo (18) warga Jalan KBS, Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, dan rekannya Rangga Julian Saputra alias Rangga (18) warga Jalan Proyek, Kelurahan Kayu Ara, Kecamatan Lubuklinggau Barat I.

Sidang dengan agenda menghadirkan pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau ini diketuai Majelis Hakim Andi Barkan didampingi Hakim Anggota Lina Sapitri Tajili dan Ferri Irawan serta Panitera Pengganti (PP) Dewi.

Sedangkan terdakwa yang berada di Lapas Klas IIA Lubuklinggau didampingi Penasehat Hukum (PH) Darmansyah. Pembunuhan terhadap Dedek terjadi di kebun karet belakang Bandara Silampari, Kelurahan Air Kuti, Kecamatan Lubuklinggau Timur I.

Jasad korban yang sudah dikuburkan para tersangka ditemukan 12 November 2020. Sidang yang dilaksanakan via Zoom Meeting ini juga dihadiri keluarga korban.

JPU Rodianah mengatakan, kali ini saksi dari rekan tersangka yang sebelumnya sudah diputuskan PN Negeri Lubuklinggau dan sekarang menjalani hukuman yakni Ari Munandar (27), Ridwan, dan Aditia Siwanda.

Hakim Andi Barkan yang membuka sidang langsung menyumpah tiga saksi yang hadir di bawah Al-Quran agar memberikan keterangan sebenarnya.

Dalam kesempatan itu pemeriksaan saksi dilakukan sekaligus dan ketiga saksi membenarkan adanya aksi pembegalan terhadap Dedek. JPU Rodianah kembali bertanya kepada Saksi Aditia Sirwanda (tetangga korban) sebelum kejadian malam Kamis datang ke kosan Aldo, dan mengatakan pada Aldo ingin membunuh korban.

Sehingga terjadi pembegalan berturut-turut namun gagal. Sehingga hari ketiga korban diajak pergi ke kos Aldo.

“Saat itu Aku, dan Aldo mengajak korban keluar. Aldo sudah pegang pisau. Aldo membunuh korban dengan cara menusuk dari belakang dan ketiak. Setelah korban meninggal. Saya meminta Aldo untuk membuang mayatnya, takut ada orang yang lewat. Sehingga dibuangnya ke dalam hutan sekitar 100 meter dari jalan,” aku Aditia Sirwanda.

Malam harinya, jasad Dedek dikuburkan Rangga dan Ridwan. Saksi Ridwan dalam sidang itu mengakui menjual motor korban ke Desa Palak Curup, Provinsi Bengkulu seharga Rp 2,9 juta.

Dari penjualan tersebut, Terpidana Aditia Sirwanda dapat Rp 1 juta yang digunakannya untuk nebus laptop Rp 800 ribu dan sisanya untuk belanja.

Sementara Ridwan dapat Rp 150 ribu, Rangga Rp 150 ribu, sisanya semua dipegang Aldo. Dengan uang tersebut Aldo bayar hutang dengan Nolando Rp
200 ribu. Sedangkan Ari Munandar tidak mendapatkan bagian.

Dia hanya dapat uang untuk beli minyak mobil mengantarkan Terdakwa Aldo lari ke Jambi.

Sementara Terpidana Ari Munandar mengakui bahwa ia melepas plat motor korban di dalam kontrakan Aldo, karena sudah mengetahui korban sudah meninggal.

Tidak hanya itu Terdakwa Aldo dan Rangga juga mengakui bahwa sebelum kejadian ingin membegal korban yang saat itu sudah direncanakan namun gagal dilakukan.

Dari keterangan tiga saksi, Hakim bertanya kepada Terdakwa Aldo, dan semua benar dan kedua terdakwa tidak keberatan. Begitu juga ketiga saksi yang hadir juga membenarkan semua keterangan Aldo dan Rangga.

Sehingga dari itu Hakim kembali menunda sidang pada minggu depan Rabu (14/1) dengan agenda mendengarkan tuntutan dari JPU Rodianah.

Ibu korban Mely Sri Sudewi saat hadir dalam sidang tersebut berharap kepada Majelis Hakim PN Lubuklinggau menghukum Terdakwa Aldo dan Rangga seberat-beratnya.

“Bila perlu hukuman mati, agar keluarga saya puas karena mereka sudah menewaskan anak kandung saya. Selama kejadian hingga saat ini tidak ada perdamaian yang dilakukan dari pihak terdakwa,” ungkap Mely.(*)

Sumber: Linggau Pos

Rekomendasi Berita