oleh

Hidup Serumah dengan ‘Madu’

Kisah hidup ini dialami DS (35). Warga Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas. Ia mengaku harus dimadu sang suami karena lantaran aku tidak bisa memberikan keturunan kepadanya dengan kata lain aku mandul.

Aku menjalani hubungan rumah tangga bersama AS (40). Lebih kurang 10 tahun. Tetapi selama 10 tahun menjalani kehidupan rumah tangga, kami hanya berdua tanpa adanya kehadiran seorang anak.

Bukan karena tidak ingin mempunyai anak ataupun keturunan, namun aku tidak bisa mengandung karena aku pernah mengalami kecelakaan sehingga rahimku tidak bisa mengandung dan mempunyai anak.

Awalnya suami tidak mengetahui bahwa aku tidak bisa mengandung dan mempunyai anak, sebab aku sangat mencintainya dan takut kehilangannya sehingga aku merahasiakan dari dirinya.

Sampai akhirnya ia mengetahuinya dan sangat marah hingga akhirnya ia memutuskan untuk menceraikan aku atau aku harus menerima permintaannya untuk menikah lagi.

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengizinkannya menikah lagi dibandingkan aku harus berpisah darinya sebab aku sangat mencintai dan takut kehilangannya.

Jujur aku sangat berat memberikan izin suamiku untuk menikah lagi, tetapi apa boleh buat demi kebahagiaan dia yang tidak didapatkan dari diriku yakni ingin mempunyai keturunan.

Saat ini kami hidup bertiga di dalam satu rumah, jujur kadang-kadang aku merasakan cemburu sebab perhatiannya lebih banyak kepada maduku dibandingkan aku. Namun apa boleh buat harus aku tahan dan ikhlas menjalaninya mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku.

Suamiku saat ini nampak gembira terlihat dari raut mukanya sebab maduku saat ini sedang hamil anak pertama, apa yang ia inginkan dariku dan tidak bisa aku berikan akhirnya maduku bisa memberikannya.(16)

Komentar

Rekomendasi Berita