oleh

Hendak Digeser PDIP Sebagai Caleg Terpilih, Riezky Aprilia Jawab Seperti ini

LINGGAU POS ONLINE – Calon Terpilih (Calih) DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Selatan (Sumsel) I, Riezky Aprilia mengatakan ia berpegang teguh pada aturan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Khususnya tentang penetapan yang sudah dilakukan oleh KPU.

Ibu yang akrab dipanggil Kiky ini menjelaskan, sebagai kader patuh dan tunduk atas perintah partai. Bahkan, dirinya berkeyakinan KPU RI juga berpegang teguh dengan aturan yang ada.

“Prinsipnya, apapun yang terjadi dalam politik merupakan dinamika. Yang pasti KPU sudah menetapkan Calih dan PDIP adil dalam menyikapi dinamika yang ada,” jelasnya, Minggu (1/9/2019).

Berdasarkan pengamatannya baik KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara Pemilu, dan PDIP sebagai partai yang sudah mengantarkannya ke Senayan, profesional menyikapi setiap dinamika yang ada.

Sebelumnya PDIP meminta KPU membatalkan keterpilihan tiga Calon Anggota Legislatif (Caleg) mereka. Hal ini disampaikan PDIP dalam rapat pleno terbuka penetapan kursi dan calon terpilih anggota DPR dan DPD, Sabtu (31/8/2019).

“Di daerah pemilihan Sumsel I satu orang (yang minta dibatalkan), (Dapil) Kalimantan Barat I ada dua orang,” kata saksi PDIP Candra Irawan dalam rapat pleno di KPU, Menteng, Jakarta Pusat.

Candra mengatakan, Caleg PDIP yang meraih suara terbanyak di Dapil Sumsel I meninggal dunia.

Untuk mengisi kursi tersebut, KPU kemudian menyatakan Caleg bernama Riezky Aprilia sebagai pengganti Caleg terpilih.

Sebab, Riezky mendapat suara terbanyak setelah Caleg tersebut. Namun, PDIP ingin menempatkan Caleg lain untuk mengisi kursi tersebut, yakni Harun. Oleh karena itu, PDIP meminta KPU membatalkan keterpilihan Riezky.

“Putusan MA (menyatakan) memberikan suara kepada Parpol. Parpol kami memberikan ke nomor 6 atas nama Harun,” ujar Candra.

Sementara dua Caleg Dapil Kalbar I yang ingin dibatalkan keterpilihannya oleh PDIP ialah Alexius Akim dan Michael Jeno.

Di Dapil tersebut, Alexius Akim mendapat suara terbanyak kedua, tetapi yang bersangkutan dipecat oleh PDIP karena melanggar kode etik. (*)

Laporan: Aan Sangkutiyar

Rekomendasi Berita