oleh

Harus Hijrah, Jangan Stagnan

Memaknai 1 Muharam 1440 Hijriah

Ragam peristiwa bersejarah tentang kemenangan terjadi saat bulan Muharam. Hendaknya, kemenangan itu pula yang terjadi pada diri kita, di tahun baru Islam ini. Setiap diri, harus punya cita-cita hijrah dari yang kurang baik menjadi lebih baik.

Laporan Sulis, Air Kuti

KEMARIN, umat Islam memperingati 1 Muharam 1440 Hijriah. Ribuan anak didik dari SDIT, SMPIT, bahkan RA mengingatkan masyarakat akan bulan bersejarah itu.

Pimpinan Pesantren Modern Ar Risalah, H Moh Atiq Fahmi, Lc menyampaikan pemaknaannya tentang 1 Muharam.

Muharam, kata dia, banyak peristiwa bersejarah yang istimewa. Terutama tentang kemenangan-kemenangan yang terjadi di bulan Muharam.

Diantaranya, Nabi Musa terselamatkan dari kejaran Firaun pada 10 Muharam. Nabi Yunus terselamatkan dari perut Ikan Paus di Bulan Muharam. Nabi Ibrahim terselamatkan dari apinya Namrud saat bulan Muharam juga.

Termasuk Nabi Daud diangkat jadi raja oleh Allah SWT pada bulan Muharam. Tak hanya itu, peristiwa ditaklukkannya Mekkah juga terjadi saat Muharam.

“Istimewanya Muharam juga harus termaknai dalam diri kita. Salah satunya dengan hijrah. Ini harus jadi salah satu cita-cita kita yang utama mengawali bulan Muharam. Kalau tidak hijrah, sia-sia saja Muharam tahun ini,” ajak dia.

Upaya yang wajib dilakukan tak sekadar kerja keras, namun juga berdoa.

“Terkhusus dengan tanggal 9-10 Muharam, kita disunahkan berpuasa. Hikmahnya, yang utamanya mengikuti Sunah Nabi Muhammad SAW,” jelas alumni Al-Ahqaaf University of Yaman ini.

Terkait dengan pemerintah sekarang, pada momen tahun baru Islam, ia berharap pemerintah lebih perhatikan pendidikan, karena pendidikan saat ini sudah bukan lagi pendidikan. Hanya sebuah aktivitas belajar mengajar saja. Padahal, menurut Ust Fahmi, pendidikan harus benar-benar bermakna pendidikan.

“Karena di dunia pendidikan sekarang banyak murid-murid tidak mendapatkan haknya, disebabkan oleh sistem pendidikan itu sendiri, dan juga guru-guru saat ini, jadi terbatas langkah dan sikapnya, ketika ingin melakukan tanggung jawabnya. Tolong pemerintah, perbaiki dan kaji ulang kebijakan soal pendidikan ini,” pinta Ust. Fahmi.

Kedua, terkait perekonomian rakyat. Ia minta pemerintah betul-betul harus diperhatikan, jangan memperkaya yang kaya, tapi keberkahannya tidak memberikan efek positif kepada masyarakat bawah.

“Tolong jangan melakukan perekonomian yang menghancurkan hak-hak ekonomi rakyat. Contoh, pasar modern dibangun, tetapi pasar tradisional berantakan,” kata dia.

Terakhir, terkait dengan politik. Ia meminta masyarakat untuk tidak merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Dan kepada para Caleg, para Capres, dan Timses tidak menggerakkan rakyat berperang dengan saudaranya sendiri. Berpolitiklah, tapi jangan licik dalam politik. (*)

Rekomendasi Berita