oleh

Harga Komoditi Sayur Sulit Diprediksi

LINGGAU POS ONLINE – Harga komoditi sayuran yang banyak dihasilkan petani Kabupaten Rejang Lebong sulit untuk diprediksi, kapan mengalami kenaikan dan kapan mengalami penurunan harga.

“Kapan murah, kapan mahal sulit diprediksi,” kata Ujang (53) salah seorang pemilik kios pupuk di kawasan Pasar Tengah Curup.

Namun kata Ujang, untuk produksi pertanian tergantung dengan penggunaan pestisida dan pupuk.

“Kalau hasil komoditinya rendah otomatis penggunaan pupuk dan pestisida sedikit karena hasilnya tidak sesuai. Namun kalau harga komoditinya mahal penggunaan pupuk dan pestisida meningkat,” paparnya.

Menurut Ujang, sulitnya memprediksi harga komoditi sebaiknya kalangan petani tetap melakukan penanaman kapan saja selagi ada lahan, waktu maupun pas ada modal biaya.

“Jangan pas murah tidak menanam dan pas harga mahal banyak yang menanam,” paparnya.

Sehingga sambungnya, kapan saja ada waktu siap melakukan cocok tanam segera dilakukan.

Sementara itu, Heri (35) petani warga Sumber Bening Selupu Rejang mengaku, biasanya jika komoditi hasil cocok tanam mengalami harga yang tinggi pada saat hasil produksi yang dihasilkan jarang dilakukan cocok tanam oleh kalangan petani.

“Misal, pas musim tanam cabai banyak tanaman cabai yang terserang penyakit, pas kebetulan jarang yang menanam, harganya bisanya akan mahal saat musim panen, namun ada juga harga tetap stabil karena adanya kiriman dari luar daerah,” katanya.

Saat ini, sambungnya, kalangan petani hanya berharap harga hasil produksi stabil sehingga petani bisa mengukur kebutuhan dan biaya yang dibutuhkan untuk cocok tanam jenis sayuran tertentu.

“Tidak usah mahal-mahal, tapi stabil, kalau tidak stabil kadang petani ada yang rugi karena panennya dapat murah dan ada yang untung besar karena pas masa panen harganya mahal,” ungkapnya. (sam)

Rekomendasi Berita