oleh

Harga Gula Pasir Masih Melambung

LINGGAUPOS.CO.ID- Rupanya janji pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menstabilkan harga gula pasir hanya sekadar ucapan lisan saja. Buktinya, harga gula di pasar nasional masih mahal.

Melansir laporan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) milik Bank Indonesia, harga gula dari Rp18.200 per kilogram (kg) pada Minggu (3/5) menjadi Rp18.050 per kg pada hari ini. Namun, harga jual tersebut masih lebih tinggi dari target harga eceran tertinggi (HET) di level Rp 12.500 per kg.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran mengatakan, tingginya harga gula pasir lantaran minimnya pasokan bahan pangan tersebut. “Betul. Jika stok cukup harga turun, kalau stok tipis harga pasti naik,” ujar Ngadiran, kemarin (4/5).

Menyoal seberapa besar kekurangan stok pada gula pasir. Ia mengaku tak bisa memperkirakan sebab datanya berada di tangan Kemendag dan Kementerian Pertanian (Kementan). Namun, kata dia, meski keran impor gula pasir telah dibuka, akan tetapi kenapa harga gula masih tetap tinggi. “Gula impor sudah masuk tapi kenapa harga masih mahal, aneh juga,” ucap dia.

Sementara itu, Komisi Pengawas Persaiangan Usaha (KPPU) menilai, melambungnya harga gula lantaran lambatnya kinerja Kemendag untuk menekan harga komoditas tersebut Nah, akibatnya, hingga 3 April 2020 KPPU masih menemukan 34 provinsi masih menjual gula pasir di atas HET.

Seharusnya, kata dia, Kemendag bergerak cepat melihat kondisi demikian dengan mengeluarkan surat perizinan impor (SPI) dan mempermudah persyaratan-persyaratan bagi para importir. “Seharusnya sudah sekian tahun Kemendag sudah tahu mana importir yang bonafit mana yang tidak,” kata kata Guntur.

Terpisah, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna berpandangan, kenaikan sejumlah harga komoditas bahan pangan pada Ramadan dan Idul Fitri merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Namun, seharusnya pemerintah bisa belajar dari kasus kenaikan bahan pangan tersebut dengan berupaya menstabilkan harga pangan seperti gula pasir. “Harga gula memang naik selama Ramadan seiring kenaikan permintaan. Untuk mengatasi itu pemerintah harus melakukan operasi pasar,” ujarnya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (4/5).

Upaya lainnya, lanjutnya, pemerintah bisa langsung membeli gula putih kepada petani, yang kemudian memasarkannya langsung kepada masyarakat. “Untuk memotong mata rantai distribusi, yakni pemerintah bisa membeli gula langsung dari petani, dan menjual ke konsumen,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menyatakan, terus berupaya menstabilkan harga gula dengan cara memotong rantai distribusi. Pasalnya, pihak Kemendag telah menemukan biang kerok harga gula melambung tinggi, yakni adanya pelelangan gula di atas HET Rp12.500 per kg seperti yang tertuang dalam Permendag Nomor 7 Tahun 2020. Agus juga mengingatkan kepada produsen agar pelelangan tak boleh melebihi HET di konsumen.

“Berkat kerja sama dengan Satgas Pangan, ditemukan ada pelelangan sebesar Rp12.900 per kg, sehingga menimbulkan harga ke distributor Rp15 ribu per kg. Ujungnya di pasaran sekitar Rp17 ribu per kg, kurang lebih seperti itu,” ujar Agus.(din/fin)

Rekomendasi Berita