oleh

Harga Beras di Petani Masih Tinggi

LINGGAU POS ONLINE, CURUP – Stok beras di Kabupaten Rejang Lebong tak berpengaruh atas kenaikan harga. Pasalnya harga penjualan beras ditingkat petani hingga saat ini masih sangat tinggi.

“Sekarang ditingkat petani beras masih tinggi mas per kalengnya masih Rp 170.000” aku petani padi Suhartini (53) warga desa Cawang Lama Kecamatan Selupu Rejang, Rabu (17/1).

Menurut Suhartini, tingginya harga beras diperkirakan masih sedikitnya petani yang sedang melakukan pemanenan padi.

“Kalau sekarang belum musim panen, ini juga padi dari seberang Musi,” tutur Suhartini sembari menjemur padi di teras halaman rumahnya.

Menurut Suhartini, Rp 170.000 per kaleng ini petani menjual ke tingkat pengepul.

“Kalau sudah di warung bisa sampai Rp 180.000 per kaleng,” paparnya.

Diperkirakan, beras akan murah saat musim panen kisaran bulan Februari hingga Maret.

“Kalau di sini kebanyakan sedang musim tanam semua mas, belum ada yang panen,” tambahnya.

Ia juga menambahkan, kalangan pemilik padi biasanya menjual dalam bentuk beras dan digiling ke tempat penggilingan.

“Kita giling sendiri mas, soalnya mau mengambil dedak (ampas padi) untuk makan ternak, satu kaleng dedak harganya sudah di atas Rp 100 ribu,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Rejang Lebong, Ahmad Rifa’i mengakui jika saat ini harga beras masih cukup tinggi di pasaran.

“Kalau produksi tidak masalah dan masih stabil, mungkin terjadi spekulan-spekulan di pasaran dan nanti akan kita pantau,” akunya.

Rifai juga mengaku, akan membentuk tim bersama Bulog, dinas perdagangan dan pihaknya untuk turun kelapangan dalam minggu ini.

“Kalau produksi beras ada didata, aku lupo jangan sampai salah sebut,” katanya.

Mengatasi hal ini juga, katanya, pihaknya sudah mewacanakan akan melakukan operasi pasar.

“Kalau produksinya stabil, sekarang sudah ada panen tapi belum terlalu signifikan, diperkirakan musim panen mulai pada bulan 2,” paparnya.

Sementara itu, untuk lahan produktif persawahan di Kabupaten Rejang Lebong saat ini berjumlah sekitar 9982 hektare.

“Kalau yang tidak produktif karena persawahan mengandalkan irigasi desa, tadah hujan sekitar 300-600 hektare,” tambahnya.(09)

Komentar

Rekomendasi Berita