oleh

H Nanung : Jangan Sampai Negeri ini Dijajah Lagi

Menjelang Hari Veteran Nasional 2019

LINGGAU POS ONLINE – 10 Agustus 2019 mendatang, Bangsa Indonesia akan memperingati Hari Veteran Nasional. Momen ini diadakan untuk mengingatkan generasi bangsa agar tetap menghargai perjuangan para pahlawan. Sekaligus jadi motivasi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Laporan Afri Yadi, Lubuklinggau

GUNA menggali lebih dalam tentang bagaimana kegigihan para pahlawan mengusir penjajah, saya berkesempatan membincangi H Nanung Abdul Hasyim, di kediamannya Jalan Kini Balu RT.03 No.29, Kelurahan Jawa Kiri, Selasa (6/8).

Diskusi kecil kami di kediaman H Nanung, seakan membangkitkan kembali semangat perjuangannya saat berperang melawan tentara Belanda.

Kakek 93 tahun ini menuturkan, dengan modal tekad dan berani berjuang mengusir Belanda.

Pejuang Laskar 1945 dari anggota ABRI yang kini menjadi Ketua Markas Cabang Legiun Veteran Kabupaten Musi Rawasitu berkantor di Belakang Museum Subkoss Garuda, Kelurahan Pasar Pemiri. Dalam memimpin organisasi itu, ia dibantu Sekretaris H Hamzah Kodir dan Kastomo.

Suami dari Almh Hj Zainap (85) tersebut, kini hidup didampingi 10 anak, 30 cucu dan 30 cicit.

H Nanung menceritakan sejak usia 17 tahun ia mulai berperang.

“Saya bersama pejuang lain melawan bangsa Belanda dan Tentara Gurkha yang merupakan tentara bayaran Hindia Belanda. Saya berperang dari Palembang terus mundur kembali. Pada saat melawan Belanda di Prabumulih kami diserang di lori sehingga anggota saya sebanyak 14 meninggal karena ditembak Belanda. Hanya saya sendiri lolos dari tembakan dari tentara Belanda saat mau ambil senjata di markas Belanda. Sebab, kami saat itu hanya pakai senjata tradisional.” tutur H Nanung.

Selama ia berperang, yang paling sulit ketika berasrama 8 Ilir Palembang.

“Saat itu, saya baru jadi laskar belum menjadi TNI sehingga berperang melawan Belanda tanpa senjata. Hanya mengandalkan senjata tradisional. Saat kembali ke Musi Rawas ditarik menjadi Batalion 36 untuk mengikuti pelatihan menjadi TNI yang berlangsung di Rejang Lebong dan penutupannya di Kepahiang,” jelasnya.

Ia kembali menceritakan, saat penjajahan Belanda, tentara Indonesia bersama Jepang bersatu untuk berperang melawan Belanda. Sehingga tentara Belanda kabur dari Indonesia berkat bantuan Jepang, Juli 1942. Padahal Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Sampai melakukan monopoli perdagangan.

Namun, kelegaan Indonesia tak berlangsung lama. Karena selisih paham, sehingga Indonesia justru dijajah Jepang selama 3,5 tahun.

“Indonesia dibantu Sekutu dengan mengebomkan atom di Hiroshima Nagasaki sehingga Jepang mengaku kalah sehingga 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka,” jelasnya.

Sesudah merdeka pada tahun 1946 kembali ke Kabupaten Musi Rawas dengan menemui pesirah di Kabupaten Musi Rawas untuk mendirikan Laskar Kantor Barisan Pelopor Republik Indonesia (BPRI) dan tahun 1947 datang Presiden Sukarno ke Jayaloka melalui Bengkulu dengan meresmikan tentara pemberontak dipanggil Sukarno untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Saat di Jayaloka itu, saya yang memimpin veterannya.

Usai menceritakan gerilyanya melawan penjajah, H Nanung memiliki pesan khusus untuk aparat maupun sipil. Khususnya pada momen peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus 2019, ia meminta aparat, maupun sipil jangan sampai Indonesia dijajah lagi, baik fisik, mental maupun ekonomi agar negara jadi rakyat damai dan sejahtera. (*)

Rekomendasi Berita