oleh

Gunung Anak Krakatau Terbelah

Enam Desa Masih Terisolasi

JAKARTA – Tumpahan material vulkanis terus meluas. Ini dampak tremor Gunung Anak Krakatau (GAK) yang masih bergetar. Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan longsoran sampai 64,2 Hektare (Ha) dan terus mengalami tumpahan ke Selat Sunda.

Indikasi lain dari umpahan meterial vulkanis ini, mengakibatkan adanya potongan besar badan GAK yang hilang. Fakta-fakta tersebut ini terlihat dari data yang ditunjukkan citra satelit, sebelumnya dan sesudah 11 Desember 2018.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) belum dapat memberikan gambaran secara detail terkait fenomena alam tersebut. Pasalnya tim yang ditugaskan pada area GAK hingga kemarin belum bisa mendekat. Faktor cuaca dan gelombang besar menjadi pertimbangan.

“Pemantauan terkendala. Tim harus mendekat untuk mengetahui potensi longsor di tubuh GAK, sebelum dilakukan kajian,” singkat Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Kristianto, Selasa (25/12).

Sementara itu Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono membenarkan jika, GAK terus mengalami longsor. Kondisi ini begitu terlihat baik sebelum maupun sesudah tsunami.

“Area longsor kentara,” terangnya.

Material yang longsor itu, kata dia, menimbulkan getaran yang tercatat seismograf BMKG di Banten dan Lampung. Dari hasil analisis BMKG, material longsoran itu setara dengan kekuatan gempa 3,4 Skala Richter (SR).

Selain pemantauan tsunami di tengah Selat Sunda yang terus dilakukan secara intens. Pemasangan peralatan pemantau seperti stasiun pasang surut di pulau sekitar GAK maupun pemantauan visual dengan penginderaan jauh diperlukan.

“Ini kan banyak faktor yang bisa mengakibatkan collapse selain tumpahan material sampai faktor kemiringan lereng,” katanya.

Sementara itu, Operasi laut dengan kapal milik TNI-AL tidak sekadar mencari korban hilang yang berada di kawasan Selat Sunda. Tim juga bergerak sampai Teluk Cirebon termasuk mendistribusikan bantuan ke titik-titik daerah terisolasi.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menuturkan fokus utama penanganan dampak tsunami adalah evakuasi dan pencarian korban dengan membuka isolasi daerah terpencil.

Di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang ada tujuh desa yang sejauh ini masih menjadi fokus evakuasi.

“Sejak sore, baru satu desa yang terjangkau tim gabungan. Kondisi hujan dan jalur rusak menjadi kendala,” terangnya, kemarin (25/12).

Sementara enam desa yang masih terisolasi karena akses transportasi terhambat yakni Desa Cigorondong, Kertajaya, Sumberjaya, Tunggajaya, Ujungjaya, dan Kertamukti.

“Kami mendapatkan informasi kerusakan sejumlah desa itu parah,” terangnya.

Sutopo menambahkan status bencana tsunami di selat Sunda itu berstatus sebagai bencana kabupaten. Dia memastikan bahwa pemerintah kabupaten sanggup menangani bencana tersebut.

“Tidak ada wacana bencana nasional,” tandasnya.

Sutopo juga membenarkan adanya tawaran bantuan dari Australia. Namun pemerintah Indonesia sampai saat ini belum membuka keran bantuan internasional.

“Presiden RI Joko Widodo belum mengeluarkan instruksi untuk membuka saluran bantuan internasional,” tegasnya.

Ia pun menegaskan data BNPB terkait soal jumlah korban terus di-update, sejalan dengan pencarian korban hilang dan penanganan korban luka bencana.

“Yang pasti pencarian korban hilang menjadi prioritas. Khususnya pada kawasan terpencil,” terangnya.

Yang menarik dari pernyataan Sutopo, adanya laporan korban tsunami di daerah teluk Cirebon.

“Kita belum dapat memastikan tapi terus kami lakukan pengecekan. Karena luasnya area potensi hanyutnya korban begitu luas,” imbuhnya.

Sutopo juga menegaskan jika letusan atau erupsi Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember lalu bukan letusan yang terbesar.

“Erupsi ini yang lebih besar pada periode Oktober-November,” timpalnya.

Kejadian ini sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mengembangkan sistem peringatan dini tsunami yang dibangkitkan oleh longsor bawah laut dan erupsi gunung berapi. Apalagi di Indonesia saat ini ada 127 buah gunung aktif.

Ya, dalam catatan sejarah Indonesia, sebanyak 90 persen tsunami dibangkitkan gempa bumi. Sisanya 10 persen tsunami dipicu oleh longsoran bawah laut dan erupsi gunung berapi.

Dia menuturkan bahwa gunung Anak Krakatau terus erupsi sejak Juni lalu hingga saat ini. Erupsi gunung Anak Krakatau bertipe stromboli atau strombolian.
Di mana letusannya mengeluarkan lava yang cair tipis, tekanan gas yang sedang, dan letusannya mengeluarkan material padat, gas, serta cairan.

“Radius 2 km dari puncak kawah gunung Anak Krakatau ditetapkan sebagai zona berbahaya. Tidak boleh ada aktivitas manusia,” tegasnya.

Terpisah Kapendam III Siliwangi, Kolonel Arh Hasto Respatyo mengatakan, salah satu alutsista yang dikerahkan dalam upaya penyisiran adalah KRI Torani. Selain itu, ada juga KRI Teluk Cirebon, serta kapal milik Basarnas dan Bakamla.

Unsur TNI AL menyisir dari wilayah Carita sampai dengan wilayah Sumur bagian selatan.

“Menyisir sepanjang pantai untuk menemukan kemungkinan korban yang berada di laut,” ujarnya.

Dalam pencarian di laut kemarin, Bakamla menemukan satu orang korban meninggal, Selasa pagi. Korban yang belum diketahui identitasnya tersebut ditemukan dan dievakuasi pada koordinat 06 27’ 022 S 105 41’ 283 T dan diserahkan kepada tim.

Kasubbag Humas Bakamla RI, Letkol Bakamla Mardiono mengatakan, dalam pencarian, bakamla menggunakan KN. Belut Laut-4806. Dia mengatakan, proses pencarian masih akan terus dilakukan hingga beberapa hari ke depan.

“Rencananya operasi akan terus dilaksanakan hingga dinyatakan selesai oleh Basarnas,” terangnya.

Sutopo Purwo Nugroho juga mengungkapkan, tim SAR gabungan terus bergerak mencari korban. Beberapa daerah yang sebelumnya sulit dijangkau karena akses tertutup material hanyutan tsunami, sebagian sudah dapat dijangkau petugas.

“Hal ini menyebabkan korban baru terus ditemukan oleh petugas tim SAR gabungan,” kata Sutopo, kemarin.

Dia mengatakan, jumlah korban dan daerah terdampak paling parah adalah pesisir Kabupaten Pandenglang. Daerah ini merupakan kawasan wisata dengan fasilitas hotel dan vila yang berderet di sepanjang pantai (lihat grafis).

Ditambah lagi, tsunami terjadi saat libur panjang sehingga banyak wisatawan menginap di hotel dan vila. Tidak adanya peringatan dini tsunami juga menyebabkan jatuh korban cukup banyak. Sebab, masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.

Sutopo mengatakan, jumlah pengungsi yang semula 11.453 orang, saat ini berkurang menjadi 5.361 orang. Berkurangnya pengungsi karena mereka kembali ke rumahnya. Kemarin mereka mengungsi karena isu tsunami susulan, jelasnya.

Buka Isolasi di Ujung Kulon

Sementara itu, Polri masih berupaya menembus daerah yang terisolir. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, ada sejumlah kampung di sekitar Ujung Kulon yang terputus akses masuknya.

“Jalannya rusak akibat tsunami,” tuturnya.

Hingga kemarin, sebanyak 303 personel Brimob masih berupaya menembus daerah yang belum tersentuh bantuan apapun itu. Dia mengatakan, targetnya secepatnya daerah itu bisa dibantu.

Yang juga penting dilakukan adalah menyelidiki kerusakan alat pendeteksi tsunami. Polda Banten bersama BMKG akan menelusuri peralatan mana yang mengalami kerusakan.

“Kita lihat posisinya alat di mana, perairan mana,” paparnya.

Setelah itu, akan didalami kemungkinan kerusakan alat tersebut, apakah akibat alam atau manusia.

“Ini yang perlu diketahui,” terangnya.

Ditambahkan, Polri juga berupaya menjaga keamanan perayaan Natal di setiap gereja di Pandeglang.

“Kami tetap siapkan pasukan untuk di setiap gereja, walau lokasinya baru saja terkena tsunami,” ungkapnya.

Khusus di daerah di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, sudah berhasil dijangkau petugas.

Sebelumnya, akses terputus karena kerusakan jalan dan jembatan. Petugas dan alat berat sudah beroperasi di Sumur. Tercatat lebih dari 36 orang meninggal dunia dan 476 orang luka di Sumur.

“Evakuasi akan dilanjutkan besok pagi,” terangnya.

Hingga kemarin, listrik di sebagian daerah masih padam. Sebanyak 125 gardu belum berfungsi. Semula ada 150 unit gardu yang padam. Perbaikan yang dilakukan kemarin tidak optimal karena ada isu tsunami susulan. Sebanyak 187 personel dan alat berat dikerahkan untuk memulihkan jaringan PLN.

Di sisi lain, Polda Banten bersama BMKG akan menelusuri peralatan mana yang mengalami kerusakan. Setelah itu, akan didalami kemungkinan kerusakan alat tersebut, apakah akibat alam atau manusia. Polri juga terus berupaya menjaga keamanan perayaan.

Terpisah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), merespons cepat berkenaan dengan musibah Tsunami Selat Sunda.

Untuk membantu para korban, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo mengirim Tim Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Pusat untuk membantu pengungkapan identitas korban. Tim ini juga nantinya akan mengeluarkan masalah yang terkait dengan kependudukan yang hilang karena masalah administrasi bagi masyarakat yang tertimpa musibah.

“Dukcapil, Kemendagri telah menerima Tim yang membutuhkan Dewan Pusat dan Daerah di Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang untuk mendukung pengaduan identitas korban meninggal maupun luka-luka. Saat ini Dinas Dukcapil Serang maupun Pandeglang telah siaga di kantor dan sebagian sudah ada di lapangan,” kata Tjahjo, Selasa (25/12).

Dikatakan, tugas utama dari Tim Dukcapil Pusat yang utama adalah jaringan dan akses biometrik untuk keperluan persetujuan para korban di lapangan. Tjahjo juga mengatakan kepada jajarannya untuk gotong-royong saling membantu. Operasi yang dilakukan Kemendagri ini juga melibatkan Kepala Dinas Dukcapil Pandeglang dan Serang melalui Tim Teknis yang ada di Daerah.

“Posko Kemendagri dan pemerintah daerah juga menyediakan bantuan kue kering, mi instan, telur, susu kental, dan bahan pokok lainnya sebagai kebutuhan pokok masyarakat yang tertimpa musibah saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Kemendagri, Bahtiar menjelaskan, tim yang diterjunkan Kemendagri nantinya akan berkoordinasi dengan Polri dan Pemerintah Daerah setempat untuk memfasilitasi korban dan membantu menerbitkan dokumen kependudukan.

Tim Dukcapil Kemendagri akan membantu Tim DVI dan Inafis untuk membantu korban sekaligus membantu mengeluarkan dokumen korban yang hilang,” kata Bahtiar di Jakarta.

Tim Terpadu tersebut merupakan Tim yang terdiri dari ASN Kemendagri dari unsur Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah dan Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa yang berjumlah 11 orang untuk lokasi Banten dan 8 orang untuk lokasi Lampung. Tim terpadu telah dilengkapi dengan peralatan lengkap yang siap bekerja tanpa merepotkan pemerintah daerah setempat.

Tim sudah dilengkapi dengan peralatan lengkap. Kami jamin tim siap bekerja dan tidak merepotkan pemerintah daerah setempat,” tambah Bahtiar.

Setiap korban yang telah teridentifikasi, lanjut Bahtiar nantinya akan langsung diterbitkan akta kematian oleh Tim Dukcapil Kemendagri. Dalam pelaksanaanya nanti, Tim Dukcapil akan membuka posko di tiga lokasi.

“Tiga posko yang akan kami buka adalah Posko di Dukcapil Serang, Dukcapil Pandeglang, dan Dukcapil Lampung Selatan. Kami berharap, respons yang diberikan oleh Kemendagri ini akan sedikit meringankan beban masyarakat yang mengeluarkan bencana tsunami,” tukas Bahtiar. (rba/tim/fin/ful)

Rekomendasi Berita