oleh

Gowes, Kapolsek Dapati Gubuk Reot

LINGGAUPOS.CO.ID – Tim Gowes Empat Lawang yang diketuai Kapolsek Tebing Tinggi, Kompol Asep Sumpena rutin gowes bareng mengelilingi Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.

Selain gowes, kapolsek juga patroli Kamtibmas dan bersosialisasi dengan warga di desa-desa yang dilewatinya.

Namun, Sabtu (20/3/2021) di Desa Sugiwaras, rombongan gowes mendapati sebuah gubuk reot. Pemiliknya adalah Nenek Sugiyem yang sudah berusia 90 tahun.

“Saya melihat nenek itu duduk sendirian di depan pintu rumahnya. Saya datangi dan ternyata rumahnya seperti gubuk yang sangat tidak layak,” kata Kapolsek Tebing Tinggi, Kompol Asep Sumpena didampingi Mulihandi dari Dinsos Empat Lawang, Senin (22/3/2021).

Saat ditanya, nenek itu masih sehat dan memiliki lima anak. Dulu dia tinggal bersama anak perempuannya, namun anaknya sekarang sudah ikut suami ke Surabaya.

“Kami mengharapkan nenek itu bisa mendapat bantuan dari pihak desa ataupun pemerintah untuk keperluannya sehari-hari,” harapnya.

Nenek Sugiyem saat ditanya mengatakan, dirinya warga asal Wonogiri, Jawa Tengah namun sudah menetap di Dusun 3, Desa Sugi Waras puluhan tahun.

Ia memiliki lima anak sedangkan suaminya sudah meninggal sekitar 15 tahun lalu.

“Saya tidur, masak di rumah ini. Rumah di samping itu punya anak saya. Tapi saya tidak mau menempatinya, tidak mau merepotkan. Rumah itu sekarang kosong karena anak saya sudah ikut suaminya ke Surabaya. Mungkin lebaran nanti pulang,” kata Sugiyem.

Anaknya yang bungsu, yang bekerja tani masih sering mengurusinya dan memberikan kebutuhan dapur. “Ada anak saya yang sering kasih sembako. Kalau dikasih saya ambil, tapi saya tidak mau minta-minta,” kata Sugiyem.

Mengenai bantuan dari pemerintah, dirinya mengaku belum dapat. Dulu anaknya yang perempuan dapat. Tapi karena sudah pindah ke Surabaya, sehingga bantuan tidak dapat lagi.

Tetangga Sugiyem, Jon Kenedi menjelaskan, sepengetahuannya nenek Sugiyem tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah. KK dan KTP-nya juga tidak ada sehingga bantuan tidak terdata.

“Sudah lama dia tinggal disini, sudah puluhan tahun. Kalau dulu dia masih kuat sering pergi cari sayuran. Tetangga sering kasih bantuan ala kadarnya,” kata Jon.

“Dulu nenek sering ambil sayuran daun pakis. Dapat satu atau dua  ikat sayuran dijual, hasilnya bisa belanja ke warung beli kebutuhan dapur. Anaknya masih ada. Tapi dia betah tinggal di rumah itu,” katanya.

Terpisah, Pjs Kades Sugiwaras, Farida Ariani menerangkan, dulu anak Sugiyem dapat bantuan PKH. Karena nenek itu satu rumah dengan anaknya atas nama Sumarni. Tapi sekarang sudah pisah.

“Nanti saya lihat sendiri dan saya cek masuk tidak di data bantuan 2021 ini. Karena sekarang sedang pendataan baru. Kalau pendataan lansia yang mendapat bantuan kemarin, dia tidak masuk. Tapi nanti kami usahakan supaya masuk data BLT DD,” jelasnya. (*)

Rekomendasi Berita