oleh

Garuda Muda Berharap dapat Tempat Latihan Baru

JAKARTA – Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia U-22 hingga kini terus menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta.
Namun sudah memasuki pekan ketiga ini, skuad Garuda Muda harus berjuang keras selama menjalani pelatnas. Hal tersebut, lantas mereka harus terus beradaptasi dengan jadwal latihan yang kerap berubah-ubah.

Sejak memulai pelatnas pada 7 Januari 2019 lalu, Todd Ferre dan kawan-kawan memang tidak memiliki tempat latihan permanen. Garuda Muda kerap berpindah-pindah tempat dan juga jadwal latihan yang kerap berubah-ubah.

Awalnya mereka melakoni agenda latihan tersebut di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta. Namun, menginjak seleksi pekan kedua hingga kini, Timnas Indonesia U-22 berpindah lokasi latihan di Stadion Madya.

Namun sayang, dua tempat itu memiliki waktu yang berbeda untuk Garuda Muda menggelar latihan. Di Lapangan ABC, Timnas U-22 berlatih pukul 06:30 WIB. Sedangkan di Stadion Madya, Timnas Indonesia U-22 harus menggelar latihan lebih molor yakni pukul 08.30. Hal tersebut lantaran, sebelum digunakan oleh Timnas Indonesia U-22, Stadion Madya digunakan Pelatnas Atletik.

Tempat dan waktu berlatih yang kerap berubah-ubah tersebut dinilai membuat para skuad Garuda Muda harus berjuang keras beradapatasi dengan jadwal latihan. Oleh sebab itu, asisten pelatih Timnas Indonesia U-22, Nova Arianto berharap Timnas Indonesia khususnya Timnas Indonesia U-22 memiliki tempat latihan khusus.

Nova menilai, lapangan latihan khusus itu akan memudahkan berbagai aktivitas tim Merah Purtih kedepannya.

“Harapan saya Timnas memiliki lapangan latihan yang representatif dan tidak perlu pindah-pindah. Sedangkan, di sini kita harus adaptasi waktu. Terakdang kita harus datang jam 7, tidak jarang kita juga harus memulai berlatih jam setengah 9,” ungkap Nova Arianto usai menggelar sesi latihan di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Kamis (24/1) kemarin.

Sebenarnya, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sempat membangun National Youth Training Center di kawasan Sawangan, Depok. Namun fasilitas itu jarang sekali dipakai. Lebih sering digunakan untuk pelatnas Timnas Sepak Bola Wanita.

Tak jarang, PSSI lebih memilih lapangan latihan di kawasan SUGBK untuk persiapan Timnas Sepak Bola Putra Indonesia. Sebenarnya, fasilitas tempat latihan di SUGBK cukup baik, namun tempat-tempat itu harus terlebih dulu adu sikut dengan masyarakat umum. Seperti contohnya di Lapangan ABC yang kerap digunakan oleh masyarakat umum selepas Asian Games 2018.

“Semoga ke depannya kita memiliki lapanan latihan yang lebih baik, agar Timnas sepak bola kita bisa bermain lebih maksimal. Untuk fasilitas lainnya (di kawasan SUGBK) sebenarnya baik, hanya saja lapangannya (yang kurang baik),” tutur Nova.

Nova mengkhawatirkan adanya kebosanan dari para pemain skuat Garuda Muda yang sudah dua pekan lebih ini terus mengulangi rutinitas yang sama setiap harinya. Meski demikian, hingga saat ini kata Nova, tidak ada pemain yang mengeluhkan sola adaptasi waktu dan lapan latihan tersebut.

“Kita bersyukur, hingga saat ini mereka (pemain timnas Indonesia U-22) tidak pernah mengeluhkan sola tempat latihan. Justru kami senang, karena mereka terus berlatih dengan semangat. Bahkan, mereka juga bisa melakukannya (beradaptasi) dengan baik,” terang Nova.

Tempat latihan di Kawasan SUGBK, sebelumnya pernah dikeluhkan oleh palatih utama, Indra Sjafri. Pelatih yang kini sedang mengejar lisensi kepelatihan AFC Pro di Spanyol itu lebih mengeluhkan kondisi Lapangan ABC.

Menurut pelatih berusia 55 tahun yang pernah sukses membawa Timnas Indonesia U-19 menjuarai turnamen Piala AFF U-19 2013 itu kondisi lapangan ABC yang sempat dipakai untuk menggembleng para pemain timnas Indonesia U-22 kurang layak pakai.

“Namun, (kondisi lapangan) ini yang menjadi masalah kita. Mungkin karena lapangan ini dapat dipakai masyarakat umum. Dan itu kita maklum, karena timnas tidak memiliki lapangan latihan sendiri,” tutur Indra Sjafri beberapa waktu lalu.

Situasi itu yang membuat Indra Sjafri mempertimbangkan untuk menggunakan Stadion Madya GBK sebagai tempat persiapan. Akan tetapi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Indra jika memakai stadion yang sejatinya ditujukan untuk atletik tersebut.

“Kalau di Madya, waktu berlatih dibatasi hanya pada pukul 09.00-11.00 WIB dan malam hari saja,” tuturnya.

Kesulitan Pilih Penjaga Gawang Utama

Sementara itu, pelatih penjaga gawang Timnas Indonesia U-22, Hendro Kartiko mengaku bahwa dirinya kebingungan untuk memilih kiper utama skuad Garuda Muda.

Menurutnya, empat penjaga gawang di Timnas Indonesia U-22 saat ini yaitu, Satria Tama (Madura United), Nadeo Argawinata (Borneo FC), Muhammad Riyandi (Barito Putera) dan Awan Setho Raharjo (Bhayangkara FC) telah meunjukkan performa yang cukup baik selama menjalni pelatnas.

“Hingga kini, perkembangan keempat kiper sudah cukup baik, mereka semua sudah bisa menyerap filosofi permainan yang diinginkan oleh Coach Indra. Selanjutnya kita harus melakukan penekanan lagi, karena hingga saat ini kita belum bisa menentukan siapa yang cocok (menjadi kiper utama), karena mereka semua terlihat sangat bagus,” terang Hendro.

Meski demikian, Hendro tidak memungkiri bahwa keempat penjaga gawang itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, hal itu menurut Hendro, akan segera diperbaikinya menjelang tampil di Piala AFF U-22 2019 yang akan berlangsung di Kamboja, 17 Februari, mendatang.

“Mental mereka sangat bagus, mungkin karena mereka masih beberapa kali main di liga. Namun, setiap kiper berbeda. Rata-rata yang memiliki postur tinggi memiliki agility-nya kurang. Sedangkan, kiper yang kurang tinggi ada yang bagus. Pada masa persiapan ini, kami akan tekankan porsi latihan agar seluruhnya berimbang,” tukas Hendro.

Seperti diketahui, pelatnas timnas Indonesia U-22 ini sebagai persiapan menjelang Piala AFF U-22 2019 di Kamboja. Dalam kejuaraan itu, skuat Garuda Muda tergabung di Grup B bersama, Myanmar, Malaysia dan tuan rumah Kamboja.(gie/fin/wsa)

Rekomendasi Berita