oleh

Gara-gara Berita Covid19, Wartawan di Muratara Dikeroyok

LINGGAUPOS.CO.ID- Seorang wartawan di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mengaku mendapat perlakuan yang tak mengenakkan.

Wartawan media lokal di ‘Bumi Beselang Serundingan’ ini diduga menjadi korban pengeroyokan oleh tiga orang yang tidak dikenalinya. Wartawan tersebut bernama Abdul Majid (45), warga Desa Lubuk Kemang, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Muatara.

Dia dikeroyok saat hendak membeli makanan menjelang berbuka puasa, Rabu (13/5/2020) kemarin sekitar pukul 17.30 WIB. Kejadian pengeroyokan itu terjadi dalam perkampungan Desa Remban, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Muatara.

Abdul Majid menceritakan, awalnya dia mengendarai mobil sendirian hendak mencari jualan makanan untuk berbuka puasa. Tiba-tiba dipepet dan diminta berhenti oleh seorang pria mengendarai sepeda motor yang belakangan diketahui bernama RG.

“Saya tidak kenal dengan dia. Mobil saya dipepet, dihadangnya pakai motor, saya berhenti,” kata Abdul Majid, Kamis (14/5/2020).

Lalu Majid turun dari mobilnya dan menanyakan mengapa ia diberhentikan, sedangkan ia tidak punya masalah orang orang tersebut. Kata Majid, pelaku sedang mencari wartawan yang memberitakan keluarganya yang dinyatakan reaktif rapid test corona, Jumat (8/5/2020) pekan lalu.

“Katanya ayuknya dijauhi orang gara-gara berita itu, dia tidak senang. Saya jawab, saya memberitakan itu berdasarkan rilis pers gugus tugas Covid-19 Muratara,” ujar Majid.

Keduanya sempat cekcok mulut, lalu datanglah dua orang teman pelaku dan langsung mencekik serta memukul korban dengan tangan kosong. Beruntung ada warga yang melerai pengeroyokan itu, sehingga tidak terjadi kejadian yang lebih parah.

Korban lalu pulang ke rumahnya dan memberitahukan kepada keluarganya tentang kejadian yang menimpanya itu. Korban meminta pendampingan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Muratara untuk melapor ke kantor Polsek Rawas Ulu.

Kapolsek Rawas Ulu, AKP Ujang AR mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan dari korban dan akan segera diproses. “Laporannya sudah kami terima, masih kita proses. Kondisi korban sehat, tapi katanya agak sesak dan sakit di tenggorokan, sakit kepala juga,” ujar Kapolsek.

Ketua PWI Kabupaten Muratara, Marwan Azhari menegaskan, PWI menolak keras aksi anarkisme dan pelecehan demokrasi pers di wilayah Muratara. “Ini membunuh kebebasan pers di Muratara, kami minta pihak kepolisian untuk secepatnya menindaklanjuti laporan itu,” pintanya.

Menurut dia, aksi menghalang-halangi kebebasan pers bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers. Dalam Pasal 4 secara tegas menyebutkan bahwa pers nasional berhak mencari, memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan informasi.

Sementara pada Pasal 18 mengatur bahwa setiap orang yang menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik akan diancam pidana maksimal dua tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta.

“Selain masuk ke ranah KUHP, itu juga masuk ke undang-undang pers, karena menghalang-halangi kebebasan pers,” tegasnya.(*)

Sumber Tribunsumsel.com

Rekomendasi Berita