oleh

Gaji Guru Indonesia Terendah di Asia Tenggara

736 Ribu Honorer Diupah Ratusan Ribu Rupiah
LINGGAU POS ONLINE – Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim di Hari Guru Nasional (HGN) terus mendapat respon. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih menyayangkan, pidato Nadiem yang belum menyentuh persoalan guru di Indonesia. Terlebih, upah guru di Indonesia, yang paling rendah di Asia Tenggara.

Dia menilai, pidato yang disampaikan memiliki maksud yang baik. Yakni, agar meningkatkan awareness guru terhadap anak didiknya. Tapi persoalan guru nasional saat ini masih mengkhawatirkan.

Pihaknya masih menunggu terobosan nyata. Ia juga mengomentari pidato Nadiem menyambut HGN yang bertepatan pada 25 November dan diunggah di akun resmi kemendikbud tersebut.

Memang ada problem kurikulum yang sulit diikuti guru dan murid. Selain itu juga bongkar pasang kebijakan seolah semua pendidik dipaksa bereksperimen,” ucap politisi PKS ini di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Namun, menurut Fikri, saat ini posisi Nadiem adalah pembuat kebijakan yang tugasnya menemukan solusi atas beragam permasalahan pendidikan. Khususnya terkait guru.

“Masalah guru di Indonesia mulai dari jumlah, kualitas, sampai kesejahteraan pendidik itu mestinya jadi prioritas,” imbuhnya. Menurut data Kemendikbud RI, secara nasional tahun ini terdapat kekurangan 746.121 guru di sekolah negeri seiring adanya 62.759 guru yang akan pensiun.

Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat. Pada tahun 2021, jumlah guru pensiun mencapai 69.757. Bahkan, dalam satu kesempatan, mantan Mendikbud Muhajir Efendi pernah meminta para guru yang sudah pensiun tahun ini agar tetap mengajar, sampai guru pengganti ada.

“Kondisi ini menunjukkan sudah darurat pasokan guru,” paparnya.

Selain itu, masih terdapat 1,62 juta guru yang belum tersertifikasi. Padahal sertifikasi bertujuan agar guru memiliki kualitas akademik dan kompetensi yang mumpuni. “Target dirampungkan tahun ini sulit tercapai,” ucap Fikri. Terkait kesejahteraan guru, saat ini masih terdapat 736 ribu guru honorer dengan upah hanya beberapa ratus ribu rupiah.

“Jauh di bawah upah minimum provinsi dan kabupaten kota,” sambung Fikri.

Skema pemerintah yang dijanjikan di depan DPR beberapa waktu lalu adalah diangkat menjadi CPNS bagi yang masih berusia di bawah 35 tahun. Selain itu, diangkat menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K).

“Namun pengangkatan P3K ini mesti melewati penganggaran di APBD masing-masing daerah. Artinya paling cepat tahun depan terealisasi,” urainya.

Upah guru di Indonesia, tambah Fikri juga termasuk yang paling rendah di Asia Tenggara. “Dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei, dan bahkan Filipina, gaji guru kita paling rendah,” tukasnya.

Data Unesco menyebutkan besaran gaji guru di Singapura mencapai Rp57 juta per bulan. Di Brunei mencapai Rp24 juta per bulan, Malaysia Rp22 juta per bulan, Thailand Rp12 juta per bulan. Di Filipina minimal Rp10 juta per bulan.

“Di Indonesia saya pikir tidak cukup dengan minimal UMK atau UMP. Yang layak itu gaji guru minimal dua kali UMK,” cetusnya.

Di hari guru ini, menurut Fikri, yang mesti ditegaskan adalah kejelasan atas nasib guru. “Ada kaitan kuat dengan penganggaran. Sebutkan besaran anggaran pastinya. Kami siap bahas di DPR,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, meskipun sudah 25 tahun memperingati HGN, kesejahteraan guru masih menjadi isu nasional yang tidak kunjung terselesaikan. Ia mengkritisi pidato Nadiem Makarim.

“Saya melihat, kesejahteraan guru juga belum menjadi perhatian utama. Dari teks pidato yang beredar di media, saya perhatikan Mendikbud lebih banyak memberikan arahan ketimbang penghargaan kepada para guru,” kata Fadli.

Menurutnya, semangat utama peringatan hari guru bertujuan agar semua pihak, terutama pemerintah menghormati, mengapresiasi, dan meningkatkan kesejahteraan guru. Sayangnya, pesan yang dimaksud tidak tercermin dalam pidato Mendikbud. (*)

Sumber: Fajar Indonesia Network

Rekomendasi Berita