oleh

Gadis Lubuklinggau Jadi Korban Abruknya Gedung BEI

JAKARTA – Diantara 72 korban ambrolnya selasar lantai II Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, 17 diantaranya mahasiswi Fakultas Ekonomi Semester V Universitas Bina Dharma (UBD) Palembang. Dan seorang dari mereka berasal dari Kota Lubuklinggau.

Yakni mahasiswi atas nama Miranda. Berdasar data yang dihimpun Linggau Pos dari berbagai sumber, Miranda tercatat lahir di Kota Lubuklinggau, 13 November 1997 lalu. Dan saat ini ia tinggal di Jalan Naskah II RT -31, Kelurahan Sukarami, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang.

Miranda dan 16 rekannya kini dirawat intensif di Rumah Sakit Minto Harjo. Sebab gadis 20 tahun itu mengalami luka di bagian kepala. Juga kaki kanan lecet akibat terjatuh bersamaan dengan ambrolnya Selasar Lantai II Gedung Tower II BEI, Jl Jenderal Sudirman Kv 52-53, Kelurahan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pukul 12.10 WIB, Senin (15/1).

Sejak tersiarnya kejadian itu, Universitas Bina Darma, Palembang, menggelar rapat bersama orang tua mahasiswa yang menjadi korban ambruknya selasar di Tower II gedung Bursa Efek Indonesia. Para orang tua mahasiswa mendatangi kampus untuk mengetahui nasib anaknya.

Pantauan di Universitas Bina Darma, Senin (15/1), pihak administrasi kampus tampak sibuk melayani orang tua mahasiswa yang menjadi korban ambruknya selasar Tower II gedung BEI. Sementara itu, suasana kampus tampak sepi karena mahasiswa sedang libur semester.

“Pertemuan hanya untuk bahas nasib anak-anak sama kampus, mau minta pertanggungjawaban dan menanyakan kapan dipulangkan ke Palembang,” kata salah satu orang tua yang tidak ingin disebutkan namanya di gedung utama UBD.

Sebanyak 93 mahasiswa dan 4 dosen pendamping Universitas Bina Darma melakukan kunjungan industri, salah satunya ke BEI. Selain itu, para mahasiswa semester V jurusan akuntansi tersebut juga direncanakan melanjutkan kunjungan ke Lombok.

Menurut agenda, mahasiswa tersebut direncanakan bertemu dengan pihak BEI pada pukul 13.30 WIB hari ini. Namun, pada pukul 12.10 WIB selasar di gedung BEI ambruk dan membuat mahasiswa jadi korban.

Universitas Bina Darma menyatakan akan bertanggung jawab atas musibah tersebut. Sebanyak 35 mahasiswa yang selamat akan dipulangkan ke Palembang secepatnya. Sedangkan korban luka akan dirawat di Jakarta hingga sembuh.

“Untuk sementara ini kegiatan kunjungan telah kita hentikan, ada 35 mahasiswa yang selamat dan akan segera dipulangkan. Sedangkan yang mengalami luka serius akan dirawat dulu di Jakarta dan kami bertanggung jawab atas insiden ini,” kata perwakilan pihak Universitas Bina Darma Palembang, Robinal Ibnu Zainal.

Pukul 17.00 WIB sebagian dosen dan Ketua Program Studi (Prodi) juga langsung terbang ke Jakarta untuk memastikan kondisi 17 mahasiswi yang jadi korban dalam insiden tersebut.

Sejak 1998 Belum Pernah Direnovasi

Selasar Tower II gedung BEI ambruk dan menelan puluhan korban luka. Bagaimana analisis dari ambruknya selasar di gedung yang berusia 20 tahun itu?

Ahli Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), Profesor Iswandi Imran mengatakan, untuk mengetahui pasti penyebab ambruknya selasar, harus dilakukan analisis lebih jauh. Analisis bisa dilakukan dalam kurun satu bulan ke depan.

“Paling sebulanlah. Materialnya diambil, dikumpulkan, dikaji secara mikroskopis. Ada luka lama apa nggak. Material (bangunan) juga sama kayak manusia, bisa mengalami luka lama. Lukanya itu tidak terjadi sekaligus, tapi bertahap,” kata Iswandi, kemarin.

Iswandi, yang di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB masuk Kelompok Keahlian Rekayasa Struktur, menjelaskan setiap bahan bangunan sudah seharusnya dirawat secara rutin. Apabila perawatan konsisten dilakukan, umur bangunan bisa lebih panjang.

“Dari video, dari foto-foto (BEI), kesannya runtuhnya tiba-tiba. Kalau tiba-tiba tanpa tanda-tanda, langsung bruk gitu. Kalau keberatan, menurut saya, nggak juga. Kalau ngeliat di video beban yang bekerja standar saja ya,” ujar lulusan University of Toronto, Kanada, itu.

“Beban itu mestinya sudah diperhitungkan dalam desain dalam perencanaan. Itu biasanya di area publik, bebannya sampai 500 Kg/m2, artinya dalam 1 m2 bisa dalam 8 orang. Tadi kan kurang dari 8. Kecuali kalau ada kesalahan desain ya,” bebernya.

Menurut Iswandi, analisis bisa dilakukan dengan melakukan forensik studi dan forensik analisis melalui pengumpulan fakta-fakta di lapangan.

“Tapi misal ada baut atau angkur yang lepas, entah patah atau apa. Itu yang harus dipelajari. Penyebabnya bisa perilaku yang degradasi pada sistem akibat umur, lingkungan, beban berulang. Atau apa pun,” jelas Iswandi.

Selain perawatan, hal yang harus diperhatikan adalah kemungkinan adanya fatigue (kelelahan) dari bangunan tersebut.

“Bisa juga karena fatigue (kelelahan). Karena beban berulang dan ekstrem. Kita juga kalau terus kerja lama-lama fatigue juga. Kalau kita ada obatnya, Fatigon. Harusnya dibatasi, tegangannya tidak berlebihan, sehingga umur fatigue-nya bisa panjang. Ini yang harus dikaji secara mendalam,” jelasnya.

Pihak pengelola gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut Tower II lokasi ambruknya selasar belum pernah direnovasi. Tower II dibangun pada 1997-1998.

“Untuk daerah sana (Tower II) nggak ada,” kata Director of Cushman & Wakefield Indonesia Farida Riyadi di gedung BEI, Senin (15/1) kemarin.

Bursa Efek Indonesia atau Indonesia Stock Exchange (IDX) sebelumnya dikenal sebagai Bursa Efek Jakarta (BEJ). Namun, sejak digabungkan dengan Bursa Efek Surabaya (BES) pada 2007, namanya menjadi BEI.

Pembangunan Tower I dan podium BEI selesai pada 1994, sedangkan Tower II selesai pada 1998. Manajemen pembangunan adalah PT First Jakarta International, dengan luas area proyek 25.280 meter persegi.

Pembangunan gedung Bursa Saham (IDX) Indonesia, sebelumnya dikenal sebagai Bursa Efek Jakarta (JDX), dikenal sebagai ikon menara kembar, tempat beroperasinya perusahaan kelas dunia, seperti lembaga keuangan multinasional dan perusahaan energi. Keberadaan BEI mengubah SCBD sebagai pusat keuangan dan bisnis terkemuka di Jakarta.

Namun pemeriksaan terhadap bangunan BEI itu dipastikan Farida dilakukan berkala setiap tahunnya. Pemeriksaan terakhir dilakukan pada Mei 2017. Ada 20 penyewa (tenant) pada Tower II.

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan tim Puslabfor masih melakukan analisis hasil pemeriksaan sementara. Namun, mengutip keterangan pihak pengelola gedung BEI, Setyo menyebut setiap tahun dilakukan pengecekan layak fungsi.

“(Menurut) Bu Farida, gedung dari tahun 1997-1998 sampai saat ini tidak pernah ada renovasi. Tiap tahun cek surat layak fungsi,” ujar Setyo.

Akibat ambruknya selasar pada pukul 11.56 WIB tadi, ada 72 orang yang terluka. Kebanyakan korban luka merupakan mahasiswa Universitas Bina Darma, Palembang, yang sedang melakukan kunjungan.

Para korban ditangani sejumlah rumah sakit yakni RS Pusat Pertamina, RS Jakarta, RS Siloam, dan RSAL Mintohardjo. Lima orang diantaranya sudah diperbolehkan pulang.

“Saya belum memberikan keterangan pasti, karena Puslabfor besok menguji lagi, melakukan penelitian-penelitian yang terkait dengan kemungkinan-kemungkinannya,” kata Setyo menjawab pertanyaan soal dugaan penyebab ambruknya selasar.

Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri masih menyelidiki dugaan penyebab ambruknya selasar gedung BEI. Yang di bawahnya, terdapat Kantor KCP BCA, Ruang Pers dan Ruang Perdagangan. Penyelidikan di lokasi dilanjutkan besok (hari ini,red).

Dirut BEI Kaget dan Ikut Mengevakuasi

Kejadian itu juga mengejutkan Direktur Utama BEI Tito Sulistio. Saat itu Tito tengah berada di ruangannya yang berada di lantai 6 Tower 1 Gedung BEI dan hendak pergi untuk bertemu dengan Duta Besar Belgia.

“Saya pas mau janjian makan dengan Dubes Belgia sekaligus saya minta maaf dengan beliau. Tahu-tahu ada bunyi duar. Nyaris seperti ledakan. Saya keluar lalu lari,” tuturnya di Kawasan SCBD, Jakarta, kemarin.

Saat Tito sampai di titik kejadian, Tito mengaku kaget melihat korban-korban kejadian tersebut. Bahkan dia sempat ikut membantu mengevakuasi para korban.

“Awalnya ragu-ragu juga ada orang luka, tapi ya saya angkatin saja orang-orang luka itu. Rata-rata luka berdarah, ada 3-5 orang luka patah-patah tulang,” tuturnya.

“Saat ini korban rata-rata dibawa ke RS Siloam dan RS Jakarta. Mudah-mudahan bisa sembuh,” tandasnya.

*** Pengobatan Ditanggung BPJS Ketenagakerjaan

BPJS Ketenagakerjaan memastikan akan menanggung seluruh segala biaya perobatan korban robohnya selasar di tower II Gedung BEI, Sudirman,

Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif menyampaikan prihatin atas kecelakaan yang menimpa para korban. Mengingat, mayoritas korban tersebut adalah para pekerja.

“Kami siap menanggung biaya pengobatan bagi para pekerja yang terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan,” kata Krishna, Senin (15/1) di Jakarta.

Hingga saat ini, BPJS Ketenagakerjaan juga masih menghimpun data para korban dan melakukan kroscek di lapangan untuk memastikan data pada para peserta BPJS Ketenagakerjaan yang menjadi korban pada peristiwa ini.

“Nantinya kami juga mengharapkan laporan dari pihak HRD perusahaan yang terdaftar di program BPJS Ketenagakerjaan di mana karyawannya menjadi korban pada peristiwa ini untuk melaporkan segera agar dapat diproses lebih lanjut untuk tindakan medisnya,” ujar Krishna.

BPJS Ketenagakerjaan juga akan memberikan santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) jika terdapat korban dalam kondisi yang cukup parah sehingga menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk pemulihan dalam proses perawatan sebagai pengganti penghasilan dalam kondisi tidak bekerja. (05/Net)

Komentar

Rekomendasi Berita