oleh

Gadis Lesbi Kian Berani

Insaf Usai Menikah

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Kekhawatiran orang tua akan pergaulan putra-putrinya patut jadi perhatian. Sebab kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender/Transeksual (LGBT) kian menjadi. Dan kini cara mereka menunjukkan diri tak lagi ditutup-tutupi.

Tim investigasi Linggau Pos, Rabu (17/1), membuktikan LGBT benar-benar ada di Lubuklinggau. Itu diakui oleh seorang mantan gadis lesbian, NY (22).

“Saya mulai menyukai sesama jenis itu kelas XII. Dan pasangan saya itu, teman satu sekolah. Kebetulan saya SMA di Kota Lubuklinggau,” jelasnya mengawali perbincangan.

Keterlibatannya menjadi penyuka sesama jenis, diawali dengan rasa penasaran dan ingin coba-coba, dan karena bergaul dengan orang-orang yang seperti itu.

“Nah dari rasa penasaran dan ingin coba-coba akhirnya ikut-ikutan ‘Belok’ (Istilah yang dipakai untuk menunjukkan seseorang itu pro lesbian),” katanya.

Ia juga menjelaskan, banyak nama atau sebutan untuk perempuan lesbian, pertama sebutan Butchy adalah untuk sosok perempuan yang maskulin dan selalu berpenampilan lelaki  dan berperan sebagai laki-laki (sekalipun kelaminnya perempuan).  Kedua ada yang disebut Femme untuk sosok lesbian yang berpenampilan feminim dan berperan sebagai wanita. Ada lagi sebutan Andro yang bisa dua-duanya kadang bisa jadi wanita bisa juga berperan sebagai pria.

“Dan waktu itu saya jadi sosok femme (wanita),”akunya dengan nada polos.

NY mengatakan, saat menjalin kasih dengan sesama jenis, ia menilai pasangannya  lebih perhatian dan benar-benar bertindak layaknya lelaki.

“Pokoknya kaya pacaran pada umumnya cewek dan cowok,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan banyak teman-temannya yang terlibat dalam kondisi ini (jadi lesbian,red) karena sakit hati dengan lelaki, broken home dan ada karena tertular dari pergaulan.

“Hingga saat ini ada beberapa teman saya dulu yang masih jadi belok, ada yang sudah menikah normal  dan sudah punya anak. Seperti saya, alhamdulillah saya sudah menikah dan saya sangat mencintainya. Perubahan saya ini berkat dukungan teman-teman  saya di tempat kerja, support mereka yang semakin membuat saya yakin ingin berubah,” jelasnya.

NY pun mengaku dirinya mulai berubah sejak lulus SMA dan jarang bergaul dengan teman-teman lama. Dan ia sadar bahwa Allah SWT menciptakan manusia itu berpasang-pasangan. Dan bukanlah sejenis.

“Kalo mau berubah dan insaf harus ada niat yang kuat, pasti bisa berubah,” tutur Ny.

Menurut NY, sebagian lesbian menyebut memiliki pasangan sesama wanita dinilai lebih baik dibanding berpasangan dengan lelaki.

“Kan lebih aman dan nggak hamil, ke mana-mana tidak dilarang-larang. Karena kalau tiba-tiba pasangan jemput, orang tua nggak mungkin nggak ngizinin. Kan setahu orang tua temenan sesama wanita itu biasa. Padahal sebenarnya bisa lebih jauh dari itu. Kebanyakan teman kami dulu  daripada menjalin kasih dengan lawan jenis, lebih tidak aman dan bisa hamil,” imbuh NY.

Menurut NY, selama menjalani hari-hari sebagai wanita lesbi ia mengaku beruntung belum terjerumus sampai pada tahap hubungan intim layaknya pasangan normal.

“Ada sih coba-coba kissing. Tapi tidak sampai berhubungan intim. Dan setahu saya, anak-anak yang banyak terjebak pada komunitas ini pelajar SMP dan SMA. Seperti waktu saya dulu,” jelasnya.

Mendengar penuturan NY itu, Psikolog Irwan Tony mengaku prihatin.

“Sebenarnya, anak terjebak jadi LGBT itu bisa dikarena faktor biologis. Karena hormon. Tapi ini masih jadi perdebatan. Kedua, trauma. Misalkan pernah disakiti oleh figur penting di dalam keluarga. Entah itu kakek, nenek, orang tua atau kakak dan adik, dan bisa juga karena lawan jenis dari pacar-pacarnya terdahulu yang mengakibatkan trauma padanya, sehingga merasa lebih nyaman dengan sesama jenis,” terang Irwan Tony.

Faktor penyebab ketiga adalah pergaulan.

“Di sini mereka sebenarnya normal, artinya tidak membawa hormon genetika tersebut seperti nomor 1 tadi.  Tetapi karena pergaulan akhirnya ia terbawa. Dan itu masuknya ke dalam teori dasar psikologi. Jadi yang tadinya tidak seperti itu, tapi karena adanya proses pembelajaran lingkungan maka ia jadi seperti itu,” terangnya.

Untuk bisa lepas dari komunitas LGBT dan kembali pada jalan yang benar, kata Irwan Tony, orang yang sudah terjebak ini harus ada keinginan kuat untuk kembali normal dalam relasi seksual, cari pergaulan yang positif, dan mau berbagi ketika ada masalah terutama ke orang tuanya.

Memang, kata Irwan Tony, susah untuk mengidentifikasi seseorang yang LGBT baik dia lesbi maupun gay (penyuka sesama laki-laki).

“Kecuali kalau mereka yang mengaku, hanya saja kalau lesbi biasanya mereka selalu berdua ke manapun, bahkan nginap bareng sudah mengarah tertarik secara seksual. Kalau berpasangan ada yang tomboy dan ada yang feminimnya,” terang Irwan Tony lagi.

Lesbian itu, efek negatifnya bisa mengarah kena penyakit HIV/AIDS. Terutama ketika pasangan lesbi atau gay yang sudah tertular. Maka peluang tertular HIV/AIDS akan lebih besar. (AE02/05)

Komentar

Rekomendasi Berita